Duterte Ancam Habisi Politisi Bos Narkoba dengan Serangan Udara

Rabu, 09 Agustus 2017 - 16:04 WIB
Duterte Ancam Habisi...
Duterte Ancam Habisi Politisi Bos Narkoba dengan Serangan Udara
A A A
MANILA - Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengeluarkan ancaman bagi para politisi yang juga menjadi bos obat bius. Duterte mengancam akan menggunakan seluruh kekuatan militer, termasuk mengirim jet tempur untuk membom lokasi mereka.

Dalam sebuah pidato, Duterte mengungkapkan bahwa ia telah memperluas daftar politisi yang diduga terlibat dalam perdagangan narkoba.

"Bahkan jika Anda memiliki 100-200 orang bersenjata, itu tidak akan membantu. Kenada Anda melawan? Saya memiliki 12 jet FA-50. Saya akan menjatuhkan lima bom pada Anda. Saya benar-benar akan menggunakan kekuatan pemerintah," kata Duterte seperti dikutip dari Russia Today, Selasa (9/8/2017).

"Sudah saya katakan agar tidak bertentangan dengan pemerintah. Saya akan menggunakan pemerintah karena saya harus melindungi orang-orang yang mewakili pemerintah. Saya tidak akan ragu," tegasnya.

Tentara swasta yang dipimpin oleh politisi dan klan kuat telah lama menjadi keamanan reguler di Filipina, terutama di pulau selatan Mindanao. Pulau ini dirusak oleh konflik dengan gerilyawan komunis dan Muslim serta kelompok teroris, Abu Sayyaf, yang terkait dengan ISIS.

Peringatan terakhir Duterte ini terjadi lebih dari seminggu setelah Reynaldo Parojinog, walikota Ozamiz City, ditembak mati bersama 13 orang lainnya, termasuk istri dan saudaranya, saat baku tembak meletus dalam operasi anti-narkoba. Parojinog telah berada di daftar Duterte sejak tahun 2016, dan Duterte mencela dia dan keluarganya sebagai gangster.

Tuduhan menggunakan perang terhadap narkoba sebagai metode untuk mengusir lawan politik juga telah muncul secara lokal.

Lebih dari 7.000 orang tewas dalam tindakan polisi terhadap pengedar narkoba sejak dimulainya masa jabatan presiden Duterte pada Juli 2016, menurut data dari Kepolisian Nasional Filipina (PNP).

Pihak berwenang Filipina telah mengklaim bahwa sebagian besar kematian tersebut berasal dari tersangka yang menolak ditangkap dalam operasi polisi. Sedangkan sejumlah korban lainnya tewas di tangan warga atau sindikat kejahatan yang bersaing di luar hukum.

Sementara itu, kelompok hak asasi manusia menuduh ada sebuah kebijakan yang tidak resmi yang memberlakukan sanksi untuk membasmi tersangka narkoba, sementara petugas kepolisian secara aktif berkolusi dengan warga tersebut.
(ian)
Berita Terkait
Diskusi Peta dan Kemunculan...
Diskusi Peta dan Kemunculan Bangsa Filipina dengan Pembicara Sejarawan Ternama
Presiden Filipina Duterte...
Presiden Filipina Duterte Bersaing dengan Putrinya Perebutkan Kursi Wapres
Pelaku Bom Filipina...
Pelaku Bom Filipina Disebut WNI, Menlu: Masih Diselidiki
Musuh Sekaligus Pengkritik...
Musuh Sekaligus Pengkritik Perang Narkoba Duterte Maju Pilpres Filipina
Duterte Incar Kursi...
Duterte Incar Kursi Wapres Filipina setelah Lengser
Rencanakan Pemboman,...
Rencanakan Pemboman, 'Calon Pengantin' Perempuan Diciduk Tentara Filipina
Berita Terkini
AS dan Iran Berdamai,...
AS dan Iran Berdamai, MBS: Semua untuk Kepentingan Bersama
44 menit yang lalu
Ini Teks Resmi 14 Poin...
Ini Teks Resmi 14 Poin Kesepakatan Damai AS dan Iran
2 jam yang lalu
Kesepakatan Iran Mencakup...
Kesepakatan Iran Mencakup Dana Rp5.327 Triliun, Setengahnya Sudah Jadi Komitmen
2 jam yang lalu
PM Kanada Akui G7 Tidak...
PM Kanada Akui G7 Tidak Lagi Kendalikan Dunia
3 jam yang lalu
Israel Danai Pemukim...
Israel Danai Pemukim Ekstremis, Bayar Rp34 Miliar Per Bulan
4 jam yang lalu
Kapal Tanker Ketiga...
Kapal Tanker Ketiga Pembawa Minyak Iran Keluar dari Garis Blokade AS
5 jam yang lalu
Infografis
Houthi Klaim Mampu Gagalkan...
Houthi Klaim Mampu Gagalkan Serangan Udara AS dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved