PM Turki Sebut Pendukung Gulen Sebarkan Rumor Kudeta Kedua
Minggu, 02 Oktober 2016 - 07:02 WIB
PM Turki Sebut Pendukung Gulen Sebarkan Rumor Kudeta Kedua
A
A
A
ANKARA - Perdana Menteri Turki, Binali Yildirim, menuding anggota Organisasi Teroris Fethullah Gulen (Feto) menyebarkan rumor palsu tentang kemungkinan adanya kudeta kedua. Turki menuding ulama dan tokoh oposisi Fethullah Gulen sebagai dalang dari kudeta berdarah yang pecah pada bulan Juli lalu.
"Akan ada upaya baru [dari kudeta], diduga, itu akan menjadi malam ini, atau mereka akan datang besok. Ini adalah kebohongan yang Feto sebarkan untuk meletakkan dasar bagi kerusuhan sosial," kata Yildirim kepada wartawan.
Meski begitu, Yildirim menyatakan bahwa pihak kepolisian telah mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mencegah upaya perebutan kekuasaan tersebut tidak terjadi seperti dikutip dari Sputniknews, Minggu (2/10/2016).
Pada tanggal 15 Juli, upaya kudeta berlangsung di Turki, tapi berhasil ditekan pada hari berikutnya. Lebih dari 40.000 orang telah ditahan sejak percobaan penggulingan pemerintah Turki yang menyebabkan lebih dari 260 kematian.
Sebelumnya, Presiden Turki, Recep Tayyep Erdogan mengisyaratkan keadaan darurat di negaranya dapat diperpenjang lebih dari satu tahun. Pernyataan itu muncul sehari setelah dewan keamanan nasional Turki merekomendasikan keadaan darurat, yang diberlakukan pada 20 Juli lalu, harus diperpanjang selama tiga bulan.
"Akan ada upaya baru [dari kudeta], diduga, itu akan menjadi malam ini, atau mereka akan datang besok. Ini adalah kebohongan yang Feto sebarkan untuk meletakkan dasar bagi kerusuhan sosial," kata Yildirim kepada wartawan.
Meski begitu, Yildirim menyatakan bahwa pihak kepolisian telah mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mencegah upaya perebutan kekuasaan tersebut tidak terjadi seperti dikutip dari Sputniknews, Minggu (2/10/2016).
Pada tanggal 15 Juli, upaya kudeta berlangsung di Turki, tapi berhasil ditekan pada hari berikutnya. Lebih dari 40.000 orang telah ditahan sejak percobaan penggulingan pemerintah Turki yang menyebabkan lebih dari 260 kematian.
Sebelumnya, Presiden Turki, Recep Tayyep Erdogan mengisyaratkan keadaan darurat di negaranya dapat diperpenjang lebih dari satu tahun. Pernyataan itu muncul sehari setelah dewan keamanan nasional Turki merekomendasikan keadaan darurat, yang diberlakukan pada 20 Juli lalu, harus diperpanjang selama tiga bulan.
(ian)