Bantah Racuni Skripal, Rusia Sebut Sanksi AS Kejam

Kamis, 09 Agustus 2018 - 16:16 WIB
Bantah Racuni Skripal,...
Bantah Racuni Skripal, Rusia Sebut Sanksi AS Kejam
A A A
WASHINGTON - Kedutaan Rusia di Amerika Serikat (AS) menyebut sanksi baru negara itu kejam. Rusia juga mengatakan alasan untuk pembatasan baru - tuduhan meracuni mantan mata-mata dan putrinya di Inggris - terlalu mengada-ada.

AS pada hari Rabu mengumumkan akan memberlakukan sanksi baru terhadap Rusia setelah Washington memutuskan bahwa Moskow telah menggunakan zat syaraf terhadap mantan agen ganda Rusia, Sergei Skripal, dan putrinya, Yulia, di Inggris.

Rusia telah berulang kali membantah bertanggung jawab atas serangan itu. Kedutaan Rusia di Washington mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa temuan Washington dalam kasus tersebut tidak didukung oleh bukti.

"Pada 8 Agustus 2018, Wakil Kepala Misi kami diberitahu di Departemen Luar Negeri tentang sanksi baru yang 'kejam' terhadap Rusia atas tuduhan yang tidak masuk akal menggunakan zat saraf 'Novichok' terhadap warga Inggris," kata kedutaan itu dalam sebuah pernyataan.

"Kami menjadi terbiasa tidak mendengar fakta atau bukti apa pun," sambung pernyataan itu seperti dikutip dari Reuters, Kamis (9/8/2018)

Pengumuman AS memicu memburuknya sentimen investor tentang kemungkinan efek lebih banyak sanksi AS terhadap aset Rusia. Nilai tukar rubel terhadap dolar juga merosot lebih dari 1 persen, sehari setelah jatuh ke level terendah dalam hampir dua tahun.

Kedutaan Rusia mengatakan Moskow terus mengadvokasi investigasi yang terbuka dan transparan terhadap serangan racun itu.

Sergei Skripal, mantan kolonel di dinas intelijen militer Rusia, dan putrinya yang berusia 33 tahun, Yulia, ditemukan pingsan di bangku di kota Salisbury, Inggris bagian selatan, Maret lalu. Keduanya pingsan setelah terpapar cairan gas saraf jenis Novichok di pintu depan rumahnya.

Negara-negara Eropa dan AS mengusir 100 diplomat Rusia setelah serangan itu, dalam tindakan terkuat oleh Presiden Donald Trump terhadap Rusia sejak dia menjabat sebagai orang nomor satu di negara adidaya itu.

Sanksi baru AS akan mencakup barang-barang pengawasan keamanan nasional yang sensitif, seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri mengatakan kepada wartawan.

Akan tetapi, akan ada pengecualian untuk kegiatan penerbangan ruang angkasa, kerja sama ruang pemerintah, dan area yang mencakup keselamatan penerbangan penumpang komersial, yang akan ditinjau berdasarkan kasus per kasus, tambah pejabat tersebut.

Pejabat itu mengatakan bahwa sanksi kedua yang "lebih kejam" akan dikenakan setelah 90 hari kecuali Rusia memberikan jaminan yang dapat diandalkan bahwa mereka tidak akan lagi menggunakan senjata kimia dan mengizinkan inspeksi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa atau kelompok pengamat internasional lainnya.

Mengingat bahwa Rusia secara tegas menyangkal keterlibatan dalam insiden itu, tampaknya tidak mungkin untuk menyetujui tuntutan AS.
(ian)
Berita Terkait
Rusia: Kacamata Pintar...
Rusia: Kacamata Pintar Facebook Bisa Jadi Alat Mata-mata Amerika Serikat
Rusia Tolak Ultimatum...
Rusia Tolak Ultimatum AS Soal Perjanjian Mata-mata Open Skies
Angkatan Udara Rusia...
Angkatan Udara Rusia Cegat Pesawat Mata-mata AS di Laut Hitam
FBI Akui Sabotase Perangkat...
FBI Akui Sabotase Perangkat Lunak Mata-mata Rusia Turla
Bagaimana Kapal Mata-mata...
Bagaimana Kapal Mata-mata Rusia Tahu Uji Rudal AS?
Kasus Mata-mata, Rusia...
Kasus Mata-mata, Rusia Tuntut 18 Tahun Penjara untuk Mantan Marinir AS
Berita Terkini
Setelah Ribuan Gen Z...
Setelah Ribuan Gen Z Berdemo selama Berminggu-minggu, Menteri Pendidikan India Mundur
15 menit yang lalu
Viral di Media Sosial,...
Viral di Media Sosial, Jet Tempur AS Diduga Jatuh di Iran pada Serangan ke-13
1 jam yang lalu
Siapa Yu Deng dan Hong...
Siapa Yu Deng dan Hong Wang? Matematikawan China yang Memecahkan Masalah Paling Sulit di Dunia
2 jam yang lalu
Selama 30 Tahun, Kakek...
Selama 30 Tahun, Kakek di Singapura Ini Perkosa 11 Gadis, Termasuk Anak, Cucu, hingga Keponakan
3 jam yang lalu
Ini Perceraian Termahal...
Ini Perceraian Termahal Abad Ini! Nilainya Capai Rp11 Triliun
4 jam yang lalu
Houthi dan Arab Saudi...
Houthi dan Arab Saudi Saling Serang, Ini 5 Pemicunya
5 jam yang lalu
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved