Eks Editor Guardian: Facebook Begal Rp349,8 M Iklan Online Kami
Selasa, 06 September 2016 - 00:52 WIB
Eks Editor Guardian: Facebook Begal Rp349,8 M Iklan Online Kami
A
A
A
LONDON - Mantan editor The Guardian, Alan Rusbridger, mengatakan Facebook membegal sekitar £20 juta atau sekitar Rp349,8 miliar pendapatan iklan online media itu pada tahun lalu.
Menurut Rusbridger yang sekarang aktif di Lady Margaret Hall di Oxford University, The Guardian memperkirakan pendapatan iklan online-nya sebesar £100 juta atau sekitar Rp1,7 triliun sebelum dia meninggalkan medianya pada Mei tahun lalu.
Pada akhirnya, omset iklan online media tersebut tercatat £81,9 juta atau sekitar Rp1,4 triliun, yang artinya turun 2,3 persen pada 2014.
Berbicara di FT Weekend Live Festival di London pada hari Sabtu, Rusbridger mengatakan prediksi The Guardian tak pernah terwujud. ”Karena semua lari ke Facebook,” katanya.
Media Inggris ini pernah menerbitkan laporan tahunan pada bulan Juli, di mana sumber di media itu menyalahkan raksasa online, termasuk Google dan Facebook karena menyedot belanja iklan mereka.
Rusbridger melanjutkan, Facebook bisa melakukan itu karena memiliki algoritma yang tidak bisa dimengerti. ”Yang merupakan filter antara apa yang kita lakukan dan bagaimana orang menerimanya,” ujarnya.
“Ini akan bertambah buruk karena mereka memiliki sarana distribusi yang kita tidak bisa mengatasinya dan semakin banyak orang beralih ke perangkat ini,” imbuh dia, seperti dikutip dari Business Insider, semalam (5/9/2016).
Menurut Rusbridger yang sekarang aktif di Lady Margaret Hall di Oxford University, The Guardian memperkirakan pendapatan iklan online-nya sebesar £100 juta atau sekitar Rp1,7 triliun sebelum dia meninggalkan medianya pada Mei tahun lalu.
Pada akhirnya, omset iklan online media tersebut tercatat £81,9 juta atau sekitar Rp1,4 triliun, yang artinya turun 2,3 persen pada 2014.
Berbicara di FT Weekend Live Festival di London pada hari Sabtu, Rusbridger mengatakan prediksi The Guardian tak pernah terwujud. ”Karena semua lari ke Facebook,” katanya.
Media Inggris ini pernah menerbitkan laporan tahunan pada bulan Juli, di mana sumber di media itu menyalahkan raksasa online, termasuk Google dan Facebook karena menyedot belanja iklan mereka.
Rusbridger melanjutkan, Facebook bisa melakukan itu karena memiliki algoritma yang tidak bisa dimengerti. ”Yang merupakan filter antara apa yang kita lakukan dan bagaimana orang menerimanya,” ujarnya.
“Ini akan bertambah buruk karena mereka memiliki sarana distribusi yang kita tidak bisa mengatasinya dan semakin banyak orang beralih ke perangkat ini,” imbuh dia, seperti dikutip dari Business Insider, semalam (5/9/2016).
(mas)