Kekasih Tak Tahu Paddock Rencanakan Pembantaian Massal Las Vegas

Kamis, 05 Oktober 2017 - 07:28 WIB
Kekasih Tak Tahu Paddock...
Kekasih Tak Tahu Paddock Rencanakan Pembantaian Massal Las Vegas
A A A
LAS VEGAS - Marilou Danley, 62, mengaku tidak tahu bahwa kekasihnya, Stephen Paddock, 64, merencanakan dan menjalankan pembantaian massal di Las Vegas. Aksi penembakan massal Paddock menewaskan 58 orang dan lebih dari 500 orang lainnya.

Danley mengeluarkan pernyataan tersebut pada hari Rabu setelah dia kembali ke Amerika Serikat (AS) dari kediaman pribadinya di Filipina, di mana dia telah menghabiskan waktu dua minggu.

Ketika diinterogasi oleh agen FBI, Danley, mengatakan bahwa dia mencintai kekasihnya, Stephen Paddock. Dia mengenal Paddock sebagai orang baik hati, perhatian dan pendiam.

”Dia tidak pernah mengatakan apapun kepada saya atau melakukan tindakan yang saya sadari dengan cara apapun untuk menjadi peringatan bahwa sesuatu yang mengerikan seperti ini akan terjadi,” katanya.

Dia mengatakan Paddock telah menyarankan agar dia pergi ke Filipina setelah dia menemukan harga rumah yang murah. Dia senang saat Paddock mengirim uangnya ke Filipina untuk membeli rumah tersebut, tapi kemudian dia takut bahwa itu adalah cara untuk putus hubungan dengannya.

”Tidak pernah terpikir oleh saya dalam hal apapun bahwa dia merencanakan kekerasan terhadap siapa pun," kata Danley, dalam pernyataan yang dibacakan oleh pengacaranya, Matthew Lombard, di luar kantor pusat FBI di Los Angeles.

Danley mengatakan bahwa dia sangat terpukul oleh serangan terhadap penonton konser yang merupakan serangan mematikan terburuk dalam sejarah AS modern.

”Saya adalah seorang ibu dan nenek dan hati saya hancur untuk semua orang yang telah kehilangan orang yang dicintai,” ujarnya.

Danley mengatakan bahwa dia kembali ke AS dengan sukarela dan akan bekerja sama sepenuhnya dengan penyelidikan tersebut. Polisi mengatakan bahwa perempuan itu bisa menjadi kunci untuk memahami motif Paddock.

Wakil Direktur FBI Andrew McCabe menambahkan, penyidik masih sibuk merekonstruksi kehidupan pelaku dan perilakunya dalam minggu-minggu terakhir menjelang serangan. Pemeriksaan mencakup komputer dan ponsel pelaku.

”Individu ini tidak meninggalkan bekas sidik jari yang mudah diakses yang Anda temukan pada serangan massal,” kata McCabe, seperti dikutip The Washington Post, Kamis (5/10/2017).
(mas)
Berita Terkait
Suhu Udara di California...
Suhu Udara di California Tembus 100 Derajat Celcius
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Apa Pemicu Kehancuran...
Apa Pemicu Kehancuran Amerika Serikat?
Menhan Prabowo Bertemu...
Menhan Prabowo Bertemu Menhan Amerika Serikat
Pilpres Bagi Diaspora...
Pilpres Bagi Diaspora Indonesia di Amerika Serikat
Pilpres Amerika Serikat...
Pilpres Amerika Serikat Diwarnai Kericuhan di Washington
Berita Terkini
Profil Abelardo De La...
Profil Abelardo De La Espriella, Pengacara Berjam Tangan Mewah yang Jadi Presiden Baru Kolombia
37 menit yang lalu
Iran dan AS Sepakati...
Iran dan AS Sepakati Peta Jalan untuk Mengakhiri Perang
41 menit yang lalu
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
1 jam yang lalu
9 Kota di Mana Matahari...
9 Kota di Mana Matahari Hampir Tidak Pernah Terbenam atau Terbit saat Musim Panas
2 jam yang lalu
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
2 jam yang lalu
Ledakan Dahsyat Guncang...
Ledakan Dahsyat Guncang Situs LNG Qatar, 54 Orang Terluka, 18 Hilang
3 jam yang lalu
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved