Mengenal Tiga Warga AS yang Dibebaskan Korut
Kamis, 10 Mei 2018 - 05:59 WIB
Mengenal Tiga Warga AS yang Dibebaskan Korut
A
A
A
SEOUL - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo, telah meninggalkan Korea Utara (Korut) dengan tiga tahanan asal Amerika yang dibebaskan Pyongyang. Ketiganya dibebaskan jelang pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong-un.
Berikut adalah sosok tiga warga Amerika yang ditahan oleh Korut atas tuduhan subversi, spionase, dan tindakan bermusuhan lainnya yang tidak spesifik seperti disitir dari AP, Kamis (10/5/2018).
Kim Dong-chul
Kim Dong-chul, warga AS kelahiran Korea Selatan (Korsel), adalah tahanan terlama di antara ketiganya.
Menurut media Korut, Kim Dong-chul (64), menjalankan sebuah perusahaan di zona ekonomi khusus Rason sebelah Timur Laut Korut sebelum ditangkap pada 2 Oktober 2015. Ia menerima hukuman 10 tahun penjara dengan kerja paksa pada April 2016 karena diduga melakukan tindakan subversif dan spionase terhadap Korut.
Sebelum divonis, mantan penduduk Virginia ini secara terbuka meminta maaf karena memfitnah kepemimpinan Korut, mengumpulkan dan memberikan informasi rahasia ke Korsel, dan bergabung dengan kampanye kotor terhadap situasi hak asasi manusia Korut. Sejumlah orang asing lain telah dipresentasikan pada konferensi berita di Korut dan mengakui kejahatan terhadap Korut, tetapi banyak yang mengatakan setelah mereka dibebaskan bahwa pengakuan mereka diberikan tanpa sadar dan di bawah tekanan.
Tony Kim/Kim Sang-duk
Tony Kim, yang juga menggunakan nama Korea Kim Sang-duk ditahan pada 22 April 2017 di bandara Pyongyang karena melakukan tindakan permusuhan yang bertujuan untuk menggulingkan kepemimpinan Korut, menurut kantor berita Korut. Kantor berita itu tidak menyebutkan apa tindakan kriminal khusus yang diduga dilakukan oleh Kim.
Kim mengajar akuntansi di Universitas Sains dan Teknologi Pyongyang, yang telah menjadi satu-satunya perguruan tinggi swasta di Korut sejak didirikan pada 2010 dengan sumbangan dari kelompok-kelompok Kristen.
Pihak universitas mengatakan penahanan Kim tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya di lembaga pendidikan tersebut.
Ia sebelumnya mengajar bahasa Korea di Universitas Sains dan Teknologi Yanbian di Yanji, Cina, tidak jauh dari perbatasan Korut. Kim adalah lulus dari University of California, Riverside, dengan gelar master dalam administrasi bisnis pada tahun 1990.
Ia setidaknya tujuh kali melakukan perjalanan ke Korut untuk mengajar. Istrinya menemaninya saat kunjungan yang berujung pada penangkapannya. Sang istri diizinkan untuk meninggalkan negara itu.
Kim Hak-song
Song bekerja dalam pengembangan pertanian di lahan percobaan yang dikelola oleh Universitas Sains dan Teknologi Pyongyang. Ia ditahan pada 6 Mei 2017, karena terlibat dalam "tindakan bermusuhan" yang tidak disebutkan terhadap Korut, KCNA melaporkan. Kantor berita Korut itu tidak mengatakan apakah kasusnya terkait dengan Tony Kim.
Universitas juga mengatakan penahanannya tidak terkait dengan pekerjaannya di lembaga pendidikan tersebut.
Tidak diketahui apakah Tony Kim dan Kim Hak-song secara resmi dihukum dan dijatuhi hukuman.
Berikut adalah sosok tiga warga Amerika yang ditahan oleh Korut atas tuduhan subversi, spionase, dan tindakan bermusuhan lainnya yang tidak spesifik seperti disitir dari AP, Kamis (10/5/2018).
Kim Dong-chul
Kim Dong-chul, warga AS kelahiran Korea Selatan (Korsel), adalah tahanan terlama di antara ketiganya.
Menurut media Korut, Kim Dong-chul (64), menjalankan sebuah perusahaan di zona ekonomi khusus Rason sebelah Timur Laut Korut sebelum ditangkap pada 2 Oktober 2015. Ia menerima hukuman 10 tahun penjara dengan kerja paksa pada April 2016 karena diduga melakukan tindakan subversif dan spionase terhadap Korut.
Sebelum divonis, mantan penduduk Virginia ini secara terbuka meminta maaf karena memfitnah kepemimpinan Korut, mengumpulkan dan memberikan informasi rahasia ke Korsel, dan bergabung dengan kampanye kotor terhadap situasi hak asasi manusia Korut. Sejumlah orang asing lain telah dipresentasikan pada konferensi berita di Korut dan mengakui kejahatan terhadap Korut, tetapi banyak yang mengatakan setelah mereka dibebaskan bahwa pengakuan mereka diberikan tanpa sadar dan di bawah tekanan.
Tony Kim/Kim Sang-duk
Tony Kim, yang juga menggunakan nama Korea Kim Sang-duk ditahan pada 22 April 2017 di bandara Pyongyang karena melakukan tindakan permusuhan yang bertujuan untuk menggulingkan kepemimpinan Korut, menurut kantor berita Korut. Kantor berita itu tidak menyebutkan apa tindakan kriminal khusus yang diduga dilakukan oleh Kim.
Kim mengajar akuntansi di Universitas Sains dan Teknologi Pyongyang, yang telah menjadi satu-satunya perguruan tinggi swasta di Korut sejak didirikan pada 2010 dengan sumbangan dari kelompok-kelompok Kristen.
Pihak universitas mengatakan penahanan Kim tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya di lembaga pendidikan tersebut.
Ia sebelumnya mengajar bahasa Korea di Universitas Sains dan Teknologi Yanbian di Yanji, Cina, tidak jauh dari perbatasan Korut. Kim adalah lulus dari University of California, Riverside, dengan gelar master dalam administrasi bisnis pada tahun 1990.
Ia setidaknya tujuh kali melakukan perjalanan ke Korut untuk mengajar. Istrinya menemaninya saat kunjungan yang berujung pada penangkapannya. Sang istri diizinkan untuk meninggalkan negara itu.
Kim Hak-song
Song bekerja dalam pengembangan pertanian di lahan percobaan yang dikelola oleh Universitas Sains dan Teknologi Pyongyang. Ia ditahan pada 6 Mei 2017, karena terlibat dalam "tindakan bermusuhan" yang tidak disebutkan terhadap Korut, KCNA melaporkan. Kantor berita Korut itu tidak mengatakan apakah kasusnya terkait dengan Tony Kim.
Universitas juga mengatakan penahanannya tidak terkait dengan pekerjaannya di lembaga pendidikan tersebut.
Tidak diketahui apakah Tony Kim dan Kim Hak-song secara resmi dihukum dan dijatuhi hukuman.
(ian)