Pemberontak Suriah Pesimis Rezim Assad Patuhi Gencatan Senjata
Minggu, 11 September 2016 - 07:57 WIB
Pemberontak Suriah Pesimis Rezim Assad Patuhi Gencatan Senjata
A
A
A
DAMASKUS - Kelompok pemberontak Suriah, Tentara Pembebesan Suriah (FSA), secara tidak langsung mengajukan syarat berlakunya gencatan senjata. FSA siap melakukan gencatan senjata jika rezim Bashar al-Assad dan Rusia melakukan hal yang sama.
"Penegakan gencatan senjata dengan oposisi bersenjata tergantung pada yang ditegakkan oleh rezim dan Rusia. Perjanjian sebelumnya tidak ditegakkan oleh rezim, yang menyerang oposisi moderat dengan dalih memerangi ISIS," kata penasihat hukum FSA, Osama Abu Zeid.
Pada saat yang sama, FSA merasa pesimis dengan kemampuan pemerintah Suriah menjalankan kesepakatan gencatan senjata seperti dikutip dari Sputniknews, Minggu (11/9/2016).
"Bagi kami, perlindungan penduduk sipil adalah penting dan kami ingin membangun gencatan senjata yang nyata untuk melindungi warga sipil. Tapi pengalaman kami berinteraksi dengan rezim benar-benar menghalangi kami dari optimisme tersebut," katanya lagi.
Pada Jumat lalu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengumumkan rencana baru yang bertujuan untuk mengurangi kekerasan di Suriah. Rencana itu mencakup gencatan senjata nasional yang baru dimulai pada 12 September.
Suriah telah terperosok dalam perang saudara sejak 2011, dengan pasukan pemerintah yang setia kepada Presiden Bashar Assad memerangi berbagai faksi oposisi dan kelompok-kelompok ekstremis, seperti Negara Islam (ISIS), yang dilarang di banyak negara.
"Penegakan gencatan senjata dengan oposisi bersenjata tergantung pada yang ditegakkan oleh rezim dan Rusia. Perjanjian sebelumnya tidak ditegakkan oleh rezim, yang menyerang oposisi moderat dengan dalih memerangi ISIS," kata penasihat hukum FSA, Osama Abu Zeid.
Pada saat yang sama, FSA merasa pesimis dengan kemampuan pemerintah Suriah menjalankan kesepakatan gencatan senjata seperti dikutip dari Sputniknews, Minggu (11/9/2016).
"Bagi kami, perlindungan penduduk sipil adalah penting dan kami ingin membangun gencatan senjata yang nyata untuk melindungi warga sipil. Tapi pengalaman kami berinteraksi dengan rezim benar-benar menghalangi kami dari optimisme tersebut," katanya lagi.
Pada Jumat lalu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengumumkan rencana baru yang bertujuan untuk mengurangi kekerasan di Suriah. Rencana itu mencakup gencatan senjata nasional yang baru dimulai pada 12 September.
Suriah telah terperosok dalam perang saudara sejak 2011, dengan pasukan pemerintah yang setia kepada Presiden Bashar Assad memerangi berbagai faksi oposisi dan kelompok-kelompok ekstremis, seperti Negara Islam (ISIS), yang dilarang di banyak negara.
(ian)