Direktur CIA Pesimis Akan Masa Depan Suriah
Sabtu, 30 Juli 2016 - 17:02 WIB
Direktur CIA Pesimis Akan Masa Depan Suriah
A
A
A
WASHINGTON - Perang yang telah berlangung selama lima tahun di Suriah belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Masa depan negara itu pun menjadi tanda tanya karena sulitnya mendamaikan dua kubu yang berseteru.
Direktur Central Intelligence Agency (CIA), badan intelijen milik Amerika Serikat, John Brennan mengaku pesimis dengan masa depan Suriah. "Saya tidak tahu apakah Suriah dapat disatukan lagi atau tidak," kata Brennan seperti dikutip dari Al Arabiya, Sabtu (30/7/2016).
Hal itu diungkapkan Brennan dalam Forum Keamanan Aspen. Komentarnya adalah pengakuan publik yang langka oleh seorang pejabat AS bahwa Suriah tidah dapat bertahan hidup dalam kondisi perang saudara yang telah berlangsung selama lima tahun.
Sebelumnya, PBB berharap untuk mengadakan putaran baru pembicaraan perdamaian intra-Suriah di Jenewa pada bulan Agustus. Begitu pernyataan utusan khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura mengatakan pekan ini.
Putaran pembicaraan sebelumnya tahun ini rusak karena pertempuran meningkat, khususnya di sekitar Aleppo, di mana pasukan pemerintah baru-baru ini memotong satu-satunya jalan ke daerah-daerah yang dikuasai pemberontak dari kota utara yang terbagi.
Sementara itu, Amerika Serikat (AS) dan Rusia tengah membahas usulan Washington untuk kerjasama militer yang lebih dekat. Keduanya juga membahas kemungkinan untuk berbagi informasi intelijen Suriah guna memerangi kelompok ekstremis.
Direktur Central Intelligence Agency (CIA), badan intelijen milik Amerika Serikat, John Brennan mengaku pesimis dengan masa depan Suriah. "Saya tidak tahu apakah Suriah dapat disatukan lagi atau tidak," kata Brennan seperti dikutip dari Al Arabiya, Sabtu (30/7/2016).
Hal itu diungkapkan Brennan dalam Forum Keamanan Aspen. Komentarnya adalah pengakuan publik yang langka oleh seorang pejabat AS bahwa Suriah tidah dapat bertahan hidup dalam kondisi perang saudara yang telah berlangsung selama lima tahun.
Sebelumnya, PBB berharap untuk mengadakan putaran baru pembicaraan perdamaian intra-Suriah di Jenewa pada bulan Agustus. Begitu pernyataan utusan khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura mengatakan pekan ini.
Putaran pembicaraan sebelumnya tahun ini rusak karena pertempuran meningkat, khususnya di sekitar Aleppo, di mana pasukan pemerintah baru-baru ini memotong satu-satunya jalan ke daerah-daerah yang dikuasai pemberontak dari kota utara yang terbagi.
Sementara itu, Amerika Serikat (AS) dan Rusia tengah membahas usulan Washington untuk kerjasama militer yang lebih dekat. Keduanya juga membahas kemungkinan untuk berbagi informasi intelijen Suriah guna memerangi kelompok ekstremis.
(ian)