Korban Perang Yaman, Gadis 7 Tahun Meninggal usai Kelaparan

Kamis, 04 Mei 2017 - 06:06 WIB
Korban Perang Yaman,...
Korban Perang Yaman, Gadis 7 Tahun Meninggal usai Kelaparan
A A A
HUDAYDAH - Mata Jamila Ali Abdu, 7, setengah terbuka dan kondisinya tak berdaya. Jamila selama 12 hari terakhir tinggal di bangsal gizi buruk di rumah sakit Hudaydah, Yaman.

Gadis cilik yang tak bersalah ini menjadi korban perang di negaranya. Dia menderita kelaparan dan gizi buruk. Dokter menyatakan, dia menderita cacingan dan sudah sulit diobati.

Setelah berhari-hari tak berdaya di bangsal gizi buruk rumah sakit, gadis tujuh tahun ini mengembuskan napas terakhir. Saudaranya membungkus tubuh Jamila dengan kain kafan warna hijau kekuning-kuningan.

Tangis saudaranya tak terbendung ketika memasukkan jenazah Jamila ke sebuah kuburan berdebu, hari Selasa, 2 Mei 2017 lalu.

”Kondisinya telah memburuk selama dua tahun terakhir. Setiap kali kami pergi ke rumah sakit, mereka mengatakan bahwa dia memiliki cacing dan bakteri,” keluh ayah Jamila, Ali, sebelum putrinya meninggal.

“Kami tidak bisa kemana-mana, kami orang miskin dan tidak bisa pergi ke (Kota) Sanaa atau tempat lain,” ujarnya, yang menceritakan dokter di Kota Hudaydah sudah tidak sanggup menolong putrinya.

Sebelum perang sipil pecah di Yaman, penduduk desa tempat Ali tinggal sudah dilanda bencana kekeringan. Warga kerap pergi ke pantai Laut Merah untuk mendapatkan bantuan air bersih, makanan dan obat-obatan. Namun, setelah perang pecah, kondisi semakin mengerikan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa seorang anak di bawah usia lima tahun di Yaman meninggal setiap 10 menit. Penyebabnya antara lain, kelaparan, penyakit, sanitasi yang buruk dan kurangnya perawatan medis.

Sekjen PBB Antonio Guterres pada pekan lalu memperingatkan tentang kelaparan yang melumpuhkan seluruh generasi di Yaman.

Hampir 17 juta dari 28 juta orang di Yaman dinyatakan “tak aman dari kebutuhan makanan” oleh para kelompok penyalur bantuan. Sekitar 7 juta orang tidak tahu ke mana mereka akan mendapatkan makanan pada hari-hari berikutnya.

Setelah berkunjung ke Yaman, Kepala Dewan Pengungsi Norwegia Jan Egeland mengutuk pihak-pihak yang bertikai di Yaman. Dia menuntut diakhirinya perang yang jadi malapetaka di Yaman. ”Ini adalah kegagalan besar diplomasi internasional,” katanya, seperti dikutip Reuters, Kamis (4/5/2017).
(mas)
Berita Terkait
Hanya Jadi Boneka, PM...
Hanya Jadi Boneka, PM Yaman Ahmed bin Mubarak Pilih Mundur
Setelah Assad Tumbang,...
Setelah Assad Tumbang, Mungkinkah Rakyat Yaman Jatuhkan Houthi dengan Dukungan Israel dan AS?
Israel Sebut Musuh Terberatnya...
Israel Sebut Musuh Terberatnya Sekarang Adalah Houthi
Arab Saudi Ancam STC...
Arab Saudi Ancam STC yang Ingin Menguasai Hadramaut
Saudi Bertarung dengan...
Saudi Bertarung dengan UEA di Yaman, Berikut 6 Faktanya
Yaman Terpecah Belah,...
Yaman Terpecah Belah, Akankah Intervensi Arab Saudi dan UEA Sukses?
Berita Terkini
Trump Cari Jalan Keluar...
Trump Cari Jalan Keluar Secepatnya untuk Hindari Dampak Politik dan Ekonomi Perang Iran
34 menit yang lalu
2 Pemain Sepak Bola...
2 Pemain Sepak Bola Brasil Masuk Daftar Pembunuhan oleh Situs Ukraina
1 jam yang lalu
Presiden Asosiasi Sepak...
Presiden Asosiasi Sepak Bola Palestina Kecam AS Tunda Visa untuk Acara Piala Dunia
2 jam yang lalu
Militer AS Bangun Pangkalan...
Militer AS Bangun Pangkalan Baru di Dekat Perbatasan Gaza untuk Dukung Rencana Pasca-Perang
3 jam yang lalu
Trump Puji Unggahan...
Trump Puji Unggahan Menlu Iran tentang Kemungkinan Kesepakatan AS-Iran Sangat Positif
4 jam yang lalu
Menlu Iran Ungkap MoU...
Menlu Iran Ungkap MoU dengan AS Mencakup Lebanon dan Blokade Paman Sam
5 jam yang lalu
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved