Pilot Rusia Ditemukan Setelah Tiga Dekade Hilang di Afghanistan

Sabtu, 02 Juni 2018 - 10:43 WIB
Pilot Rusia Ditemukan...
Pilot Rusia Ditemukan Setelah Tiga Dekade Hilang di Afghanistan
A A A
MOSKOW - Seorang pilot Rusia yang hilang dan diduga tewas setelah pesawatnya ditembak jatuh tiga dekade lalu selama invasi Soviet ke Afghanistan ditemukan hidup dan ingin pulang. Hal itu diungkapkan kelompok veteran militer.

"Dia masih hidup. Sangat mengherankan. Sekarang dia membutuhkan bantuan," ujar pimpinan serikat penerjun payung Rusia, Valery Vostrotin, kepada kantor berita RIA Novosti yang dikutip The Guardian, Sabtu (2/6/2018).

Vostrotin, yang mengepalai Rusia dari komisi gabungan Rusia-AS terhadap tawanan perang dan tentara yang hilang dalam aksi, menolak menyebutkan nama pilot tersebut karena alasan kerahasiaan.

Pria itu ditembak jatuh pada 1987 dan kemungkinan sekarang berusia di atas 60 tahun, wakil kepala organisasi veteran Battle Brotherhood, Vyacheslav Kalinin, mengatakan kepada kantor berita itu.

Ia menyatakan pilot itu bisa berada di Pakistan, di mana Afghanistan memiliki kamp untuk tawanan perang, dan mengatakan dia ingin pulang ke rumah.

RIA Novosti melaporkan bahwa 125 pesawat Soviet ditembak jatuh di Afghanistan selama perang antara 1979 dan 1989. Ketika pasukan Soviet ditarik keluar pada 1989, sekitar 300 tentara dinyatakan hilang. Sejak itu, 30 telah ditemukan dan sebagian besar kembali ke negara asal mereka.

Harian bisnis Kommersant melaporkan bahwa hanya satu pilot Soviet yang ditembak jatuh pada 1987. Ia bernama Sergei Pantelyuk dari wilayah Rostov Rusia selatan, yang hilang bersama dengan pesawatnya setelah lepas landas dari lapangan udara Bagram, sekarang menjadi pangkalan udara AS, di utara Kabul.

Kepala organisasi veteran setempat mengatakan bahwa ibu dan saudara perempuannya masih hidup dan tabloid Komsomolskaya Pravda menelusuri putri berusia 31 tahun milik Pantelyuk yang lahir beberapa bulan sebelum ayahnya hilang.

Senator Frants Klintsevich mengatakan kepada RIA Novosti bahwa ini bukan satu-satunya kasus serupa. Ia lantas mengatakan telah bertemu dengan seorang prajurit Soviet dalam perjalanan ke Afghanistan beberapa tahun yang lalu yang menolak memberikan namanya dan berbicara bahasa Rusia dengan susah payah dan mengatakan sudah terlambat baginya untuk kembali.

Mantan tentara Soviet Bakhretdin Khakimov, yang diwawancarai oleh AFP pada tahun 2015, adalah salah satu dari mereka yang memilih untuk tetap di Afghanistan. Ia terluka parah dan dirawat oleh orang-orang setempat dan kemudian masuk Islam.

"Saya tinggal di Afghanistan karena orang Afghanistan sangat baik dan ramah," katanya kepada AFP.
(ian)
Berita Terkait
Rusia Sebut Serangan...
Rusia Sebut Serangan Taliban 'Kehabisan Bensin'
Rusia Dukung Taliban...
Rusia Dukung Taliban Masuk Pemerintahan Sementara Afghanistan
Rusia: Tidak ada Alasan...
Rusia: Tidak ada Alasan untuk Tempatkan Tentara di Afghanistan
Rusia Sebut Kabul Lebih...
Rusia Sebut Kabul Lebih Aman di Bawah Taliban Daripada Era Presiden Ghani
Rusia: Laporan Pesawat...
Rusia: Laporan Pesawat NATO Dipakai Angkut Narkoba di Afghanistan Harus Diselidiki
Rusia Siap Gempur Taliban...
Rusia Siap Gempur Taliban Jika Berani Menyerang Tajikistan
Berita Terkini
Pasukan Khusus AS Siapkan...
Pasukan Khusus AS Siapkan Operasi Perebutan Bom Nuklir Iran, Ini 7 Strateginya
58 menit yang lalu
Setelah Ribuan Gen Z...
Setelah Ribuan Gen Z Berdemo selama Berminggu-minggu, Menteri Pendidikan India Mundur
3 jam yang lalu
Viral di Media Sosial,...
Viral di Media Sosial, Jet Tempur AS Diduga Jatuh di Iran pada Serangan ke-13
4 jam yang lalu
Siapa Yu Deng dan Hong...
Siapa Yu Deng dan Hong Wang? Matematikawan China yang Memecahkan Masalah Paling Sulit di Dunia
5 jam yang lalu
Selama 30 Tahun, Kakek...
Selama 30 Tahun, Kakek di Singapura Ini Perkosa 11 Gadis, Termasuk Anak, Cucu, hingga Keponakan
6 jam yang lalu
Ini Perceraian Termahal...
Ini Perceraian Termahal Abad Ini! Nilainya Capai Rp11 Triliun
7 jam yang lalu
Infografis
7 Rudal Jelajah Terkuat...
7 Rudal Jelajah Terkuat di Dunia, Misil-Misil Rusia Mendominasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved