Kehilangan Figur Bapak, Ribuan Rakyat Thailand Tangisi Raja Bhumibol
Jum'at, 14 Oktober 2016 - 15:24 WIB
Kehilangan Figur Bapak, Ribuan Rakyat Thailand Tangisi Raja Bhumibol
A
A
A
BANGKOK - Ribuan rakyat Thailand pada Jumat (14/10/2016), menangis ketika jasad Raja Bhumibol Adulyadej hendak dibawa ke tepi sungai di Grand Palace untuk prosesi kremasi. Para warga Thailand mengaku kehilangan figur seorang bapak setelah raja yang paling dihormati itu meninggal di usia 88 tahun pada Kamis petang.
Raja Bhumibol sudah memerintah Kerajaan Thailand selama 70 tahun. Dia dianggap sosok “Bapak Thailand” dan sosok pemersatu.
Sepeninggal Raja Bhumibol, tidak sedikit warga Thailand khawatir dengan masa depan negaranya. Sejak semalam, banyak warga Thailand memadati rute rumah sakit menuju istana.
”Saya masih merasa seperti bermimpi. Saya tidak percaya hal ini terjadi," kata Supawan Wongsawas, 64, seorang pensiunan pegawai negeri, seperti dikutip Reuters.
Suthad Kongyeam, 53, warga Thailand lainnya, mengaku seperti kehilangan seorang ayah. ”Dia adalah jantung dari seluruh negeri,” kata Suthad. ”Semuanya terguncang. Tidak ada yang memiliki pegangan lagi,” ujarnya.
Sementara itu, Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-ocha yang merupakan mantan pemimpin junta militer mengatakan bahwa keamanan Thailand jadi prioritas utama di masa-masa berkabung. Dia telah memerintahkan pengerahan tentara tambahan ke seluruh negeri.
Keamanan juga diperketat di sekitar istana, kuil, kantor-kantor kementerian dan jalan-jalan penting di Thailand. Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn yang diharapkan menjadi raja baru memilih menunda naik takhta karena harus berkabung atas meninggalnya sang ayah.
Raja Bhumibol sudah memerintah Kerajaan Thailand selama 70 tahun. Dia dianggap sosok “Bapak Thailand” dan sosok pemersatu.
Sepeninggal Raja Bhumibol, tidak sedikit warga Thailand khawatir dengan masa depan negaranya. Sejak semalam, banyak warga Thailand memadati rute rumah sakit menuju istana.
”Saya masih merasa seperti bermimpi. Saya tidak percaya hal ini terjadi," kata Supawan Wongsawas, 64, seorang pensiunan pegawai negeri, seperti dikutip Reuters.
Suthad Kongyeam, 53, warga Thailand lainnya, mengaku seperti kehilangan seorang ayah. ”Dia adalah jantung dari seluruh negeri,” kata Suthad. ”Semuanya terguncang. Tidak ada yang memiliki pegangan lagi,” ujarnya.
Sementara itu, Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-ocha yang merupakan mantan pemimpin junta militer mengatakan bahwa keamanan Thailand jadi prioritas utama di masa-masa berkabung. Dia telah memerintahkan pengerahan tentara tambahan ke seluruh negeri.
Keamanan juga diperketat di sekitar istana, kuil, kantor-kantor kementerian dan jalan-jalan penting di Thailand. Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn yang diharapkan menjadi raja baru memilih menunda naik takhta karena harus berkabung atas meninggalnya sang ayah.
(mas)