Karyawan Deplu AS Dituding Terima Uang dari Agen Rahasia China

Kamis, 30 Maret 2017 - 06:32 WIB
Karyawan Deplu AS Dituding...
Karyawan Deplu AS Dituding Terima Uang dari Agen Rahasia China
A A A
WASHINGTON - Seorang pegawai Departemen Luar Negeri (Deplu) Amerika Serkat (AS) yang mempunyai akses ke informasi sensitif dituduh tidak melaporkan kontaknya dengan agen intelijen China. Agen intelijen China itu memberikan hadiah dalam rangka pertukaran informasi diplomatik dan ekonomi, kata jaksa federal.

Candace Claiborne (60) didakwa di pengadilan federal Washington dengan menghalang-halangi hukum dan membuat pernyataan palsu ke Biro Investigasi Federal.

Claborne dituduh telah menerima puluhan ribu dolar dalam bentuk hadiah dan transfer kawat oleh agen China mulai tahun 2011. Hadiah itu sebagai imbalan dalam dalam pertukaran informasi tentang kebijakan ekonomi AS dalam kaitannya dengan China dan hal-hal diplomatik lainnya.

Claiborne dan co-konspirator yang tidak diidentifikasi dalam dokumen pengadilan menerima barang-barang seperti manik-manik, mesin jahit, sandal tidur, pembayaran SPP ke sekolah mode di China dan biaya liburan ke Thailand.

"Claiborne diduga gagal melaporkan kontaknya dengan agen intelijen asing asal China yang memberinya dengan ribuan dolar hadiah dan keuntungan,” kata AS Pejabat Asisten Jaksa Agung Mary McCord. seperti dikutip dari Reuters, Kamis (30/3/2017).

Claiborne dipantau di bawah surat perintah Foreign Intelligence Surveillance Court, atau surat perintah FISA, kata jaksa.

Clairborne pun terancam hukuman 20 tahun penjara karena menghalang-halangi keadilan dan lima tahun penjara karena membuat pernyataan palsu ke FBI.

Claiborne muncul di hadapan hakim hakim dengan pengacaranya, David Bos, namun keduanya menolak untuk berbicara dengan wartawan. Claiborne akan tetap menjadi tahanan rumah sampai sidang pendahuluan yang akan dihelat pada 18 April.

Claiborne telah bekerja di Departemen Luar Negeri sejak tahun 1999, di mana dia bertugas di sejumlah pos luar negeri termasuk kedutaan dan konsulat di Irak, Sudan dan China.

"Ketika pelayan masyarakat diduga potensial melakukan pelanggaran atau kejahatan federal yang melanggar kepercayaan publik, kita dengan penuh semangat menyelidiki klaim tersebut," kata juru bicara Deplu Mark Toner.

Tuduhan terhadap Claiborne diumumkan menjelang pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada 6-7 April. Pertemuan ini dilakukan di tengah ketegangan yang meningkat di antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia atas Korea Utara, Laut Cina Selatan, Taiwan dan perdagangan. Trump bersikap kritis terhadap China selama kampanye presiden 2016 lalu.

Para pejabat AS menuduh China meretas instansi pemerintah AS dan perusahaan-perusahaan Amerika dalam beberapa tahun terakhir.
(ian)
Berita Terkait
Presiden Taiwan Terbang...
Presiden Taiwan Terbang ke Amerika Serikat, China Murka
Khawatir Agresivitas...
Khawatir Agresivitas China, Amerika Serikat Dekati Indonesia
Inilah Perbandingan...
Inilah Perbandingan Kekuatan Militer China vs Amerika Serikat
Dijegal Amerika Serikat,...
Dijegal Amerika Serikat, Mobil Listrik China Semakin Banting Harga
Media China Sindir Kerusuhan...
Media China Sindir Kerusuhan di Amerika Serikat
China Tuding Amerika...
China Tuding Amerika Serikat Kacaukan Semenanjung Korea
Berita Terkini
Mengapa Pentagon Diam-diam...
Mengapa Pentagon Diam-diam Ubah Jumlah Tentara yang Terluka dan Tewas Akibat Perang Iran?
16 menit yang lalu
Eropa Bagai Neraka Akibat...
Eropa Bagai Neraka Akibat Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas, Ini 5 Faktanya
1 jam yang lalu
Putin Klaim Armada Kapal...
Putin Klaim Armada Kapal Pemecah Es Rusia Tak Memiliki Pesaing
2 jam yang lalu
Houthi dan Milisi Irak...
Houthi dan Milisi Irak Kompak Serang Arab Saudi, Riyadh: Agresor Itu Didukung Iran
4 jam yang lalu
Dunia Harus Alihkan...
Dunia Harus Alihkan Perhatian ke Tepi Barat! Israel Terus Caplok Tanah Warga Palestina
6 jam yang lalu
10 Raja Terkaya di Dunia,...
10 Raja Terkaya di Dunia, Nomor 1 Punya Harta Tembus Rp700 Triliun
6 jam yang lalu
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved