Kisah Zeena Altalib, Lepas dari Konflik dan Bangun Usaha di AS
Rabu, 05 Oktober 2016 - 15:15 WIB
Kisah Zeena Altalib, Lepas dari Konflik dan Bangun Usaha di AS
A
A
A
JAKARTA - Nama Zeena Altalib mungkin tak akrab di telinga publik Indonesia. Zeena adalah seorang perancang busana Muslim, sekaligus pemilik Prima Moda, salah satu toko baju Muslim berbasis online terbesar di Amerika Serikat (AS).
Ditemui di pusat kebudayaan AS di Jakarta pada Selasa (4/10), Zeena yang lahir di Mosul, Irak mengatakan, ia bermigrasi ke AS pada awal 1990 saat usianya masih 16 tahun. Dia kemudian mengenyam pendidikan di AS, dan lulus dari Univeritas George Masin tahun 2002. Ia mulai membangun Prima Moda pada tahun 2005.
"Saya berasal dari Irak, pada usia 16 tahun saya bermigrasi ke AS. Ayah saya kala itu memutuskan, demi masa depan yang lebih baik, kami harus keluar dari Irak. Hal itu sangat sulit, keluarga kami benar-benar mengawali semuanya dari nol. Bahkan, pada saat itu saya belum bisa berbahasa Inggris dan itu membuat situasi semakin sulit," paparnya.
"Lalu, perlahan saya mulai bersekolah dan melanjutkan ke jenjang univeritas. Selanjutnya saya bekerja di salah satu perusahaan AS. Saya juga telah mendapatkan gelar Master dalam bidang desain dan teknologi. Kemudian, saya memutuskan untuk membangun usaha saya sendiri dan saya memiliki ketertarikan kepada dunia fashion sedari kecil," ucap Zeena.
Dia mengatakan, sejak awal memulai usaha, banyak tantangan yang dihadapinya. Namun, hal itu tidak membuatnya mundur. Justru setiap penolakan dan kegagalan dijadikannya pembelajaran untuk terus maju.
"Banyak sekali tantangan saat saya memulai usaha ini. Pertama adalah karena saya seorang wanita, lalu sebagai seorang Muslim. Dan, tentu saja sebagai seorang wanita Muslim yang berusaha menjual pakaian bagi Muslim, dan itu sedikit bertentangan dengan kebisaan di sana," ungkapnya.
Namun, lanjut Zeena, ia memutuskan untuk melawan arus yang ada, walaupun teman-teman terdekat dan lingkungan selalu meragukan dirinya. Saat ini, ia bukan hanya sukses menjual pakaian Muslim di AS, tapi juga sukses melebarkan sayapnya hingga ke Eropa dan Asia.
Wanita yang usahanya berbasis di Virginia itu mengatakan selain mendeain sendiri, dia juga mengambil sejumlah produk dari beberapa negara Timur Tengah dan Asia, salah satunya Indonesia. "Saya mengambil barang dari Bogor," ucapnya.Saat ini, dia sudah bisa menjual lebih dari 1000 macam produk, mulai dari pakaian, aksesoris, hingga perlengkapan shalat, seperti mukena.
Ditemui di pusat kebudayaan AS di Jakarta pada Selasa (4/10), Zeena yang lahir di Mosul, Irak mengatakan, ia bermigrasi ke AS pada awal 1990 saat usianya masih 16 tahun. Dia kemudian mengenyam pendidikan di AS, dan lulus dari Univeritas George Masin tahun 2002. Ia mulai membangun Prima Moda pada tahun 2005.
"Saya berasal dari Irak, pada usia 16 tahun saya bermigrasi ke AS. Ayah saya kala itu memutuskan, demi masa depan yang lebih baik, kami harus keluar dari Irak. Hal itu sangat sulit, keluarga kami benar-benar mengawali semuanya dari nol. Bahkan, pada saat itu saya belum bisa berbahasa Inggris dan itu membuat situasi semakin sulit," paparnya.
"Lalu, perlahan saya mulai bersekolah dan melanjutkan ke jenjang univeritas. Selanjutnya saya bekerja di salah satu perusahaan AS. Saya juga telah mendapatkan gelar Master dalam bidang desain dan teknologi. Kemudian, saya memutuskan untuk membangun usaha saya sendiri dan saya memiliki ketertarikan kepada dunia fashion sedari kecil," ucap Zeena.
Dia mengatakan, sejak awal memulai usaha, banyak tantangan yang dihadapinya. Namun, hal itu tidak membuatnya mundur. Justru setiap penolakan dan kegagalan dijadikannya pembelajaran untuk terus maju.
"Banyak sekali tantangan saat saya memulai usaha ini. Pertama adalah karena saya seorang wanita, lalu sebagai seorang Muslim. Dan, tentu saja sebagai seorang wanita Muslim yang berusaha menjual pakaian bagi Muslim, dan itu sedikit bertentangan dengan kebisaan di sana," ungkapnya.
Namun, lanjut Zeena, ia memutuskan untuk melawan arus yang ada, walaupun teman-teman terdekat dan lingkungan selalu meragukan dirinya. Saat ini, ia bukan hanya sukses menjual pakaian Muslim di AS, tapi juga sukses melebarkan sayapnya hingga ke Eropa dan Asia.
Wanita yang usahanya berbasis di Virginia itu mengatakan selain mendeain sendiri, dia juga mengambil sejumlah produk dari beberapa negara Timur Tengah dan Asia, salah satunya Indonesia. "Saya mengambil barang dari Bogor," ucapnya.Saat ini, dia sudah bisa menjual lebih dari 1000 macam produk, mulai dari pakaian, aksesoris, hingga perlengkapan shalat, seperti mukena.
(esn)