Murka, Korut Sebut Diplomat Pembelot Sebagai Manusia Sampah
Minggu, 21 Agustus 2016 - 03:18 WIB
Murka, Korut Sebut Diplomat Pembelot Sebagai Manusia Sampah
A
A
A
PYONGYANG - Pembelotan yang dilakukan wakil duta besar Korea Utara (Korut), Thae Yong-ho, membuat Pyongyang murka. Korut pun mengecam tindakan yang dilakukan Yong-ho dan menyebutnya sebagai manusia sampah. Ia pun dituding terlibat dalam sejumlah kejahatan.
Menurut kantor berita Korea Central News Agency (KCNA), Korut telah memintah Yong-ho untuk kembali ke Pyongyang pada bulan Juni lalu untuk diperiksa atas sejumlah kejahatan. Ia diduga terlibat dalam kejahatan menggelapkan dana pemerintah, membocorkan rahasia negara dan penyerangan seksual di bawah umur.
"Yong-ho seharusnya menerima hukuman untuk kejahatan yang dia lakukan, tetapi ia malah membuang tanah air yang membesarkannya dan bahkan orang tua dan saudara-saudaranya sendiri dengan melarikan diri, tanpa berpikir apa-apa tetapi hanya menyelamatkan dirinya sendiri," tulis KCNA seperti dikutip dari Sky News, Minggu (21/8/2016).
"Ini menunjukkan dirinya manusia sampah yang kurang loyalitas bahkan sejak tingkat SD dan bahkan potongan-potongan kecil hati nurani dan moralitas yang diperlukan bagi manusia," sambung pernyataan itu.
Pernyataan itu juga menuduh Seoul menggunakan pembelotan Yong-ho untuk menghina kepemimpinan Korut. Pyongyang juga mengecam pemerintah Inggris karena diduga menolak tuntutan untuk mengekstradisi Yong-ho kembali ke Korut. Korut menyebut tindakan itu telah mencemarkan citra Inggris sebagai negara yang taat hukum dengan menyerahkan buronan tanpa paspor untuk negara boneka Korea Selatan (Korsel).
Kabar pembelotan Thae Yong-ho diumumkan oleh Kementerian Unifikasi Korsel pada Rabu lalu. Dalam pernyataannya, Kementerian Unifikasi Korsel mengatakan Yong-ho telah tiba di kota Korsel dengan keluarganya.
Menurut kantor berita Korea Central News Agency (KCNA), Korut telah memintah Yong-ho untuk kembali ke Pyongyang pada bulan Juni lalu untuk diperiksa atas sejumlah kejahatan. Ia diduga terlibat dalam kejahatan menggelapkan dana pemerintah, membocorkan rahasia negara dan penyerangan seksual di bawah umur.
"Yong-ho seharusnya menerima hukuman untuk kejahatan yang dia lakukan, tetapi ia malah membuang tanah air yang membesarkannya dan bahkan orang tua dan saudara-saudaranya sendiri dengan melarikan diri, tanpa berpikir apa-apa tetapi hanya menyelamatkan dirinya sendiri," tulis KCNA seperti dikutip dari Sky News, Minggu (21/8/2016).
"Ini menunjukkan dirinya manusia sampah yang kurang loyalitas bahkan sejak tingkat SD dan bahkan potongan-potongan kecil hati nurani dan moralitas yang diperlukan bagi manusia," sambung pernyataan itu.
Pernyataan itu juga menuduh Seoul menggunakan pembelotan Yong-ho untuk menghina kepemimpinan Korut. Pyongyang juga mengecam pemerintah Inggris karena diduga menolak tuntutan untuk mengekstradisi Yong-ho kembali ke Korut. Korut menyebut tindakan itu telah mencemarkan citra Inggris sebagai negara yang taat hukum dengan menyerahkan buronan tanpa paspor untuk negara boneka Korea Selatan (Korsel).
Kabar pembelotan Thae Yong-ho diumumkan oleh Kementerian Unifikasi Korsel pada Rabu lalu. Dalam pernyataannya, Kementerian Unifikasi Korsel mengatakan Yong-ho telah tiba di kota Korsel dengan keluarganya.
(ian)