Banyak ABK Indonesia di Kapal Ikan Asing Jadi Korban Eksploitasi

Kamis, 12 Januari 2017 - 21:39 WIB
Banyak ABK Indonesia...
Banyak ABK Indonesia di Kapal Ikan Asing Jadi Korban Eksploitasi
A A A
JAKARTA - Direktur Perlindungan Warga Negara dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri Indonesia, Lalu Muhammad Iqbal menyatakan, mayoritas anak buah kapal (ABK) asal Indonesia yang bekerja di kapal asing adalah korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Mereka hidup layaknya budak.
Iqbal menuturkan, jika melihat TPPO ABK, 90 persen dari ABK yang bekerja di kapal asing akan mudah melihat adanya indikasi mereka sebagai korban eksploitasi. Hal ini, lanjut Iqbal, karena tata kelola di dalam negeri masih belum bagus, dan di tingkat internasional pun belum baik.
"Di tingkat internasional ada yang namanya Maritime Law Convention (MLC), itu yang mengurusi masalah ABK, tapi ABK perikanan dikecualikan dari MLC itu. Jadi, ABK perikanan ini di tingkat internasional menyebut namanya saja belum jelas, apakah mereka nelayan atau pelaut. Disebut pelaut, mereka tidak punya kemampuan pelaut, karena namanya non-rating work," ucap Iqbal pada Kamis (12/1).
"Karena ambigunya, konvensinya pun di ILO disebut pekerja sektor perikanan, tidak menyebut profesinya. Karena di sektor perikanan, kapalnya itu kecil dan 80 persen muatannya itu ikan, sisanya bahan bakar. Jadi hanya kecil sekali ruang bagi para pekerja. Kapal-kapal lain ada jadwalnya, kalau kapal ikan tidak ada, mereka berlayar sampai kapalnya penuh, mereka bisa 1 tahun tidak berlabuh," sambungnya.
Dia menyebut ada beberapa alasan yang menyebabkan ini terjadi, salah satunya adalah karena tidak adanya sistem perekrutan ABK untuk bekerja di kapal asing di dalam negeri. Jadi tidak jarang mereka yang direkrut adalah yang tidak memiliki skil, tanpa paspor, dengan buku pelaut palsu, dan terkadang mereka direkrut oleh pihak ketiga di Indonesia.
"Kadang mereka tanda tangan perjanjian disini, lalu mereka dibawa ke Singapura dan tanda tangan perjanjian lagi di sana, seringnya dengan bahasa yang tidak mereka mengerti. Lalu naik ke kapal dan langsung berlayar ke Cape Town, atau wilayah lainnya. Mereka bekerja di kapal Taiwan, tapi tidak pernah menginjakan kaki di Taiwan," ucapnya.
"Sektor yang paling rentan bukan hanya TKI, tapi ABK. Bahkan situasi kemanusiaan jauh lebih buruk ABK dibanding dengan TKI. 90 persen yang bermasalah adalah mereka yang bekerja di kapal Taiwan," tukas Iqbal.
(esn)
Berita Terkait
Tetap Bangga, Suporter...
Tetap Bangga, Suporter Lantunkan Nyanyian Terima Kasih untuk Timnas Indonesia U-23
Viral ! Suporter Timnas...
Viral ! Suporter Timnas Indonesia U-23 Salat Berjamaah Sebelum Lawan Australia
Indonesia jadi Tuan...
Indonesia jadi Tuan Rumah Forum Indonesia-Afrika
Omicron Masuk Indonesia,...
Omicron Masuk Indonesia, Ini Kata Epidemiolog Universitas Indonesia
Jokowi Janji ke Timnas...
Jokowi Janji ke Timnas RI untuk Buatkan Training Center
Lezatnya Aneka Kuliner...
Lezatnya Aneka Kuliner Jawa di Event Warisan Budaya Indonesia
Berita Terkini
5 Negara yang Mampu...
5 Negara yang Mampu Membuat Jet Tempur Sendiri, Ada yang Produksinya Mencapai Ratusan Unit per Tahun
8 menit yang lalu
Rudal Iran Guncang Israel,...
Rudal Iran Guncang Israel, Trump: Netanyahu Tak Boleh Balas Dendam
32 menit yang lalu
IRGC Serang 3 Pangkalan...
IRGC Serang 3 Pangkalan Militer Zionis, Israel Gempur 5 Kota Iran
41 menit yang lalu
AS Hendak Beli Kepulauan...
AS Hendak Beli Kepulauan Chagos, Ini Tujuannya
1 jam yang lalu
Iran Luncurkan Gelombang...
Iran Luncurkan Gelombang Kedua Serangan Rudal, Jenderal Tertinggi Israel Sembunyi di Bunker
2 jam yang lalu
Tak Hanya Iran, Houthi...
Tak Hanya Iran, Houthi Yaman Juga Tembakkan Rudal ke Israel
3 jam yang lalu
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved