Hamas Hentikan Sementara Pembicaraan Gencatan Senjata dengan Israel
Senin, 24 September 2018 - 19:17 WIB
Hamas Hentikan Sementara Pembicaraan Gencatan Senjata dengan Israel
A
A
A
GAZA - Hamas mengaku menghentikan sementara pembicaraan gencatan senjata tidak langsung dengan Israel. Hamas menyalahkan pemerintah Palestina atas kebuntuan dalam pembicaraan tersebut.
Pejabat Hamas, Sami Abu Zuhri menyatakan sikap Otoritas Palestina yang terus menolak pembicaraan tersebut menjadi salah satu penyebab tidak adanya kemajuan dalam pembicaraan tidak langsung dengan Israel.
"Sebagai tanggapan, kami akan meningkatkan protes di lokasi baru di sepanjang perbatasan Gaza dengan Israel," kata Zuhri, seperti dilansir Russia Today pada Senin (24/9).
Sementara itu, sebelumnya fraksi Fatah Palestina menuduh pemimpin Hamas berkolusi dengan pemerintah Israel dan meninggalkan prinsip hak untuk kembali. Hamas, menurut Fatah, telah membuat kesepakatan dengan Israel dan juga Amerika Serikat (AS).
Dalam sebuah pernyataan, Fatah mengatakan bahwa gerakan Hamas mengirim pesan ke pemerintah Amerika dan kepada pemerintah Israel, bahwa mereka telah menerima kesepakatan atas dasar sebuah negara di Gaza, yang berada di bawah kendali Hamas dengan gencatan senjata jangka panjang,
"Hamas mengorbankan negara Palestina yang merdeka untuk didirikan dengan dasar perbatasan Juni 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai Ibu Kotanya dan Hak Pengembalian Orang Palestina," kata Fatah.
Fatah kemudian menuturkan, bahwa Presiden Palestina telah menolak proposal AS-Israel yang disebut dengan "kesepakatan abai" atas nama rakyat Palestina. "Tetapi, para pemimpin Hamas bekerja untuk mengirim sinyal kesediaan untuk menerima kesepakatan itu," ucapnya.
Kelompok itu juga menunjukkan bahwa Hamas sedang melaksanakan rencananya, yakni mengeksploitasi fokus publik terhadap pertempuran di Yerusalem dan Khan al-Ahmar, dan di semua tempat terjadi perlawanan terhadap permukiman dan pendudukan.
Pejabat Hamas, Sami Abu Zuhri menyatakan sikap Otoritas Palestina yang terus menolak pembicaraan tersebut menjadi salah satu penyebab tidak adanya kemajuan dalam pembicaraan tidak langsung dengan Israel.
"Sebagai tanggapan, kami akan meningkatkan protes di lokasi baru di sepanjang perbatasan Gaza dengan Israel," kata Zuhri, seperti dilansir Russia Today pada Senin (24/9).
Sementara itu, sebelumnya fraksi Fatah Palestina menuduh pemimpin Hamas berkolusi dengan pemerintah Israel dan meninggalkan prinsip hak untuk kembali. Hamas, menurut Fatah, telah membuat kesepakatan dengan Israel dan juga Amerika Serikat (AS).
Dalam sebuah pernyataan, Fatah mengatakan bahwa gerakan Hamas mengirim pesan ke pemerintah Amerika dan kepada pemerintah Israel, bahwa mereka telah menerima kesepakatan atas dasar sebuah negara di Gaza, yang berada di bawah kendali Hamas dengan gencatan senjata jangka panjang,
"Hamas mengorbankan negara Palestina yang merdeka untuk didirikan dengan dasar perbatasan Juni 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai Ibu Kotanya dan Hak Pengembalian Orang Palestina," kata Fatah.
Fatah kemudian menuturkan, bahwa Presiden Palestina telah menolak proposal AS-Israel yang disebut dengan "kesepakatan abai" atas nama rakyat Palestina. "Tetapi, para pemimpin Hamas bekerja untuk mengirim sinyal kesediaan untuk menerima kesepakatan itu," ucapnya.
Kelompok itu juga menunjukkan bahwa Hamas sedang melaksanakan rencananya, yakni mengeksploitasi fokus publik terhadap pertempuran di Yerusalem dan Khan al-Ahmar, dan di semua tempat terjadi perlawanan terhadap permukiman dan pendudukan.
(esn)