Diancam Dibunuh, Pilot Cantik Pertama Afghanistan Diberi Suaka AS

Kamis, 03 Mei 2018 - 22:48 WIB
Diancam Dibunuh, Pilot...
Diancam Dibunuh, Pilot Cantik Pertama Afghanistan Diberi Suaka AS
A A A
WASHINGTON - Pilot jet tempur wanita pertama Afghanistan, Niloofar Rahmani, 27, diberi suaka di Amerika Serikat (AS) setelah dia diancam dibunuh di negara asalnya. Ancaman terhadap pilot cantik ini berasal dari kelompok Taliban dan anggota keluarganya sendiri.

Rahmani yang sebelumnya menjadi kapten angkatan udara Afghanistan mulai mendaftar untuk menjadi pilot pada usia 18 tahun di bawah lisensi koalisi pimpinan AS. Dia menjadi selebriti nasional setelah lulus dari sekolah pelatihan pilot pada tahun 2013.

Namun, baik dirinya maupun kerabat dekatnya menjadi sasaran ancaman pembunuhan oleh Taliban dan anggota keluarganya sendiri. Ancaman itu membuat Rahmani dan kerabatnya bersembunyi.

Baca: Perkenalkan, Rahmani Pilot Tempur Cantik Pertama Afghanistan

Pada 2015, Kapten Rahmani dibawa ke AS dan menerima State Department’s International Women of Courage Award, sebuah penghargaan untuk wanita pemberani dari Departemen Luar Negeri AS.

Rahmani mengaku senang dan bersyukur telah diberi suaka di AS. "Yang saya inginkan sekarang adalah kembali ke mimpi terbang saya," katanya kepada Wall Street Journal.

"Saya akhirnya bisa menjalani hidup saya dengan damai," ujar Rahmani, yang dikutip Kamis (3/5/2018). "Sekarang semua kekhawatiran saya adalah tentang keluarga saya di Afghanistan."

Keberhasilan Kapten Rahmani melambungkannya ke ketenaran internasional sebagai simbol kemajuan di negara konservatif. Tetapi, popularitas membuatnya jadi target serangan kelompok pemberontak yang tidak senang.

Pada 2013 dia menerima panggilan telepon dan surat berisi ancam di rumahnya. Sebuah surat ditandatangani oleh Taliban dengan peringatan yang berbunyi; "Jika Anda terus melakukan pekerjaan Anda, Anda akan bertanggung jawab atas kehancuran Anda dan keluarga Anda".

Dia juga diperingatkan untuk belajar dari Malala Yousafzai, aktivis remaja perempuan yang ditembak kepalanya oleh Taliban saat pulang sekolah. Malala diserang karena mengampanyekan pendidikan untuk anak-anak perempuan. Beruntung dia cepat diterbangkan ke Inggris dan nyawanya bisa terselamatkan.

Saudara lelaki Rahmani menjadi sasaran tabrak lari dan upaya penembakan. Sedangkan saudara perempuannya mengalami perceraian dan terputus aksesnya untuk melihat anaknya.

Keluarga Rahmani dipaksa untuk pindah dari rumah mereka setelah beberapa paman dan sepupu masuk ke rumah tersebut. Rahmani sebelumnya mengatakan bahwa dia tidak akan pernah menempatkan keluarganya pada kondisi seperti itu jika dia tahu betapa buruknya dampak dari keinginannya menjadi pilot.

Afghanistan masih menjadi tempat berbahaya di tengah perang sipil yang telah berkecamuk selama lebih dari 16 tahun. Sebuah laporan baru-baru ini menunjukkan 14,5 persen distrik di negara berada di bawah kendali pemberontak, sedangkan jumlah tentara menurun.

Pada hari Senin, sepuluh wartawan tewas dalam ledakan dua bom bunuh diri di Kabul. Serangan bom itu terjadi menjelang Hari Kebebasan Pers Dunia.
(mas)
Berita Terkait
Taliban dan Gagalnya...
Taliban dan Gagalnya Amerika Serikat Membangun Negara Boneka di Afghanistan
Iran: Pengusiran Amerika...
Iran: Pengusiran Amerika Serikat dari Afghanistan 'Memalukan'
Senator Republik: Amerika...
Senator Republik: Amerika Serikat Akan Kembali ke Afghanistan
China: Mesin-mesin Perang...
China: Mesin-mesin Perang Amerika Serikat Jadi Taman Bermain Taliban
Menlu Amerika Serikat...
Menlu Amerika Serikat Blinken ke Qatar dan Jerman Bahas Afghanistan
Amerika Serikat Kirim...
Amerika Serikat Kirim Pesawat Pembom untuk Setop Kemajuan Taliban
Berita Terkini
Pemimpin Baru Hamas...
Pemimpin Baru Hamas Ungkap 6 Prioritas, Agenda Utama Akhiri Serangan Israel di Gaza
2 jam yang lalu
Selamat dari Serangan...
Selamat dari Serangan di Selat Hormuz, 3 Pelaut Thailand Gugat Pemilik Kapal
3 jam yang lalu
IRGC pada Warga Kuwait:...
IRGC pada Warga Kuwait: Amerika Serikat, Bukan Iran, yang Langgar Kedaulatan Anda
4 jam yang lalu
AS Terus Serang Iran...
AS Terus Serang Iran tapi Malah Ketakutan, Peringatkan Warganya di Seluruh Dunia
5 jam yang lalu
Menlu Rubio Klaim Iran...
Menlu Rubio Klaim Iran Memohon Kesepakatan dengan AS, Ancam 1 Kepala untuk 1 Mata
6 jam yang lalu
Lebih dari 2.300 Pemukim...
Lebih dari 2.300 Pemukim Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa, Hamas dan Yordania Murka
7 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved