Terungkap, Netanyahu Nyaris Bombardir Iran tapi Dicegah Peres
Sabtu, 01 Oktober 2016 - 13:26 WIB
Terungkap, Netanyahu Nyaris Bombardir Iran tapi Dicegah Peres
A
A
A
YERUSALEM - Sebuah laporan mengungkap bahwa mantan Presiden Israel, Shimon Peres, pernah mencegah langkah Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu untuk membombardir Iran. Peres merahasiakan tindakannya itu sampai kematiannya tiba.
Laporan perihal tindakan Peres yang menentang PM Netanyahu untuk meluncurkan serangan militer terhadap Iran itu dirilis Jerusalem Post. Netanyahu nyaris membombardir Iran ketika para pemimpin dunia melakukan perundingan nuklir Teheran.
Setelah negara-negara P5 + 1 (China, Prancis, Rusia, Inggris, Amerika Serikat dan Jerman) mencapai kesepakatan dengan Iran terkait solusi krisis nuklir Teheran, Israel mengancam mengambil tindakan sepihak terhadap Teheran. Dalam kesepakatan itu, Iran bersedia mengekang program nuklirnya dengan kompensasi pencabutan sanksi atau embargo dari negara-negara Barat.
Media Israel melansir rahasia yang disimpan Peres tepat sehari setelah kematiannya. Peres, menurut media itu, mengungkapkan bahwa dia sungguh-sungguh bertanggung jawab untuk menghentikan rencana Netanyahu menyerang Iran.
Pengungkapan Peres itu disampaikan kepada Managing Editor Jerusalem Post, David Brinn, di Peres Center for Peace di Jaffa pada tanggal 24 Agustus 2014.
Selama percakapan, Brinn bertanya apa pemcapaian terbesar Peres selama menjabat Presiden Israel tahun 2007-2014. Peres menjawab, dia sendirian campur tangan untuk menghentikan Netanyahu menyerang situs nuklir Iran.
Laporan tindakan Peres yang dirahasiakan itu diterbitkan dalam artikel berjudul; “I stopped Netanyahu from attacking Iran.” (Saya menghentikan Netanyahu menyerang Iran).
”Saya tidak ingin masuk ke rincian, tapi saya dapat memberitahu Anda bahwa dia (Netanyahu) siap untuk melancarkan serangan dan saya menghentikannya. Saya mengatakan kepadanya konsekuensi akan menjadi bencana,” kata Peres dalam percakapan itu.
Ketika ditanya kapan rahasia itu boleh publikasikan?, Peres menjawab: ”Ketika saya sudah meninggal”.
Setelah menderita stroke parah selama dua minggu, Peres meninggal pada 28 September 2016, di dekat Tel Aviv. Media-media Barat menjuluki Peres sebagai pejuang perdamaian Israel-Palestina, di mana dia memperoleh Hadiah Nobel Perdamaian. Namun, media-media Arab menjuluki Peres sebagai penjahat perang.
Laporan perihal tindakan Peres yang menentang PM Netanyahu untuk meluncurkan serangan militer terhadap Iran itu dirilis Jerusalem Post. Netanyahu nyaris membombardir Iran ketika para pemimpin dunia melakukan perundingan nuklir Teheran.
Setelah negara-negara P5 + 1 (China, Prancis, Rusia, Inggris, Amerika Serikat dan Jerman) mencapai kesepakatan dengan Iran terkait solusi krisis nuklir Teheran, Israel mengancam mengambil tindakan sepihak terhadap Teheran. Dalam kesepakatan itu, Iran bersedia mengekang program nuklirnya dengan kompensasi pencabutan sanksi atau embargo dari negara-negara Barat.
Media Israel melansir rahasia yang disimpan Peres tepat sehari setelah kematiannya. Peres, menurut media itu, mengungkapkan bahwa dia sungguh-sungguh bertanggung jawab untuk menghentikan rencana Netanyahu menyerang Iran.
Pengungkapan Peres itu disampaikan kepada Managing Editor Jerusalem Post, David Brinn, di Peres Center for Peace di Jaffa pada tanggal 24 Agustus 2014.
Selama percakapan, Brinn bertanya apa pemcapaian terbesar Peres selama menjabat Presiden Israel tahun 2007-2014. Peres menjawab, dia sendirian campur tangan untuk menghentikan Netanyahu menyerang situs nuklir Iran.
Laporan tindakan Peres yang dirahasiakan itu diterbitkan dalam artikel berjudul; “I stopped Netanyahu from attacking Iran.” (Saya menghentikan Netanyahu menyerang Iran).
”Saya tidak ingin masuk ke rincian, tapi saya dapat memberitahu Anda bahwa dia (Netanyahu) siap untuk melancarkan serangan dan saya menghentikannya. Saya mengatakan kepadanya konsekuensi akan menjadi bencana,” kata Peres dalam percakapan itu.
Ketika ditanya kapan rahasia itu boleh publikasikan?, Peres menjawab: ”Ketika saya sudah meninggal”.
Setelah menderita stroke parah selama dua minggu, Peres meninggal pada 28 September 2016, di dekat Tel Aviv. Media-media Barat menjuluki Peres sebagai pejuang perdamaian Israel-Palestina, di mana dia memperoleh Hadiah Nobel Perdamaian. Namun, media-media Arab menjuluki Peres sebagai penjahat perang.
(mas)