HRW: Serangan Udara AS Hantam Masjid di Suriah
Selasa, 18 April 2017 - 13:22 WIB
HRW: Serangan Udara AS Hantam Masjid di Suriah
A
A
A
DAMASKUS - Amerika Serikat (AS) gagal mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menghindari jatuhnya sepasang bom di sebuah masjid yang penuh dengan ratusan jamaah di sebelah utara Suriah. Demikian bunyi laporan terbaru terkait konflik di Suriah.
Warga Suriah mengatakan serangan udara AS menghantam sebuah masjid di Aleppo barat pada 16 Maret lalu. Serangan itu menewaskan sedikitnya 40 jamaah dan melukai puluhan lainnya. AS mengatakan pemboman itu menargetkan balai pertemuan kelompok teroris al-Qaeda seperti dikutip dari CNN, Selasa (18/4/2017).
"Wawancara dengan penduduk setempat dan foto-foto serta video dari bangunan tersebut membuktikan itu sebuah masjid terkenal yang menyelenggarakan ceramah setiap hari Kamis antara matahari terbenam dan shalat malam," menurut laporan Human Rights Watch (HRW) yang baru.
HRW mengatakan setiap usaha untuk mengumpulkan informasi tentang bangunan akan mengungkap jika masjid tersebut tempat populer bagi penduduk untuk berkumpul pada saat serangan terjadi. Selanjutnya, penyelidikan tidak menemukan bukti untuk mendukung klaim AS bahwa anggota al-Qaeda atau kelompok bersenjata lainnya bertemu di masjid itu.
"AS tampaknya telah mendapat beberapa hal mendasar yang salah dalam serangan ini, dan puluhan warga sipil harus membayar harganya," kata Wakil Direktur Keadaan Darurat HRW, Ole Solvang.
"Pihak berwenang AS perlu mencari tahu apa yang salah, mulai melakukan pekerjaan rumah mereka sebelum mereka memulai serangan, dan pastikan itu tidak terjadi lagi," imbuhnya.
Militer AS mengatakan pada Maret bahwa serangan udara menewaskan "beberapa teroris" di lokasi pertemuan teroris senior Al Qaeda di Idlib. Seorang pejabat militer AS mengkonfirmasi kepada CNN bahwa pesawat tempur Amerika yang melakukan serangan udara di daerah itu. Tapi pejabat itu mengatakan serangan menghantam sebuah bangunan 40 sampai 50 kaki dari masjid, dan mengatakan citra satelit menunjukkan masjid masih berdiri.
Namun laporan Human Rights Watch mengatakan militer AS salah mengidentifikasi lokasi serangan, dan itu adalah barat daya dari al-Jinah, tidak di Idlib.
Menggunakan penelitian dari open source kelompok investigasi Bellingcat, yang menganalisis rekaman video dan foto-foto dari serangan, dan Arsitektur Forensik, yang menciptakan model dari masjid dan rekonstruksi serangan itu, HRW mengatakan hal itu dapat menguatkan klaim bahwa bangunan itu sebuah masjid.
Lokasi dari dua kawah besar memperlihatkan jika bom pertama menghantam masjid saat shalat, membuat mereka yang selamat melarikan diri sebelum serangan ke dua. "Sejumlah warga yang berada di lokasi kejadian membantu mencari korban yang tewas," aku seorang saksi kepada HRW.
Laporan itu menyebutkan foto-foto bangunan sebelum serangan menunjukkan rak sepatu dan karpet untuk shalat, menunjukkan jika bangunan itu adalah sebuah masjid. Selain itu, foto yang diambil dari gedung setelah serangan itu menunjukkan sebuah tanda di tengah puing-puing yang bertuliskan "Masjid Saydina Omar bin Al-Khattab."
Laporan itu menyerukan otoritas AS untuk membuat temuan publik hasil penyelidikan atas serangan. HRW juga meminta AS memberikan ganti rugi yang memadai untuk korban sipil dan keluarga mereka. HRW juga meminta AS menahan mereka yang bertanggung jawab.
Warga Suriah mengatakan serangan udara AS menghantam sebuah masjid di Aleppo barat pada 16 Maret lalu. Serangan itu menewaskan sedikitnya 40 jamaah dan melukai puluhan lainnya. AS mengatakan pemboman itu menargetkan balai pertemuan kelompok teroris al-Qaeda seperti dikutip dari CNN, Selasa (18/4/2017).
"Wawancara dengan penduduk setempat dan foto-foto serta video dari bangunan tersebut membuktikan itu sebuah masjid terkenal yang menyelenggarakan ceramah setiap hari Kamis antara matahari terbenam dan shalat malam," menurut laporan Human Rights Watch (HRW) yang baru.
HRW mengatakan setiap usaha untuk mengumpulkan informasi tentang bangunan akan mengungkap jika masjid tersebut tempat populer bagi penduduk untuk berkumpul pada saat serangan terjadi. Selanjutnya, penyelidikan tidak menemukan bukti untuk mendukung klaim AS bahwa anggota al-Qaeda atau kelompok bersenjata lainnya bertemu di masjid itu.
"AS tampaknya telah mendapat beberapa hal mendasar yang salah dalam serangan ini, dan puluhan warga sipil harus membayar harganya," kata Wakil Direktur Keadaan Darurat HRW, Ole Solvang.
"Pihak berwenang AS perlu mencari tahu apa yang salah, mulai melakukan pekerjaan rumah mereka sebelum mereka memulai serangan, dan pastikan itu tidak terjadi lagi," imbuhnya.
Militer AS mengatakan pada Maret bahwa serangan udara menewaskan "beberapa teroris" di lokasi pertemuan teroris senior Al Qaeda di Idlib. Seorang pejabat militer AS mengkonfirmasi kepada CNN bahwa pesawat tempur Amerika yang melakukan serangan udara di daerah itu. Tapi pejabat itu mengatakan serangan menghantam sebuah bangunan 40 sampai 50 kaki dari masjid, dan mengatakan citra satelit menunjukkan masjid masih berdiri.
Namun laporan Human Rights Watch mengatakan militer AS salah mengidentifikasi lokasi serangan, dan itu adalah barat daya dari al-Jinah, tidak di Idlib.
Menggunakan penelitian dari open source kelompok investigasi Bellingcat, yang menganalisis rekaman video dan foto-foto dari serangan, dan Arsitektur Forensik, yang menciptakan model dari masjid dan rekonstruksi serangan itu, HRW mengatakan hal itu dapat menguatkan klaim bahwa bangunan itu sebuah masjid.
Lokasi dari dua kawah besar memperlihatkan jika bom pertama menghantam masjid saat shalat, membuat mereka yang selamat melarikan diri sebelum serangan ke dua. "Sejumlah warga yang berada di lokasi kejadian membantu mencari korban yang tewas," aku seorang saksi kepada HRW.
Laporan itu menyebutkan foto-foto bangunan sebelum serangan menunjukkan rak sepatu dan karpet untuk shalat, menunjukkan jika bangunan itu adalah sebuah masjid. Selain itu, foto yang diambil dari gedung setelah serangan itu menunjukkan sebuah tanda di tengah puing-puing yang bertuliskan "Masjid Saydina Omar bin Al-Khattab."
Laporan itu menyerukan otoritas AS untuk membuat temuan publik hasil penyelidikan atas serangan. HRW juga meminta AS memberikan ganti rugi yang memadai untuk korban sipil dan keluarga mereka. HRW juga meminta AS menahan mereka yang bertanggung jawab.
(ian)