Rusia-Pemberontak Suriah Capai Kesepakatan Gencatan Senjata Sementara
Sabtu, 07 Juli 2018 - 05:50 WIB
Rusia-Pemberontak Suriah Capai Kesepakatan Gencatan Senjata Sementara
A
A
A
DAMASKUS - Rusia dan kelompok pemberontak Suriah telah mencapai perjanjian gencatan senjata sementara di provinsi selatan Suriah Daraa setelah beberapa minggu bertempur. Hal itu dikatakan juru bicara tentara Suriah Ibrahim Jabawi.
Menurut komisioner tinggi PBB untuk pengungsi, atau UNHCR pertempuran yang dipicu oleh serangan rezim Suriah dengan dukungan Rusia telah membuat lebih dari 320 ribu orang di Daraa mengungsi. Kampanye militer diluncurkan sekitar dua minggu lalu untuk merebut kembali provinsi selatan, dekat perbatasan dengan Yordania.
Daraa adalah salah satu benteng pemberontak terakhir yang tersisa di Suriah. Serangkaian kemenangan militer selama setahun terakhir telah membantu Presiden Suriah, Bashar al-Assad, merebut kembali sebagian besar wilayah itu. Awal tahun ini, Assad mengusir semua pejuang pemberontak dari daerah Damaskus yang lebih besar.
Jabawi mengatakan Perjanjian Daraa akan memungkinkan ratusan ribu pengungsi Suriah untuk pulang.
"Kami sedang melakukan satu langkah pada satu waktu," katanya.
"Ini adalah permulaan, dan negosiasi akan berlanjut," imbuhnya seperti dikutip dari CNN, Sabtu (7/7/2018)
Kesepakatan itu juga memberikan kontrol polisi militer Rusia terhadap daerah perbatasan antara Yordania dan Suriah. Tak lama setelah kesepakatan itu tercapai, bendera Republik Arab Suriah dikibarkan di perbatasan Naseeb dekat Yordania, menurut kantor berita pemerintah SANA.
Sekitar 6,2 juta warga Suriah telah mengungsi sejak konflik dimulai pada 2011, dan 6,3 juta lainnya telah melarikan diri dari negara itu sebagai pengungsi, menurut laporan UNHCR baru-baru ini.
UNICEF mengatakan mereka telah menerima laporan tentang sebuah keluarga dengan empat anak tewas dalam kekerasan di Suriah selatan. Dalam tiga minggu pertempuran, 65 anak dilaporkan tewas.
Badan pengungsi PBB meminta Yordania untuk membuka perbatasannya setelah serangan rezim menyebabkan salah satu gelombang pengungsian terbesar sejak awal konflik tujuh tahun.
Yordania dan Israel telah memberikan bantuan kepada para pengungsi tetapi menolak untuk mengizinkan pengungsi Suriah masuk ke dalam negara mereka. Yordania sudah menjadi tuan rumah bagi 1,3 juta pengungsi Suriah tetapi menutup perbatasannya pada tahun 2016 setelah serangan bunuh diri ISIS menewaskan enam penjaga perbatasannya.
Menurut komisioner tinggi PBB untuk pengungsi, atau UNHCR pertempuran yang dipicu oleh serangan rezim Suriah dengan dukungan Rusia telah membuat lebih dari 320 ribu orang di Daraa mengungsi. Kampanye militer diluncurkan sekitar dua minggu lalu untuk merebut kembali provinsi selatan, dekat perbatasan dengan Yordania.
Daraa adalah salah satu benteng pemberontak terakhir yang tersisa di Suriah. Serangkaian kemenangan militer selama setahun terakhir telah membantu Presiden Suriah, Bashar al-Assad, merebut kembali sebagian besar wilayah itu. Awal tahun ini, Assad mengusir semua pejuang pemberontak dari daerah Damaskus yang lebih besar.
Jabawi mengatakan Perjanjian Daraa akan memungkinkan ratusan ribu pengungsi Suriah untuk pulang.
"Kami sedang melakukan satu langkah pada satu waktu," katanya.
"Ini adalah permulaan, dan negosiasi akan berlanjut," imbuhnya seperti dikutip dari CNN, Sabtu (7/7/2018)
Kesepakatan itu juga memberikan kontrol polisi militer Rusia terhadap daerah perbatasan antara Yordania dan Suriah. Tak lama setelah kesepakatan itu tercapai, bendera Republik Arab Suriah dikibarkan di perbatasan Naseeb dekat Yordania, menurut kantor berita pemerintah SANA.
Sekitar 6,2 juta warga Suriah telah mengungsi sejak konflik dimulai pada 2011, dan 6,3 juta lainnya telah melarikan diri dari negara itu sebagai pengungsi, menurut laporan UNHCR baru-baru ini.
UNICEF mengatakan mereka telah menerima laporan tentang sebuah keluarga dengan empat anak tewas dalam kekerasan di Suriah selatan. Dalam tiga minggu pertempuran, 65 anak dilaporkan tewas.
Badan pengungsi PBB meminta Yordania untuk membuka perbatasannya setelah serangan rezim menyebabkan salah satu gelombang pengungsian terbesar sejak awal konflik tujuh tahun.
Yordania dan Israel telah memberikan bantuan kepada para pengungsi tetapi menolak untuk mengizinkan pengungsi Suriah masuk ke dalam negara mereka. Yordania sudah menjadi tuan rumah bagi 1,3 juta pengungsi Suriah tetapi menutup perbatasannya pada tahun 2016 setelah serangan bunuh diri ISIS menewaskan enam penjaga perbatasannya.
(ian)