Dibombardir Rusia, Pemberontak Suriah Akhirnya Kembali ke Meja Perundingan
Jum'at, 06 Juli 2018 - 23:06 WIB
Dibombardir Rusia, Pemberontak Suriah Akhirnya Kembali ke Meja Perundingan
A
A
A
DAMASKUS - Kelompok pemberontak di Suriah selatan akan bertemu dengan negosiator Rusia, Jumat (6/7/20148). Pertemuan ini terjadi setelah serangan gencar selama 24 jam yang memaksa mereka untuk setuju melanjutkan pembicaraan damai.
Moskow, sekutu penting rezim Damaskus, telah memperantarai perundingan dengan para pemberontak untuk daerah Suriah selatan yang berbatasan dnegan Yordania dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.
Perundingan itu macet pada hari Rabu lalu. Pemberontak Suriah menyalahkan Rusia yang berujung pada serangan udara sepanjang hari. Rusia menghujani pemberontak dengan bom barel dan rudal untuk menekan mereka untuk kembali ke meja perundingan.
"Delegasi pemberontak sedang dalam perjalanan ke pertemuan itu," kata Hussein Abazeed, juru bicara komando bersama pemberontak di selatan, seperti dikutip dari AFP.
Ia menuduh Rusia mengejar "kebijakan bumi hangus" untuk memaksa pemberontak kembali bernegosiasi.
Sebelumnya, komando gabungan pemberontak Suriah mengatakan bersedia mengadakan "putaran negosiasi baru" jika penghentian permusuhan segera diberlakukan.
Ketika pemberontak membuat pengumuman mereka, pemboman mereda di seluruh bagian selatan, menurut seorang koresponden AFP di pinggiran kota Daraa dan kelompok pengamat Suriah untuk Pemantauan Hak Asasi Manusia.
Pada Jumat pagi, serangan intermiten dan bom barel menghantam desa timur provinsi Daraa tetapi secara keseluruhan serangan itu kurang intens daripada hari sebelumnya.
Di bawah kesepakatan tersebut, pemberontak menyerahkan senjata berat, polisi setempat mengambil kendali atas area tersebut dan institusi pemerintah melanjutkan bekerja di sana.
Lebih dari 30 kota pemberontak telah sepakat untuk mundur di bawah kendali rezim Damaskus melalui perjanjian-perjanjian ini, menggandakan wilayah kekuasaan pemerintah di provinsi Daraa menjadi sekitar dua pertiga.
Daraa dianggap sebagai tempat lahirnya pemberontakan pada 2011 terhadap Assad yang memicu perang Suriah.
Wilayah pemberontak di selatan termasuk dalam gencatan senjata yang ditengahi tahun lalu oleh Rusia, Amerika Serikat (AS), dan Yordania, tetapi hal itu tidak terlalu banyak berhasil membendung kekerasan.
Pada hari Kamis, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) bersidang dalam pertemuan tertutup yang mendesak untuk membahas situasi di bagian selatan Suriah itu. Namun Rusia berhasil memblokir DK PBB untuk mengadopsi sebuah pernyataan.
Lebih dari 150 warga sipil tewas sejak awal serangan, menurut Observatorium HAM untuk Suriah (SOHR).
Sementara menurut PBB serangan itu telah mendorong lebih dari 320.000 orang melarikan diri. Banyak dari mereka berlari ke perbatasan tertutup dengan Yordania atau barat di dekat Golan yang diduduki Israel.
Moskow, sekutu penting rezim Damaskus, telah memperantarai perundingan dengan para pemberontak untuk daerah Suriah selatan yang berbatasan dnegan Yordania dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.
Perundingan itu macet pada hari Rabu lalu. Pemberontak Suriah menyalahkan Rusia yang berujung pada serangan udara sepanjang hari. Rusia menghujani pemberontak dengan bom barel dan rudal untuk menekan mereka untuk kembali ke meja perundingan.
"Delegasi pemberontak sedang dalam perjalanan ke pertemuan itu," kata Hussein Abazeed, juru bicara komando bersama pemberontak di selatan, seperti dikutip dari AFP.
Ia menuduh Rusia mengejar "kebijakan bumi hangus" untuk memaksa pemberontak kembali bernegosiasi.
Sebelumnya, komando gabungan pemberontak Suriah mengatakan bersedia mengadakan "putaran negosiasi baru" jika penghentian permusuhan segera diberlakukan.
Ketika pemberontak membuat pengumuman mereka, pemboman mereda di seluruh bagian selatan, menurut seorang koresponden AFP di pinggiran kota Daraa dan kelompok pengamat Suriah untuk Pemantauan Hak Asasi Manusia.
Pada Jumat pagi, serangan intermiten dan bom barel menghantam desa timur provinsi Daraa tetapi secara keseluruhan serangan itu kurang intens daripada hari sebelumnya.
Di bawah kesepakatan tersebut, pemberontak menyerahkan senjata berat, polisi setempat mengambil kendali atas area tersebut dan institusi pemerintah melanjutkan bekerja di sana.
Lebih dari 30 kota pemberontak telah sepakat untuk mundur di bawah kendali rezim Damaskus melalui perjanjian-perjanjian ini, menggandakan wilayah kekuasaan pemerintah di provinsi Daraa menjadi sekitar dua pertiga.
Daraa dianggap sebagai tempat lahirnya pemberontakan pada 2011 terhadap Assad yang memicu perang Suriah.
Wilayah pemberontak di selatan termasuk dalam gencatan senjata yang ditengahi tahun lalu oleh Rusia, Amerika Serikat (AS), dan Yordania, tetapi hal itu tidak terlalu banyak berhasil membendung kekerasan.
Pada hari Kamis, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) bersidang dalam pertemuan tertutup yang mendesak untuk membahas situasi di bagian selatan Suriah itu. Namun Rusia berhasil memblokir DK PBB untuk mengadopsi sebuah pernyataan.
Lebih dari 150 warga sipil tewas sejak awal serangan, menurut Observatorium HAM untuk Suriah (SOHR).
Sementara menurut PBB serangan itu telah mendorong lebih dari 320.000 orang melarikan diri. Banyak dari mereka berlari ke perbatasan tertutup dengan Yordania atau barat di dekat Golan yang diduduki Israel.
(ian)