Hadang Rusia di Atlantik Utara, AS Hidupkan Kembali Armada Kedua

Sabtu, 25 Agustus 2018 - 12:21 WIB
Hadang Rusia di Atlantik...
Hadang Rusia di Atlantik Utara, AS Hidupkan Kembali Armada Kedua
A A A
NORFOLK - Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) secara resmi kembali menghidupkan Armada Kedua. Armada ini akan mengintensifkan fokusnya pada Samudra Atlantik Utara di mana militer Rusia beroperasi dengan kecepatan yang tidak pernah terlihat sebelumnya sejak berakhirnya Perang Dingin.

"Kami tidak mencari peperangan," kata Kepala Operasi Angkatan Laut Laksamana John Richardson di atas kapal induk USS George H. W. Bush di Norfolk, Virginia.

"Tapi cara terbaik untuk menghindari peperangan adalah mengembangkan Angkatan Laut yang paling kuat dan mematikan serta kompetitif," imbuhnya seperti dikutip dari Washington Post, Sabtu (25/8/2018).

Richardson menambahkan bahwa jika dibutuhkan, Armada Kedua yang berbasis di Norfolk akan melakukan operasi tempur yang menentukan untuk mengalahkan musuh.

Perubahan terjadi di sebagian besar organisasi. Armada Kedua menghidupkan kembali komando Laksamana yang didedikasikan untuk mengawasi kapal perang Amerika saat mereka menggelar patroli antara Pesisir Timur AS dan Laut Barents, di lepas pantai Norwegia dan Rusia.

Dihidupkannya kembali Armada Kedua juga mencerminkan perubahan yang lebih luar dalam strategi militer AS. Perhatian utama AS ini bergeser dari terorisme di Timur Tengah ke persaingan yang semakin meningkat dengan Rusia dan Cina.

Baik Cina dan Rusia sedang membangun angkatan laut yang lebih besar ketika mencoba memperluas pengaruh globalnya. Dan Rusia khususnya telah meningkatkan patroli kapal selamnya, di antara kegiatan militer lainnya.

Pada 2017, Laksamana Rusia, Vladimir Korolyov mengatakan awak kapal selam negaranya telah menghabiskan lebih dari 3.000 hari dalam patroli di tahun lalu, sesuai dengan tempo operasional era Soviet. Tidak jelas berapa hari kapal selam Rusia telah berpatroli di tahun-tahun sebelumnya.

"Ini tingkat yang sangat baik," katanya dalam pernyataan yang disampaikan oleh kantor berita negara RIA Novosti.

Kekhawatiran tentang peperangan informasi juga muncul di antara anggota parlemen AS dan sekutu Amerika karena kapal-kapal Rusia berlama-lama di dekat kabel komunikasi bawah laut.

Pertemuan antara pesawat tempur Rusia dan NATO juga semakin sering terjadi.

Pada bulan Januari, Angkatan Udara Kerajaan Inggris mengacak dua jet tempur untuk mencegat pembom strategis Rusia di dekat wilayah udara AS.

Armada Kedua awalnya diciptakan pada tahun 1950 sebagai tanggapan terhadap ancaman yang berkembang dari Uni Soviet. Armada ini memainkan peran integral dalam peristiwa seperti Krisis Rudal Kuba pada tahun 1962. Armada ini kemudian dihilangkan dan bergabung dengan Komando Pasukan Armada pada tahun 2011 untuk menghemat biaya.

Pensiunan Angkatan Laut AS Admiral Gary Roughead mengatakan memiliki Armada Kedua memungkinkan AS bekerja lebih erat dan efektif dengan sekutu NATO-nya.

"Dan mereka akan lebih siap untuk menanggapi kemungkinan agresi Rusia," ujarnya.

Roughead mengatakan dia sepenuhnya mengharapkan militer Rusia untuk meningkatkan kehadirannya di Atlantik di tahun-tahun mendatang. Satu area penting adalah perairan antara Inggris, Islandia, dan Greenland.

"Jelas, armada Rusia bukan ukuran yang digunakan armada Soviet, dan juga bukan armada kami," kata Roughead, mantan kepala operasi angkatan laut.

"Tapi saya pikir reaktivasi adalah hal yang sangat bijaksana untuk dilakukan," tukasnya.
(ian)
Berita Terkait
Hubungan Amerika Serikat...
Hubungan Amerika Serikat dan Ukraina Dikabarkan Retak
Fakta Perang Hibrida...
Fakta Perang Hibrida Amerika Serikat-Rusia
Perbandingan Wagner...
Perbandingan Wagner Rusia dan Blackwater Amerika Serikat
Pejabat Rusia yang Dilarang...
Pejabat Rusia yang Dilarang Masuk ke Amerika Serikat
Amerika Serikat: Iran...
Amerika Serikat: Iran Sekarang Beking Militer Utama Rusia
Campur Tangan Amerika...
Campur Tangan Amerika Serikat dalam Perang Rusia-Ukraina
Berita Terkini
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
10 menit yang lalu
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
1 jam yang lalu
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
2 jam yang lalu
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
3 jam yang lalu
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
3 jam yang lalu
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
4 jam yang lalu
Infografis
6 Pulau yang Jadi Target...
6 Pulau yang Jadi Target Invasi Darat AS di Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved