Jepang Beli Radar Canggih AS untuk Sistem Pertahanan Rudal

Jum'at, 29 Juni 2018 - 16:01 WIB
Jepang Beli Radar Canggih...
Jepang Beli Radar Canggih AS untuk Sistem Pertahanan Rudal
A A A
TOKYO - Jepang minggu depan akan memilih radar canggih buatan AS untuk sistem pertahanan misil bernilai miliaran dolar. Peningkatan ini dapat membantu mengurangi gesekan perdagangan dengan Washington dan memberikan perlindungan mutakhir terhadap persenjataan Korea Utara (Korut) dan Cina.

“Aegis akan menjadi pembelian utama; itu akan menjadi hadiah yang bagus untuk Presiden Trump,” kata seorang pejabat pemerintah Jepang, mengacu pada sistem Aegis Ashore yang berbasis di darat seperti dikutip dari Reuters, Jumat (29/6/2018).

Pejabat Jepang dapat membuat pilihan radar mereka untuk dua peluncur Aegis Ashore yang ingin dikerahkan pada 2023. Itu berarti pembelian dapat ditambahkan ke proposal anggaran pertahanan yang dijadwalkan akan dirilis pada Agustus, kata tiga sumber yang mengetahui rencana itu kepada Reuters, menolak diidentifikasi karena mereka tidak berwenang untuk berbicara kepada media.

"Kandidatnya adalah Raytheon Co's SPY-6 dan Lockheed Martin Corp’s Long Range Discrimination Radar (LRDR)," kata sumber tersebut. Jepang telah melihat SPY-6 ketika setuju untuk membeli Aegis Ashore tahun lalu, tetapi Washington enggan untuk memasoknya.

Proposal anggaran Jepang datang di tengah berkurangnya ketegangan setelah pertemuan 12 Juni di Singapura antara Presiden Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un.

Meskipun perencana militer Jepang masih melihat Korut sebagai bahaya langsung, mereka melihat kekuatan militer China yang semakin besar sebagai ancaman jangka panjang yang lebih besar.

Kekuatan Roket Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China menguasai gudang berisi ratusan rudal balistik yang dapat mencapai Jepang. Peningkatan sistem pertahanan rudal Jepang akan menjadikannya salah satu yang paling canggih di dunia.

Para pejabat pertahanan Jepang memperkirakan biaya dua baterai Aegis Ashore sekitar USD2 miliar. Menurut sumber itu penghitungan akhir setidaknya bisa mencapai dua kali lipat. Hal ini mengingat kemampuan radar SPY-6 atau LRDR yang mampu mendeteksi target lebih jauh ketimbang sistem Aegis yang dioperasikan oleh Jepang atau AS.

Meskipun peningkatan itu menambah biaya, itu sesuai dengan keinginan Trump untuk mengekspor lebih banyak perangkat militer Amerika.

Dalam kunjungan ke Tokyo pada bulan November, ia menyambut baik pengadaan pesawat tempur siluman F-35 Jepang dan mendesak Jepang untuk membeli lebih banyak senjata dan barang dari AS.

Trump sejak itu mendongkrak tekanan di Tokyo dengan tarif pada baja, ancaman pungutan atas impor mobil dan seruan untuk kesepakatan perdagangan bilateral antara kedua negara.

Pada konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada bulan Juni, Trump mengatakan Abe telah berjanji untuk membeli "miliaran dan miliaran dolar produk tambahan dari segala jenis."

"Abe akan bertemu Trump lagi saat pertemuan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada bulan September mendatang," seorang pejabat pemerintah Jepang mengatakan kepada Reuters. Dia menolak mengatakan apa yang akan dibicarakan kedua pemimpin itu.

Raytheon dan Mitsubishi Heavy Industries mengembangkan misil-misil SM-3 Blok IIA milik Aegis Ashore; Lockheed Martin adalah kontraktor utama.

Radar SPY-6 dirancang untuk armada kapal perang Angkatan Laut AS yang dilengkapi Aegis. Sementara LRDR akan diintegrasikan ke dalam sistem rudal pertahanan anti-balistik Angkatan Darat AS di Alaska pada tahun 2020.

Kedua radar mutakhir ini akan memungkinkan Jepang untuk menggunakan secara penuh pencegat jarak-jauh yang lebih baru dan dapat digunakan untuk membela terhadap ancaman masa depan yang ditimbulkan oleh rudal-rudal China.

Proposal pengadaan militer Jepang untuk tahun ini mulai 1 April datang bersamaan dengan janji Jong-un di Singapura untuk bekerja menuju denuklirisasi di semenanjung Korea. Sementara Trump memerintahkan menghentikan latihan militer berskala besar dengan Korea Selatan (Korsel).

Jepang, yang menampung sekitar 50.000 personel militer AS, termasuk konsentrasi luar negeri terbesar Marinir AS dan kelompok pengangkut Angkatan Laut AS, mengatakan tidak akan mengubah postur militernya sampai melihat tanda-tanda konkret bahwa Pyongyang siap untuk secara permanen membongkar senjata nuklirnya dan program rudal balistik.

"Aegis Ashore akan terus maju karena Jepang membutuhkannya," kata salah satu sumber.
(ian)
Berita Terkait
Jepang Segera Beli 400...
Jepang Segera Beli 400 Rudal Jelajah Tomahawk dari Amerika Serikat
MotoGP Jepang 2021 Batal...
MotoGP Jepang 2021 Batal Digelar, Dorna Sports Tunjuk Amerika Serikat
Jepang dan AS Bahas...
Jepang dan AS Bahas Lonjakan Kasus Covid-19 di Pangkalan Militer AS
Final Bola Basket Putri...
Final Bola Basket Putri Olimpiade Tokyo 2020; Amerika Serikat Tumbangkan Jepang
Pendaratan ke Bulan,...
Pendaratan ke Bulan, Kegagalan Jepang dan Tuduhan Teori Konspirasi Amerika Serikat
Manusia Pertama di Amerika...
Manusia Pertama di Amerika dan Jepang Ternyata Berasal dari China Utara
Berita Terkini
Trump Cari Jalan Keluar...
Trump Cari Jalan Keluar Secepatnya untuk Hindari Dampak Politik dan Ekonomi Perang Iran
35 menit yang lalu
2 Pemain Sepak Bola...
2 Pemain Sepak Bola Brasil Masuk Daftar Pembunuhan oleh Situs Ukraina
1 jam yang lalu
Presiden Asosiasi Sepak...
Presiden Asosiasi Sepak Bola Palestina Kecam AS Tunda Visa untuk Acara Piala Dunia
2 jam yang lalu
Militer AS Bangun Pangkalan...
Militer AS Bangun Pangkalan Baru di Dekat Perbatasan Gaza untuk Dukung Rencana Pasca-Perang
3 jam yang lalu
Trump Puji Unggahan...
Trump Puji Unggahan Menlu Iran tentang Kemungkinan Kesepakatan AS-Iran Sangat Positif
4 jam yang lalu
Menlu Iran Ungkap MoU...
Menlu Iran Ungkap MoU dengan AS Mencakup Lebanon dan Blokade Paman Sam
5 jam yang lalu
Infografis
3 Senjata Canggih Iran...
3 Senjata Canggih Iran yang Ciptakan Mimpi Buruk bagi AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved