Gulen Minta Badan Independen Investigasi Tudingan Turki
Sabtu, 13 Agustus 2016 - 13:51 WIB
Gulen Minta Badan Independen Investigasi Tudingan Turki
A
A
A
PARIS - Ulama sekaligus tokoh oposisi Turki, Fethullah Gulen, meminta badan investigasi independen internasional dibentuk untuk menyelidiki keterlibatannya dalam kudeta yang gagal di Turki. Gulen berjanji, jika badan tersebut menyatakan dirinya bersalah maka ia akan menyerahkan diri ke pihak berwenang Turki.
"Jika dari sepuluh tuduhan yang dialamatkan kepada saya terbukti, saya berjanji untuk kembali ke Turki dan bersedia menjalani hukuman yang berat," kata Gulen dalam opini di harian Prancis, Le Monde.
Dalam opininya, Gulen mengatakan ia percaya sistem peradilan Turki sekarang ini dikendalikan oleh badan eksekutif negara itu, seperti dikutip dari Al Arabiya, Sabtu (13/8/2016).
Pemerintah Turki menuding Gulen sebagai dalang kudeta beradarah yang terjadi pada 15 Juli lalu. Namun Gulen membantah tudingan tersebut dan justru mengutuk aksi yang menewaskan 200 lebih orang itu, termasuk pelaku kudeta.
Meski begitu, pemerintah Turki tidak percaya begitu saja. Ankara tetap menekan Washington untuk mengekstradisi pria berusia 75 tahun itu dan telah membersihkan puluhan ribu orang yang diduga pengikutnya dari angkatan bersenjata, lembaga negara lainnya, media, dan akademisi.
"Jika dari sepuluh tuduhan yang dialamatkan kepada saya terbukti, saya berjanji untuk kembali ke Turki dan bersedia menjalani hukuman yang berat," kata Gulen dalam opini di harian Prancis, Le Monde.
Dalam opininya, Gulen mengatakan ia percaya sistem peradilan Turki sekarang ini dikendalikan oleh badan eksekutif negara itu, seperti dikutip dari Al Arabiya, Sabtu (13/8/2016).
Pemerintah Turki menuding Gulen sebagai dalang kudeta beradarah yang terjadi pada 15 Juli lalu. Namun Gulen membantah tudingan tersebut dan justru mengutuk aksi yang menewaskan 200 lebih orang itu, termasuk pelaku kudeta.
Meski begitu, pemerintah Turki tidak percaya begitu saja. Ankara tetap menekan Washington untuk mengekstradisi pria berusia 75 tahun itu dan telah membersihkan puluhan ribu orang yang diduga pengikutnya dari angkatan bersenjata, lembaga negara lainnya, media, dan akademisi.
(ian)