Sebab Kematian Mahasiswa AS yang Kerja Paksa di Korut Diduga Bunuh Diri

Minggu, 29 Juli 2018 - 03:00 WIB
Sebab Kematian Mahasiswa...
Sebab Kematian Mahasiswa AS yang Kerja Paksa di Korut Diduga Bunuh Diri
A A A
WASHINGTON - Otto Warmbier, 22, mahasiswa Amerika Serikat (AS) jatuh koma setelah lebih dari satu tahun menjalani hukuman kerja paksa di kamp penjara Korea Utara (Koprut). Dalam kondisi koma, dia dibebaskan Juni 2017 dan tewas saat dirawat di rumah sakit AS.

Penyebab kematian Warmbier memicu seorang penulis bernama Doug Clark melakukan penyelidikan panjang. Hasil penyelidikan itu menyebutkan bahwa kematian korban diduga hasil dari upaya bunuh diri.

Kematian mahasiswa itu telah memicu ketegangan besar antara AS dan rezim Kim Jong-un yang berkuasa di Korut. Washington menuduh Warmbier disiksa secara fisik saat menjalani hukuman di Korut.

Orangtuanya telah mengajukan gugatan hukum terhadap pemerintah Korea Utara. Menurut orang tua Warmbier, putra mereka secara brutal dipukuli saat dia dipenjara.

Tetapi para ahli telah mempertanyakan apakah ini kasusnya, dan penyelidikan panjang oleh penulis Doug Clark telah memutuskan bahwa mahasiswa itu diduga mencoba bunuh diri ketika divonis kerja paksa.

Teori Clark menyatakan kerusakan otak permanen kemungkinan besar sebagai penyebab utama kematian mahasiswa tersebut.

Pemerintah Korea Utara sejak awal menegaskan bahwa mahasiswa AS itu menderita masalah otak yang dikenal dengan istilah botulism. Biasanya, kondisi itu dikaitkan dengan keracunan makanan.

Warmbier dijatuhi hukuman penjara 15 tahun dan menjalani kerja paksa di Korut atas tuduhan mencuri poster propaganda rezim Pyongyang. Namun, baru setahun lebih menjalani hukuman, dia jatuh koma dan meninggal saat dirawat di AS.

Clark menulis di GQ perihal hasil invetigasinya terkait kematian Warmbier. Clark mengatakan para ahli menyatakan, mahasiswa AS itu kemungkinan menderita reaksi alergi, atau sengaja berusaha untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

"Kemungkinan kerusakan otaknya terjadi segera setelah (dijatuhi) hukuman, bagaimanapun, itu meningkatkan kemungkinan bahwa dia diduga telah mencoba bunuh diri," ujarnya, yang dilansir Sabtu (28/7/2018).

"Bayangkan apa yang Otto (Warmbier) rasakan setelah mendengar bahwa dia akan menghabiskan 15 tahun ke depan bekerja dalam apa yang mungkin dia bayangkan seperti gulag."

Petugas medis di Korea Utara pernah mengatakan kepada pejabat AS bahwa Warmbier telah dirawat di rumah sakit dengan kerusakan otak setahun sebelum kematiannya.

Dalam artikel yang sama, seorang negosiator yang terlibat dalam diskusi untuk membebaskan Warmbier mengklaim bahwa upaya untuk berhubungan dengan Donald Trump setelah pemilu telah digagalkan.

Negosiator bernama Mickey Bergman tersebut mengatakan bahwa dalam periode antara pemilu dan pelantikan Trump, dia telah berusaha untuk menghubungi presiden terpilih melalui sekutunya, Rudy Giuliani, Mike Pence dan putri Trump, Ivanka.

"Saya tidak berpikir itu pernah melintasi mejanya, karena saya pikir dia akan benar-benar menyukainya," kata Bergman.

Otto Warmbier meninggal pada 19 Juni tahun lalu atau hanya beberapa hari setelah dipulangkan ke AS dalam kondisi koma.

Menurut gugatan yang diajukan orang tua Warmbier, Fred dan Cindy Warmbier, putra mereka disiksa dan dibunuh secara brutal.

Gugatan diajukan di Pengadilan Distrik AS pada waktu yang diplomatis, beberapa minggu sebelum pertemuan yang diharapkan antara Kim Jong-un dan Donald Trump.

Kim dan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, juga akan bertemu pada hari Jumat mendatang.

"Otto disandera, ditahan sebagai tahanan untuk tujuan politik, digunakan sebagai pion dan dipilih untuk perlakuan yang sangat keras dan brutal oleh Kim Jong-un," kata Fred, dalam sebuah dokumen gugatan.

"Korea Utara, yang merupakan rezim jahat, menyandera Otto karena kesalahannya sendiri dan secara brutal menyiksa serta membunuhnya," lanjut dokumen gugatan.

Richard Cullen, seorang pengacara keluarga Warmbier, menolak berkomentar tentang gugatan yang diajukan orang tua Warmbier.

Warmbier merupakan mahasiswa di University of Virginia dan bepergian di Korea Utara dengan kelompok tur. Dia ditangkap di bandara Pyongyang saat akan pergi.

Dia dijatuhi hukuman 15 tahun kerja paksa atas tuduhan mencuri bahan propaganda Korut dari hotel tempat dia menginap. Media negara Korea Utara pernah mengatakan bahwa Warmbier diduga kuat bertindak sebagai mata-mata yang terhubung ke Central Intelligence Agency (CIA).
(mas)
Berita Terkait
Donald Trump Angkat...
Donald Trump Angkat Bicara Soal Kondisi Kim Jong-un
Pompeo Tampik Kemungkinan...
Pompeo Tampik Kemungkinan Pertemuan Trump-Kim Jong-un
Trump Sebut Kim Jong-un...
Trump Sebut Kim Jong-un Mengaku Telah Bunuh Pamannya
Trump Buka Kemungkinan...
Trump Buka Kemungkinan Kembali Bertemu dengan Kim Jong-un
Soal Pertemuan dengan...
Soal Pertemuan dengan Trump, Ini Kata Adik Kim Jong-un
Trump Bantah Laporan...
Trump Bantah Laporan yang Menyebut Kim Jong Un Sakit Parah
Berita Terkini
Paus Leo Tegaskan Kriteria...
Paus Leo Tegaskan Kriteria untuk Perang yang Adil Tidak Ada dalam Serangan AS-Israel di Iran
36 menit yang lalu
Iran Peringatkan Serangan...
Iran Peringatkan Serangan AS Berisiko Seret Timur Tengah Kembali ke Konflik
1 jam yang lalu
Selain Azerbaijan, Israel...
Selain Azerbaijan, Israel Kirim Pasukan ke UEA, Irak dan Somaliland selama Perang Iran
3 jam yang lalu
Meski Sekutu Sejati,...
Meski Sekutu Sejati, Mengapa Pentagon Tingkatkan Ancaman Mata-mata Israel ke Tingkat Tertinggi?
4 jam yang lalu
3 Fakta Bantahan Azerbaijan...
3 Fakta Bantahan Azerbaijan Terkait Wilayahnya Digunakan Israel dalam Perang Iran
6 jam yang lalu
3 Fakta Penembakan Bayi...
3 Fakta Penembakan Bayi Palestina Berusia 7 Bulan oleh Tentara Israel
10 jam yang lalu
Infografis
Ratusan Mahasiswa Asing...
Ratusan Mahasiswa Asing Berbakat Terancam Kehilangan Masa Depan di AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved