Seteru Diplomatik, Warga Qatar: Kami Tak Butuh Produk Saudi!
Jum'at, 30 Juni 2017 - 14:35 WIB
Seteru Diplomatik, Warga Qatar: Kami Tak Butuh Produk Saudi!
A
A
A
DOHA - Tak lama setelah Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya menutup perbatasan Qatar awal bulan ini karena perselisihan diplomatik, penduduk di Doha membanjiri supermarket untuk mencari persediaan pangan.
Banyak yang menimbun produk dari Almarai, perusahaan susu yang berbasis di Arab Saudi dan yang terbesar di Timur Tengah. Mereka takut implikasi blokade terhadap sebuah negara yang 80 persen stok pangannya merupakan hasil impor.
Tetapi reaksi itu berubah ketika negara-negara seperti Turki dan Iran menolong dengan memasok produk susu dan produk pangan lainnya di setiap supermarket Qatar. Bantuan Turki dan Iran ini spontan mengubah reaksi warga Qatar untuk memboikot produk-produk Saudi dan negara-negara Arab yang memusuhi Doha.
Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar atas tuduhan Doha mendukung terorisme. Empat negara itu kemudian memblokade Qatar. Pemerintah Qatar telah membantah tuduhan tersebut.
”Orang-orang semua bertanya dari mana produk (pangan ini) berasal. Jika saya mengatakannya kepada mereka (berasal dari) Saudi atau Dubai, mereka tidak mau,” kata Ranjit Kumar Pulami, seorang salesclerk di toko kelontong Al Meera di Doha.
”Saya tidak membeli produk tersebut,” sahut Fahad Jassim Al Tamemi, salah satu dari banyak warga Qatar pemboikot produk yang berasal dari negara-negara yang memusuhi Qatar.
Para pekerja restoran mengatakan bahwa makanan dari Saudi dan UEA diminta para pelanggan agar dikeluarkan dari dapur mereka.
Di supermarket, produk Almarai diberi label diskon dalam upaya menyingkirkan kebencian warga Qatar. Tapi, para konsumen di negara kecil itu terlanjur suka dengan produk susu dari Turki.
”Tiba-tiba, kami hengkang dari orang-orang yang memberi banyak susu segar kepada kami, kami minum susu Turki yang rasanya aneh, jujur saja,” kata Hessa, 22, seorang wanita Qatar yang mengklaim bahwa dia, keluarga dan semua tetangganya telah membuang produk Saudi.
Dia melanjutkan tanggapannya terhadap produk susu Turki. ”Tapi kami masih mengatakan, 'Kami menyukainya! Susu Turki sangat bagus! Kami tidak membutuhkan produk Saudi!',” kesal Hessa, seperti dilansir Al Jazeera, Jumat (30/6/2017).
Namun, reaksi para warga Qatar ini bukan sikap resmi pemerintah Doha. Pemerintah Qatar sejak awal menegaskan bahwa mereka tidak akan membalas negara-negara Arab yang menjatuhkan sanksi.
Qatar Media Corporation bahkan merilis sebuah iklan yang menggambarkan seorang wanita Qatar membeli susu Arab Saudi untuk meredam gejolak aksi pemboikotan produk Saudi oleh warga Doha.
Banyak yang menimbun produk dari Almarai, perusahaan susu yang berbasis di Arab Saudi dan yang terbesar di Timur Tengah. Mereka takut implikasi blokade terhadap sebuah negara yang 80 persen stok pangannya merupakan hasil impor.
Tetapi reaksi itu berubah ketika negara-negara seperti Turki dan Iran menolong dengan memasok produk susu dan produk pangan lainnya di setiap supermarket Qatar. Bantuan Turki dan Iran ini spontan mengubah reaksi warga Qatar untuk memboikot produk-produk Saudi dan negara-negara Arab yang memusuhi Doha.
Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar atas tuduhan Doha mendukung terorisme. Empat negara itu kemudian memblokade Qatar. Pemerintah Qatar telah membantah tuduhan tersebut.
”Orang-orang semua bertanya dari mana produk (pangan ini) berasal. Jika saya mengatakannya kepada mereka (berasal dari) Saudi atau Dubai, mereka tidak mau,” kata Ranjit Kumar Pulami, seorang salesclerk di toko kelontong Al Meera di Doha.
”Saya tidak membeli produk tersebut,” sahut Fahad Jassim Al Tamemi, salah satu dari banyak warga Qatar pemboikot produk yang berasal dari negara-negara yang memusuhi Qatar.
Para pekerja restoran mengatakan bahwa makanan dari Saudi dan UEA diminta para pelanggan agar dikeluarkan dari dapur mereka.
Di supermarket, produk Almarai diberi label diskon dalam upaya menyingkirkan kebencian warga Qatar. Tapi, para konsumen di negara kecil itu terlanjur suka dengan produk susu dari Turki.
”Tiba-tiba, kami hengkang dari orang-orang yang memberi banyak susu segar kepada kami, kami minum susu Turki yang rasanya aneh, jujur saja,” kata Hessa, 22, seorang wanita Qatar yang mengklaim bahwa dia, keluarga dan semua tetangganya telah membuang produk Saudi.
Dia melanjutkan tanggapannya terhadap produk susu Turki. ”Tapi kami masih mengatakan, 'Kami menyukainya! Susu Turki sangat bagus! Kami tidak membutuhkan produk Saudi!',” kesal Hessa, seperti dilansir Al Jazeera, Jumat (30/6/2017).
Namun, reaksi para warga Qatar ini bukan sikap resmi pemerintah Doha. Pemerintah Qatar sejak awal menegaskan bahwa mereka tidak akan membalas negara-negara Arab yang menjatuhkan sanksi.
Qatar Media Corporation bahkan merilis sebuah iklan yang menggambarkan seorang wanita Qatar membeli susu Arab Saudi untuk meredam gejolak aksi pemboikotan produk Saudi oleh warga Doha.
(mas)