Mattis Pastikan Pasukan AS Tetap Bercokol di Korsel
Kamis, 28 Juni 2018 - 15:45 WIB
Mattis Pastikan Pasukan AS Tetap Bercokol di Korsel
A
A
A
SEOUL - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Jim Mattis, meyakinkan Korea Selatan (Korsel) tentang komitmen kuat terhadap keamanannya, termasuk mempertahankan keberadaan pasukannya di negara itu. Hal itu ditegaskan Mattis dalam kunjungan singkatnya ke Korsel.
Selama kunjungan ke Seoul, Mattis membela keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menghentikan latihan perang dengan Korsel. Ia mengatakan itu akan meningkatkan kesempatan bagi diplomat kedua negara untuk bernegosiasi.
Namun Mattis menambahkan bahwa pasukan AS dan Korsel akan tetap bersatu, waspada dan siap siaga.
"Komitmen AS terhadap Republik Korea tetap kuat dan AS akan terus menggunakan berbagai kemampuan diplomatik dan militernya untuk menegakkan komitmen ini," kata Mattis dalam pernyataan singkat menjelang pembicaraan di kementerian pertahanan Korsel.
"Dan ini termasuk mempertahankan tingkat kekuatan AS saat ini di semenanjung Korea," imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Kamis (28/6/2018).
AS memiliki sekitar 28.500 pasukan di Korsel.
Namun, Mattis belum menjelaskan bagaimana Amerika Serikat akan mempertahankan kesiapan pasukan AS-Korsel, yang telah lama membanggakan kemampuan mereka untuk dapat "berperang malam ini" jika diperlukan.
Washington dan Seoul telah menunda perencanaan untuk latihan Freedom Guardian mendatang, yang tahun lalu melibatkan 17.500 pasukan Amerika dan lebih dari 50.000 tentara Korsel.
"Keputusan baru-baru ini untuk menangguhkan latihan Freedom Guardian menciptakan peningkatan peluang bagi para diplomat kami untuk bernegosiasi, meningkatkan prospek untuk solusi damai di semenanjung Korea," kata Mattis, berdiri di samping rekannya asal Korsel.
"Pada saat yang sama, pasukan AS dan (Korea Selatan) tetap bersatu, waspada dan siap untuk bertahan menghadapi tantangan apa pun," tukasnya.
Kritik membanjiri Trump setelah memutuskan untuk menghentikan latihan militer gabungan dengan Korsel. Penghentian itu dipandang sebagai konsesi yang besar bagi Korea Utara (Korut) yang jika berkepanjangan berisiko mengikis kesiapan pasukan AS dan Korsel.
Rezim Korut telah lama meminta latihan gabungan itu dihentikan karena dipandang sebagai persiapan untuk invasi ke negara tersebut.
Trump juga menarik kritik dari analis keamanan nasional untuk sebuah kesepakatan yang muncul dari pertemuan 12 Juni dengan pemimpin Korut Kim Jong-un yang memiliki sedikit rincian tentang bagaimana Pyongyang akan menyerahkan senjata nuklir dan rudal balistiknya.
Selama kunjungan ke Seoul, Mattis membela keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menghentikan latihan perang dengan Korsel. Ia mengatakan itu akan meningkatkan kesempatan bagi diplomat kedua negara untuk bernegosiasi.
Namun Mattis menambahkan bahwa pasukan AS dan Korsel akan tetap bersatu, waspada dan siap siaga.
"Komitmen AS terhadap Republik Korea tetap kuat dan AS akan terus menggunakan berbagai kemampuan diplomatik dan militernya untuk menegakkan komitmen ini," kata Mattis dalam pernyataan singkat menjelang pembicaraan di kementerian pertahanan Korsel.
"Dan ini termasuk mempertahankan tingkat kekuatan AS saat ini di semenanjung Korea," imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Kamis (28/6/2018).
AS memiliki sekitar 28.500 pasukan di Korsel.
Namun, Mattis belum menjelaskan bagaimana Amerika Serikat akan mempertahankan kesiapan pasukan AS-Korsel, yang telah lama membanggakan kemampuan mereka untuk dapat "berperang malam ini" jika diperlukan.
Washington dan Seoul telah menunda perencanaan untuk latihan Freedom Guardian mendatang, yang tahun lalu melibatkan 17.500 pasukan Amerika dan lebih dari 50.000 tentara Korsel.
"Keputusan baru-baru ini untuk menangguhkan latihan Freedom Guardian menciptakan peningkatan peluang bagi para diplomat kami untuk bernegosiasi, meningkatkan prospek untuk solusi damai di semenanjung Korea," kata Mattis, berdiri di samping rekannya asal Korsel.
"Pada saat yang sama, pasukan AS dan (Korea Selatan) tetap bersatu, waspada dan siap untuk bertahan menghadapi tantangan apa pun," tukasnya.
Kritik membanjiri Trump setelah memutuskan untuk menghentikan latihan militer gabungan dengan Korsel. Penghentian itu dipandang sebagai konsesi yang besar bagi Korea Utara (Korut) yang jika berkepanjangan berisiko mengikis kesiapan pasukan AS dan Korsel.
Rezim Korut telah lama meminta latihan gabungan itu dihentikan karena dipandang sebagai persiapan untuk invasi ke negara tersebut.
Trump juga menarik kritik dari analis keamanan nasional untuk sebuah kesepakatan yang muncul dari pertemuan 12 Juni dengan pemimpin Korut Kim Jong-un yang memiliki sedikit rincian tentang bagaimana Pyongyang akan menyerahkan senjata nuklir dan rudal balistiknya.
(ian)