PBB Gagal Identifikasi Pelaku Serangan Konvoi Bantuan ke Aleppo
Kamis, 22 Desember 2016 - 14:55 WIB
PBB Gagal Identifikasi Pelaku Serangan Konvoi Bantuan ke Aleppo
A
A
A
NEW YORK - PBB gagal mengidentifikasi pelaku serangan terhadap konvoi bantuan ke Aleppo pada September lalu. Para penyelidik hanya memberikan kesimpulan bahwa pengiriman bantuan kemanusiaan itu dihancurkan oleh serangan udara.
"Dewan menemukan bahwa, insiden itu disebabkan oleh serangan udara, tidak mungkin untuk mengidentifikasi pelaksana atau pelaku kejahatan tersebut," bunyi laporan Dewan Penyelidikan PBB seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (22/12/2016).
Meski gagal menunjuk pihak yang bertanggung jawab, tim penyidik PBB menemukan beberapa jenis amunisi yang ditembakkan oleh lebih dari satu dan jenis pesawat yang menyerang konvoi.
"Amunisi yang digunakan termasuk bom cluster non presisi dan atau senjata udara ke darat yang bisa saja rudal, roket atau bom-bom sub mesiu," jelas Dewan Penyidik.
Menurut ringkasan, itu baik pasukan koalisi internasional yang dipimpin oleh Washington maupun angkatan udara Rusia dan Suriah memiliki kemampuan untuk melakukan serangan itu. Sedangkan kelompok bersenjata oposisi Suriah tidak memiliki kemampuan untuk menyerang konvoi.
Panel juga mencatat bahwa sangat tidak mungkin itu adalah serangan koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS). Pasalnya tidak ada pesawat dari koalisi internasional yang diduga terlibat dalam serangan tersebut.
Panel menuduh bahwa serangan itu kemungkinan besar dilakukan oleh pasukan pro-pemerintah. Namun ringkasan laporan PBB yang dirilis oleh Sekretaris Jenderal Ban Ki-moon menemukan bahwa dewan tidak memiliki bukti untuk menyimpulkan insiden serangan yang disengaja pada target kemanusiaan itu.
Konvoi bantuan kemanusiaan PBB diserang pada 19 September lalu saat akan memasuki Aleppo. Serangan itu terjadi di Urum al-Kubra, sebelah barat dari Aleppo, menewaskan kepala Bulan Sabit Merah Suriah serta staf bantuan dan supir yang tergabung dalam konvoi 31 truk.
"Dewan menemukan bahwa, insiden itu disebabkan oleh serangan udara, tidak mungkin untuk mengidentifikasi pelaksana atau pelaku kejahatan tersebut," bunyi laporan Dewan Penyelidikan PBB seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (22/12/2016).
Meski gagal menunjuk pihak yang bertanggung jawab, tim penyidik PBB menemukan beberapa jenis amunisi yang ditembakkan oleh lebih dari satu dan jenis pesawat yang menyerang konvoi.
"Amunisi yang digunakan termasuk bom cluster non presisi dan atau senjata udara ke darat yang bisa saja rudal, roket atau bom-bom sub mesiu," jelas Dewan Penyidik.
Menurut ringkasan, itu baik pasukan koalisi internasional yang dipimpin oleh Washington maupun angkatan udara Rusia dan Suriah memiliki kemampuan untuk melakukan serangan itu. Sedangkan kelompok bersenjata oposisi Suriah tidak memiliki kemampuan untuk menyerang konvoi.
Panel juga mencatat bahwa sangat tidak mungkin itu adalah serangan koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS). Pasalnya tidak ada pesawat dari koalisi internasional yang diduga terlibat dalam serangan tersebut.
Panel menuduh bahwa serangan itu kemungkinan besar dilakukan oleh pasukan pro-pemerintah. Namun ringkasan laporan PBB yang dirilis oleh Sekretaris Jenderal Ban Ki-moon menemukan bahwa dewan tidak memiliki bukti untuk menyimpulkan insiden serangan yang disengaja pada target kemanusiaan itu.
Konvoi bantuan kemanusiaan PBB diserang pada 19 September lalu saat akan memasuki Aleppo. Serangan itu terjadi di Urum al-Kubra, sebelah barat dari Aleppo, menewaskan kepala Bulan Sabit Merah Suriah serta staf bantuan dan supir yang tergabung dalam konvoi 31 truk.
(ian)