Ingin Depak Trump dari Twitter, Eks Agen CIA Cari Rp13,3 Triliun
Kamis, 24 Agustus 2017 - 06:48 WIB
Ingin Depak Trump dari Twitter, Eks Agen CIA Cari Rp13,3 Triliun
A
A
A
WASHINGTON - Seorang mantan agen CIA meluncurkan kampanye penggalangan dana USD1 miliar atau sekitar Rp13,3 triliun untuk membeli Twitter. Tujuannya hanya untuk mendepak Presiden Donald Trump dari media sosial tersebut.
Mantan mata-mata Amerika Serikat (AS) ini bernama Valerie Plame Wilson. Identitasnya dibocorkan pejabat Washington di era Presiden Bush.
Dia mengaku muak dengan posting Presiden Trump yang dia anggap sarat dengan kekerasan dan kebencian.
Kampanye penggalangan dana dia luncurkan melalui GoFundMe. ”Jika para eksekutif Twitter tidak akan menutup kekerasan dan kebencian Trump, maka itu tergantung pada kami,” tulis dia dalam kampanye di Twitter dengan hashtag #BuyTwitter dan #BanTrump, seperti dikutip Russia Today, Kamis (24/8/2017).
Menurutnya, Trump telah melakukan banyak hal mengerikan di Twitter. Salah satunya, soal sikapnya yang dinilai pro kelompok supremasi kulit putih yang memberanikan diri untuk mempromosikan kekerasan terhadap wartawan. Tweet Trump juga dia anggap merusak negara dan membuat orang-orang dalam bahaya.
Ancaman perang nuklir Trump terhadap Korea Utara yang diumbar di Twitter turut dia jadikan alasan mengapa kampanye kekerasan Trump perlu dihentikan.
Plame Wilson meninggalkan CIA pada tahun 2005 setelah identitasnya dibocorkan ke media oleh seorang pejabat di pemerintahan George W Bush pada tahun 2003. Pengungkapan identitasnya itu sebagai upaya untuk mendiskreditkan suaminya, Joe Wilson, seorang mantan diplomat yang mengkritik pemerintahan Bush terkait invasi ke Irak.
Kampanye penggalangan dana untuk membeli media sosial itu telah menghasilkan USD 8.500 atau masih jauh dari target USD1 miliar.
Jika target USD1 miliar tidak tercapai, rencana cadangan Plame adalah menggunakan uang apa pun yang untuk membeli saham pengendali media sosial tersebut.
Mantan mata-mata Amerika Serikat (AS) ini bernama Valerie Plame Wilson. Identitasnya dibocorkan pejabat Washington di era Presiden Bush.
Dia mengaku muak dengan posting Presiden Trump yang dia anggap sarat dengan kekerasan dan kebencian.
Kampanye penggalangan dana dia luncurkan melalui GoFundMe. ”Jika para eksekutif Twitter tidak akan menutup kekerasan dan kebencian Trump, maka itu tergantung pada kami,” tulis dia dalam kampanye di Twitter dengan hashtag #BuyTwitter dan #BanTrump, seperti dikutip Russia Today, Kamis (24/8/2017).
Menurutnya, Trump telah melakukan banyak hal mengerikan di Twitter. Salah satunya, soal sikapnya yang dinilai pro kelompok supremasi kulit putih yang memberanikan diri untuk mempromosikan kekerasan terhadap wartawan. Tweet Trump juga dia anggap merusak negara dan membuat orang-orang dalam bahaya.
Ancaman perang nuklir Trump terhadap Korea Utara yang diumbar di Twitter turut dia jadikan alasan mengapa kampanye kekerasan Trump perlu dihentikan.
Plame Wilson meninggalkan CIA pada tahun 2005 setelah identitasnya dibocorkan ke media oleh seorang pejabat di pemerintahan George W Bush pada tahun 2003. Pengungkapan identitasnya itu sebagai upaya untuk mendiskreditkan suaminya, Joe Wilson, seorang mantan diplomat yang mengkritik pemerintahan Bush terkait invasi ke Irak.
Kampanye penggalangan dana untuk membeli media sosial itu telah menghasilkan USD 8.500 atau masih jauh dari target USD1 miliar.
Jika target USD1 miliar tidak tercapai, rencana cadangan Plame adalah menggunakan uang apa pun yang untuk membeli saham pengendali media sosial tersebut.
(mas)