Duterte: Pangkalan Militer China di LCS Hanya untuk Mengancam AS

Selasa, 20 Februari 2018 - 15:01 WIB
Duterte: Pangkalan Militer...
Duterte: Pangkalan Militer China di LCS Hanya untuk Mengancam AS
A A A
MANILA - Filipina mengaku tidak khawatir dengan keberadaan pangkalan militer China di Laut China Selatan (LCS). Menurut Presiden Rodrigo Duterte pangkalan militer itu bertujuan untuk melawan pengaruh Amerika Serikat (AS).

Duterte menegaskan bahwa Manila bisa menyelesaikan perselisihannya dengan Beijing secara diplomatis. Filipina percaya bahwa instalasi militer China tidak dimaksudkan untuk menghadapi tetangga, melainkan untuk mengusir AS dari wilayah tersebut.

Militer AS dan China sering mengalami kebuntuan di LCS. China mengklaim perairan yang memberikan pemasukan sebesar USD5 triliun per tahun, bersama dengan Taiwan, Vietnam, Filipina, Indonesia, Malaysia dan Brunei. Sementara AS, yang tidak tidak memiliki klaim teritorial di wilayah tersebut, selalu menekankan perlunya kebebasan navigasi di wilayah tersebut dan menentang klaim China.

"China membangun bangunan dan pangkalan militer. Aku harus mengakuinya. Tapi apakah itu dimaksudkan untuk kita? Anda pasti bercanda," ujar Duterte kepada pengusaha China-Filipina di sebuah pertemuan di Manila yang dihadiri oleh Duta Besar China untuk Filipina Zhao Jianhua.

"Itu tidak dimaksudkan untuk kita. Kekuatan ideologis yang bersaing dengan dunia atau geopolitik telah sangat berubah. Ini benar-benar ditujukan untuk melawan orang-orang yang orang China pikir akan menghancurkan mereka. Dan itu adalah Amerika," jelasnya seperti dikutip dari RT, Selasa (20/2/2018).

Duterte menekankan bahwa Manila akan mengikuti "diplomatik" dengan Beijing mengenai sengketa teritorial dan menghindari provokasi militer di wilayah tersebut. Pada bulan Juli 2016, hakim di Den Haag memutuskan bahwa China telah menyebabkan kerusakan yang tidak dapat dipulihkan atas ekosistem Kepulauan Spratly dan melanggar hak kedaulatan Filipina. Pengadilan di Den Haag dalam putusannya mengatakan tidak ada dasar hukum bagi China untuk mengklaim hak historis atas sumber daya di dalam wilayah laut yang termasuk dalam garis sembilan mil," mengacu pada garis demarkasi di peta laut dari tahun 1947. Namun, Beijing telah mengabaikan keputusan tersebut.

"Kita tidak bisa pergi ke sana, naiki apa saja, Angkatan Laut, kapal abu-abu, Coast Guard dan mulai melambaikan senapan kita. Kita tidak bisa melakukannya hari ini. Ini tidak realistis. Itu tidak dibenarkan," kata Duterte.

"Lalu mengapa saya pergi ke sana, membawa Angkatan Laut saya, tentara saya, polisi saya dan semuanya hanya untuk disembelih?" cetusnya.

"Saya tidak akan menyerahkan kehidupan warga Filipina hanya untuk sebuah kematian yang tidak perlu. Saya tidak akan masuk ke dalam pertempuran yang tidak pernah bisa saya menangkan. Kita tidak bisa melakukannya hari ini. Ini tidak realistis," imbuh Duterte, menandakan bahwa dia siap untuk melakukan pendekatan dengan China mengenai masalah ini.

Duterte bahkan bercanda tentang membuat Filipina menjadi provinsi di China, meremehkan gerakan China yang menggunakan nama-nama China ke beberapa fitur bawah laut di Pasifik milik Filipina.

"Jika Anda mau, Anda bisa menjadikan kami sebuah provinsi, seperti Fujian. Provinsi Filipina, Republik China," tukas Duterte.
(ian)
Berita Terkait
Filipina dan China Bentrok,...
Filipina dan China Bentrok, 1 Tentara Terluka
Menlu Filipina kepada...
Menlu Filipina kepada China: Keluar dari Laut China Selatan!
Bersitegang dengan China,...
Bersitegang dengan China, Filipina Bangun Stasiun Pemantau di LCS
Duterte: Konflik dengan...
Duterte: Konflik dengan China Pasti Berujung Pertumpahan Darah
Menhan Filipina: Beijing...
Menhan Filipina: Beijing Ingin Caplok Lebih Banyak Wilayah di Laut China Selatan
Filipina: Dunia Dukung...
Filipina: Dunia Dukung Kami, China Sendirian
Berita Terkini
AS Terus Serang Iran...
AS Terus Serang Iran tapi Malah Ketakutan, Peringatkan Warganya di Seluruh Dunia
44 menit yang lalu
Menlu Rubio Klaim Iran...
Menlu Rubio Klaim Iran Memohon Kesepakatan dengan AS, Ancam 1 Kepala untuk 1 Mata
1 jam yang lalu
Lebih dari 2.300 Pemukim...
Lebih dari 2.300 Pemukim Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa, Hamas dan Yordania Murka
2 jam yang lalu
Iran Ungkap Radar AS...
Iran Ungkap Radar AS Mengalami Malam Gelap akibat Serangan Rudal
3 jam yang lalu
AS Luncurkan Serangan...
AS Luncurkan Serangan Hari Ke-12, Iran Siap Terapkan Doktrin 'Mata Ganti Mata'
4 jam yang lalu
AS Restui Arab Saudi...
AS Restui Arab Saudi Miliki Program Nuklir, Israel Ketakutan
4 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved