Korut Peringatkan AS: Berhenti Melamunkan Pembicaraan Denuklirisasi
Minggu, 05 November 2017 - 00:17 WIB
Korut Peringatkan AS: Berhenti Melamunkan Pembicaraan Denuklirisasi
A
A
A
PYONGYANG - Rezim Korea Utara (Korut) mengesampingkan pembicaraan denuklirisasi dengan Amerika Serikat (AS). Sebaliknya, Pyongyang mengancam akan terus meningkatkan persenjataan nuklirnya.
Peringatan terbaru Pyongyang kepada Washington melalui kantor berita negara Korut, KCNA, ini muncul saat Presiden Donald Trump memulai lawatan keliling Asia.
Dalam editorialnya, media pemerintah Kim Jong-un itu menyatakan bahwa Washington harus dilecehkan karena membuat “gagasan yang tidak masuk akal”. Gagasan yang dimaksud adalah AS memaksa Korut menyerah pada sanksi internasional dan melucuti senjata nuklirnya.
“(Korut) sudah di tahap akhir untuk menyelesaikan (persenjataan) nuklir untuk pencegahan,” tulis KCNA. ”Lebih baik berhenti melamunkan pembicaraan denuklirisasi dengan kita,” lanjut komentar media Pyongyang itu dalam artikel berjudul “Stop dreaming a daydream”.
”Pedang berharga nuklir pertahanan diri kita akan dipertajam sampai akhir kecuali kebijakan AS yang bermusuhan dihapuskan sekali dan untuk selamanya,” imbuh tulisan media pemerintah Korea Utara tersebut.
Sementara itu, Presiden Donald Trump yang memulai lawatan lima negara Asia (Korea Selatan, Jepang, China, Vietnam dan Filipina) semakin agresif dalam menyampaikan retorikanya terkait program senjata nuklir Korut.
”Kami punya satu masalah. Itu disebut Korea Utara,” kata Trump kepada Fox News, Sabtu (4/11/2017).
“Saya harus mengatakan kepada Anda bahwa Korea Utara adalah hal yang saya pikir akan kami selesaikan dan jika kami tidak menyelesaikannya, itu tidak akan sangat menyenangkan bagi mereka. Itu tidak akan menyenangkan bagi siapa pun,” ujar Trump.
Peringatan terbaru Pyongyang kepada Washington melalui kantor berita negara Korut, KCNA, ini muncul saat Presiden Donald Trump memulai lawatan keliling Asia.
Dalam editorialnya, media pemerintah Kim Jong-un itu menyatakan bahwa Washington harus dilecehkan karena membuat “gagasan yang tidak masuk akal”. Gagasan yang dimaksud adalah AS memaksa Korut menyerah pada sanksi internasional dan melucuti senjata nuklirnya.
“(Korut) sudah di tahap akhir untuk menyelesaikan (persenjataan) nuklir untuk pencegahan,” tulis KCNA. ”Lebih baik berhenti melamunkan pembicaraan denuklirisasi dengan kita,” lanjut komentar media Pyongyang itu dalam artikel berjudul “Stop dreaming a daydream”.
”Pedang berharga nuklir pertahanan diri kita akan dipertajam sampai akhir kecuali kebijakan AS yang bermusuhan dihapuskan sekali dan untuk selamanya,” imbuh tulisan media pemerintah Korea Utara tersebut.
Sementara itu, Presiden Donald Trump yang memulai lawatan lima negara Asia (Korea Selatan, Jepang, China, Vietnam dan Filipina) semakin agresif dalam menyampaikan retorikanya terkait program senjata nuklir Korut.
”Kami punya satu masalah. Itu disebut Korea Utara,” kata Trump kepada Fox News, Sabtu (4/11/2017).
“Saya harus mengatakan kepada Anda bahwa Korea Utara adalah hal yang saya pikir akan kami selesaikan dan jika kami tidak menyelesaikannya, itu tidak akan sangat menyenangkan bagi mereka. Itu tidak akan menyenangkan bagi siapa pun,” ujar Trump.
(mas)