Mudik, Eks Budak Seks ISIS Tuntut Pengakuan Genosida Yazidi

Sabtu, 03 Juni 2017 - 05:49 WIB
Mudik, Eks Budak Seks...
Mudik, Eks Budak Seks ISIS Tuntut Pengakuan Genosida Yazidi
A A A
MOSUL - Nadia Murad mudik ke kampung asalnya Kocho di Irak untuk pertama kalinya sejak dia diculik militan ISIS pada tahun 2014. Korban budak seks ISIS ini menuntut masyarakat dunia mengakui genosida terhadap etnis Yazidi.

”Saya adalah anak perempuan desa ini,” kata Murad, yang meneteskan air mata saat diwawancarai Reuters ketika tiba di kampung asalnya.

ikelilingi para milisi Yazidi yang berhasil merebut desa mereka dari kelompok Islamic State atau ISIS pekan lalu, perempuan 24 tahun itu berbicara dari atap sekolah lamanya.

“Kami berharap bahwa takdir kami akan seperti orang-orang, tapi sebaliknya milisi Eropa, Saudi, Tunisia dan milisi lainnya datang memperkosa dan menjual kami,” ujar Murad, yang dikutip Sabtu (3/6/2017).

Murad adalah satu dari sekitar 7.000 wanita dan anak-anak yang diculik ISIS dari Kocho, Irak barat laut pada bulan Agustus 2014. Orang-orang di desanya telah dieksekusi kelompok tersebut. Beberapa anak Yazidi dikirim ke kamp pelatihan dan sisanya dijadikan satu dengan para perempuan untuk dipaksa menjadi budak.

Ibu Murad dieksekusi karena dianggap terlalu tua oleh milisi ISIS untuk dijadikan sebagai budak seks. Murad dibawa ke Mosul di mana dia berulang kali diperkosa dan disiksa.

Tiga minggu kemudian, dia berhasil melarikan diri, menuju ke sebuah kamp pengungsi di Kurdistan sebelum lari ke Jerman. Dia kemudian menjadi aktivis untuk orang-orang Yazidi, yang dianiaya oleh ISIS.

Murad pernah masuk daftar nominasi penerima Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2015 atas pekerjaannya.

Berbicara dari desanya, Murad mengkritik masyarakat internasional karena gagal melindungi etnis Yazidis. Dia menuntut warga dunia membantu membebaskan sekitar 3.500 wanita dan anak-anak, termasuk salah satu keponakannya yang masih ditahan ISIS.

”Saya mengatakan kepada siapapun bahwa Anda bersikap tidak adil karena tidak mendukung minoritas seperti Yazidis,” kritik Murad.

”Masyarakat internasional belum menyampaikan tanggung jawabnya,” ujarnya.
(mas)
Berita Terkait
Enam Tahun Pasca Serangan...
Enam Tahun Pasca Serangan ISIS, Nasib Kaum Yazidi Masih Belum Jelas
Irak Setop Tayangan...
Irak Setop Tayangan Prank Berbau Aksi Teror
Bom Sepeda Motor Tewaskan...
Bom Sepeda Motor Tewaskan 4 Orang di Irak, Diduga Dilakukan ISIS
ISIS Masih Kuat, NATO...
ISIS Masih Kuat, NATO akan Kirim 3.500 Pasukan Tambahan ke Irak
Warga Irak Sambut Paus...
Warga Irak Sambut Paus Fransiskus di Bekas Pertahanan ISIS
Pernah Jajah Irak, George...
Pernah Jajah Irak, George Bush Akui Tak Tahu Banyak Urusan Internasional
Berita Terkini
Apakah Strategi Panas...
Apakah Strategi Panas dan Dingin yang dilakukan Trump untuk Menekan Iran Bisa Sukses?
1 jam yang lalu
Pasukan Khusus AS Siapkan...
Pasukan Khusus AS Siapkan Operasi Perebutan Bom Nuklir Iran, Ini 7 Strateginya
1 jam yang lalu
Setelah Ribuan Gen Z...
Setelah Ribuan Gen Z Berdemo selama Berminggu-minggu, Menteri Pendidikan India Mundur
4 jam yang lalu
Viral di Media Sosial,...
Viral di Media Sosial, Jet Tempur AS Diduga Jatuh di Iran pada Serangan ke-13
5 jam yang lalu
Siapa Yu Deng dan Hong...
Siapa Yu Deng dan Hong Wang? Matematikawan China yang Memecahkan Masalah Paling Sulit di Dunia
6 jam yang lalu
Selama 30 Tahun, Kakek...
Selama 30 Tahun, Kakek di Singapura Ini Perkosa 11 Gadis, Termasuk Anak, Cucu, hingga Keponakan
7 jam yang lalu
Infografis
Jadwal One Way, Contra...
Jadwal One Way, Contra Flow, dan Ganjil-Genap Mudik Lebaran 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved