Inggris Nyatakan Tak Akan Ada Referendum Kedua di Skotlandia
Kamis, 09 Maret 2017 - 21:38 WIB
Inggris Nyatakan Tak Akan Ada Referendum Kedua di Skotlandia
A
A
A
LONDON - Inggris menyatakan, mereka tidak percaya akan adanya referendum kedua di Skotlandia. Ini merupakan respon atas pernyataan Menteri Pertama Skotlandia Nicola Sturgeon, yang menyebut referendum kedua bisa digelar di musim gugur 2018.
Sturgeon mengatakan, akan menjadi masuk akal untuk Skotlandia untuk mengadakan referendum kemerdekaan kedua dalam waktu dekat. Hal ini, menurut Stugeron tidak lepas dari adanya Brexit.
Namun, juru bicara Perdana Menteri Inggris Theresa May menyatakan, referendum di Skotlandia hanya akan terjadi sekali saja dalam sejarah. Referendum itu digelar pada tahun 2014 lalu, dimana Skotlandia memutuskan untuk tetap bersama Inggris.
"Kami sangat jelas kita tidak percaya harus ada referendum kedua," kata juru bicara Theresa May dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Reuters pada Kamis (9/3).
"Referendum hanya diadakan tahun 2014. Itu adalah suara yang adil, tegas dan legal, kedua belah pihak sepakat untuk mematuhi itu dan kami berpikir kedua belah pihak harus terus menghormati hal itu, dan adanya diskusi mengenai referendum kedua adalah sebuah gangguan," tukasnya.
Sturgeon mengatakan, akan menjadi masuk akal untuk Skotlandia untuk mengadakan referendum kemerdekaan kedua dalam waktu dekat. Hal ini, menurut Stugeron tidak lepas dari adanya Brexit.
Namun, juru bicara Perdana Menteri Inggris Theresa May menyatakan, referendum di Skotlandia hanya akan terjadi sekali saja dalam sejarah. Referendum itu digelar pada tahun 2014 lalu, dimana Skotlandia memutuskan untuk tetap bersama Inggris.
"Kami sangat jelas kita tidak percaya harus ada referendum kedua," kata juru bicara Theresa May dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Reuters pada Kamis (9/3).
"Referendum hanya diadakan tahun 2014. Itu adalah suara yang adil, tegas dan legal, kedua belah pihak sepakat untuk mematuhi itu dan kami berpikir kedua belah pihak harus terus menghormati hal itu, dan adanya diskusi mengenai referendum kedua adalah sebuah gangguan," tukasnya.
(esn)