Kantongi Bukti dan Keterangan Saksi, Penyidik OPCW Kembali dari Douma
Sabtu, 05 Mei 2018 - 17:25 WIB
Kantongi Bukti dan Keterangan Saksi, Penyidik OPCW Kembali dari Douma
A
A
A
AMSTERDAM - Penyidik senjata kimia telah kembali dari misi mereka ke kota Douma, Suriah. Mereka telah mengambil sampel dan mewawancarai para saksi untuk memutuskan apakah senjata kimia telah digunakan dalam serangan bulan lalu.
"Sebuah tim ahli dari Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPC) kembali ke Belanda pada Kamis malam setelah pergi ke Damaskus pada 14 April," kata sumber diplomatik tanpa menyebut nama seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (5/5/2018).
Dugaan serangan kimia telah memicu serangan rudal oleh Amerika Serikat (AS), Prancis dan Inggris pada 13 April lalu. Serangan itu menyasar beberapa lokasi yang diduga adalah fasilitas senjata kimia di Suriah.
OPCW sedang menyelidiki kematian puluhan orang di Douma, sebuah daerah kantong di Ghouta di luar Ibu Kota Suriah pada 7 April lalu.
AS dan sekutunya mengatakan mereka tewas disebabkan oleh senjata kimia, kemungkinan gas saraf, yang digunakan oleh pasukan pemerintah Presiden Bashar al-Assad di dukung Rusia.
Para penyidik telah mengunjungi dua lokasi dugaan serangan dan mengambil sampel, yang akan dibagi di laboratorium mereka di Belanda sebelum diteruskan ke laboratorium nasional yang berafiliasi untuk melakukan pengujian. Hasil tes biasanya dikembalikan dalam tiga hingga empat minggu. OPCW tidak akan menyalahkan pihak-pihak tertentu.
Para inspektur juga diharapkan mengambil sampel dari tabung yang ditemukan di TKP yang diyakini berisi zat beracun yang jatuh dari pesawat atau helikopter.
Rusia dan Suriah pekan lalu mengadakan pertemuan bagi negara-negara anggota OPCW untuk mendukung pernyataan Moskow bahwa tidak ada senjata kimia yang digunakan di Douma dan serangan itu dilakukan oleh pemberontak.
Baca: Saksi Douma: Tidak Ada Serangan, Korban, Tidak Ada Senjata Kimia
Pertemuan itu diboikot oleh beberapa negara anggota OPCW, yang mencela acara Rusia itu sebagai "latihan propaganda yang kasar" yang dimaksudkan untuk melemahkan pekerjaan OPCW.
Baca: Rusia Hadirkan Saksi Serangan Kimia, Barat Boikot Pertemuan OPCW
Inggris, AS, Prancis, Jerman dan sejumlah negara lain, dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa semua materi yang dikumpulkan sejauh ini mendukung teori mereka bahwa senjata kimia digunakan di Douma.
"Informasi yang dikumpulkan hingga saat ini tidak dapat disangkal," kata mereka pada saat itu. LSM-LSM medis yang telah menemukan jejak-jejak zat kimia dan bukti foto serta video yang dikonfirmasi memperkuat teori keracunan gas oleh ratusan korban.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menyatakan keprihatinan pada laporan dari mitranya yang menunjukkan tanda dan gejala yang konsisten dengan paparan bahan kimia beracun.
Penyelidikan bersama PBB-OPCW tahun lalu menyimpulkan bahwa pasukan pemerintah Suriah menggunakan gas saraf sarin dan klorin dalam beberapa serangan.
Misi bersama berakhir pada November setelah Rusia berulang kali memblokir resolusi Dewan Keamanan PBB yang akan memperpanjang mandatnya.
"Sebuah tim ahli dari Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPC) kembali ke Belanda pada Kamis malam setelah pergi ke Damaskus pada 14 April," kata sumber diplomatik tanpa menyebut nama seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (5/5/2018).
Dugaan serangan kimia telah memicu serangan rudal oleh Amerika Serikat (AS), Prancis dan Inggris pada 13 April lalu. Serangan itu menyasar beberapa lokasi yang diduga adalah fasilitas senjata kimia di Suriah.
OPCW sedang menyelidiki kematian puluhan orang di Douma, sebuah daerah kantong di Ghouta di luar Ibu Kota Suriah pada 7 April lalu.
AS dan sekutunya mengatakan mereka tewas disebabkan oleh senjata kimia, kemungkinan gas saraf, yang digunakan oleh pasukan pemerintah Presiden Bashar al-Assad di dukung Rusia.
Para penyidik telah mengunjungi dua lokasi dugaan serangan dan mengambil sampel, yang akan dibagi di laboratorium mereka di Belanda sebelum diteruskan ke laboratorium nasional yang berafiliasi untuk melakukan pengujian. Hasil tes biasanya dikembalikan dalam tiga hingga empat minggu. OPCW tidak akan menyalahkan pihak-pihak tertentu.
Para inspektur juga diharapkan mengambil sampel dari tabung yang ditemukan di TKP yang diyakini berisi zat beracun yang jatuh dari pesawat atau helikopter.
Rusia dan Suriah pekan lalu mengadakan pertemuan bagi negara-negara anggota OPCW untuk mendukung pernyataan Moskow bahwa tidak ada senjata kimia yang digunakan di Douma dan serangan itu dilakukan oleh pemberontak.
Baca: Saksi Douma: Tidak Ada Serangan, Korban, Tidak Ada Senjata Kimia
Pertemuan itu diboikot oleh beberapa negara anggota OPCW, yang mencela acara Rusia itu sebagai "latihan propaganda yang kasar" yang dimaksudkan untuk melemahkan pekerjaan OPCW.
Baca: Rusia Hadirkan Saksi Serangan Kimia, Barat Boikot Pertemuan OPCW
Inggris, AS, Prancis, Jerman dan sejumlah negara lain, dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa semua materi yang dikumpulkan sejauh ini mendukung teori mereka bahwa senjata kimia digunakan di Douma.
"Informasi yang dikumpulkan hingga saat ini tidak dapat disangkal," kata mereka pada saat itu. LSM-LSM medis yang telah menemukan jejak-jejak zat kimia dan bukti foto serta video yang dikonfirmasi memperkuat teori keracunan gas oleh ratusan korban.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menyatakan keprihatinan pada laporan dari mitranya yang menunjukkan tanda dan gejala yang konsisten dengan paparan bahan kimia beracun.
Penyelidikan bersama PBB-OPCW tahun lalu menyimpulkan bahwa pasukan pemerintah Suriah menggunakan gas saraf sarin dan klorin dalam beberapa serangan.
Misi bersama berakhir pada November setelah Rusia berulang kali memblokir resolusi Dewan Keamanan PBB yang akan memperpanjang mandatnya.
(ian)