Erdogan Jamin Stabilitas Politik dan Keamanan

Sabtu, 11 Februari 2017 - 22:40 WIB
Erdogan Jamin Stabilitas...
Erdogan Jamin Stabilitas Politik dan Keamanan
A A A
ANKARA - Presiden Turki Tayyip Erdogan menyepakati reformasi konstitusi yang akan digelar pada 16 April mendatang. Perubahan konstitusi itu bertujuan untuk memperkuat kekuasaan Erdogan dengan mengubah dari sistem parlementer menjadi presidensial.

Perubahan konstitusi itu diperkirakan akan mendapatkan dukungan mayoritas rakyat Turki. Sistem presidensial, menurut Erdogan, dianggap sebagai jaminan stabilitas jika terjadi ketegangan dan kudeta. Meskipun oposisi menganggap perubahan konstitusi bisa menjadi celah munculnya pemimpin otoriter.

“Dengan persetujuan presiden, kini perubahan konstitusi di tangan YSK (Dewan Pemilu Tinggi). YSK akan mengumumkan 16 April akan menjadi tanggal yang tepat untuk pelaksanaan referendum,” kata Deputi Perdana Menteri Numan Kurtulmus, dilansir Reuters. Dalam konstitusi baru itu mengizinkan presiden untuk mengeluarkan dekrit, peraturan darurat, penunjukan menteri, dan pembubaran parlemen.

“Reformasi konstitusi akan mencegah perpecahan koalisi parlemen seperti yang terjadi di masa lalu. Itu juga dibutuhkan ketika Turki menghadapi situasi keamanan yang tidak kondusif dan serangkaian pengeboman yang dilakukan gerilyawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan Kurdi,” ungkap Erdogan.

Reformasi konstitusi itu akan berjalan mulus karena Erdogan dan para pendukungnya menguasai stasiun televisi dan media. Apalagi, Erdogan yang telah berkuasa sejak 2003 mengatakan siapa yang menentang perubahan konstitusi berarti memberikan kesempatan bagi kelompok gerilyawan yang ingin memecah belah Turki.

Dua partai utama oposisi menolak reformasi konstitusi. Mereka khawatir itu akan memperkuat kekuasaan Erdogan. Ketidakpastian politik Turki kerap mengganggu investor, apalagi pertumbuhan ekonomi sudah melambat dan gangguan keamanan kerap terjadi di negara tersebut. Parlemen Turki menyepakati reformasi konstitusi pada bulan lalu dengan meraih 330 suara dari 550 kursi.

Jika konstitusi disepakati pada referendum April mendatang, itu akan menjadi kesempatan bagi Erdogan untuk berkuasa hingga 2029. Dalam pandangan pakar politik dari Universitas Kadir Has, Ahmet Kasim Han, juri sebenarnya telah keluar. “Kelemahan utama adalah terlalu tergesa-gesa untuk meloloskan reformasi,” kata Han dilansir BBC. Dia mengatakan pemerintah tidak menjelaskan perubahan 2.000 undang-undang lainnya.
(esn)
Berita Terkait
Timnas Indonesia Dibungkam...
Timnas Indonesia Dibungkam Inggris 0-3 di Piala Dunia Amputasi
Banyak Bangunan Ambruk...
Banyak Bangunan Ambruk Saat Gempa, Turki Tahan 180 Orang
Hikmah di Balik Bencana,...
Hikmah di Balik Bencana, Perbatasan Armenia-Turki Dibuka untuk Pertama Kalinya
Jaga Amanah 106 Tahun,...
Jaga Amanah 106 Tahun, Keluarga Palestina Serahkan Uang Tentara Turki Utsmani
Harapan di Tengah Reruntuhan...
Harapan di Tengah Reruntuhan Gempa Dahsyat Turki-Suriah
Pelepasan Bantuan Kemanusiaan...
Pelepasan Bantuan Kemanusiaan ke Turki
Berita Terkini
Militer China Mempromosikan...
Militer China Mempromosikan 2 Jenderal Baru setelah Banyak yang Dipecat karena Korupsi
28 menit yang lalu
Badai Ganas Ancam Gagalkan...
Badai Ganas Ancam Gagalkan Pidato Trump di Hari Kemerdekaan AS, Ribuan Orang Berhamburan Kabur
1 jam yang lalu
Takut Ditangkap, Menteri...
Takut Ditangkap, Menteri Israel Itamar Ben-Gvir Dilaporkan Batal Terbang ke New York
1 jam yang lalu
Ayat Al-Quran tentang...
Ayat Al-Qur'an tentang Perang Badar dalam Seremoni Pemakaman Khamenei, Pujian atau Ejekan untuk Arab Saudi?
2 jam yang lalu
Giliran Lithuania Akan...
Giliran Lithuania Akan Cabut Larangan Senjata Nuklir, Rusia Makin Terancam
3 jam yang lalu
Rusia Sebut Selat Hormuz...
Rusia Sebut Selat Hormuz Adalah 'Senjata Nuklir'-nya Iran
4 jam yang lalu
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved