Via FaceTime, Begini Cara Erdogan Gagalkan Kudeta Turki
Minggu, 17 Juli 2016 - 12:09 WIB
Via FaceTime, Begini Cara Erdogan Gagalkan Kudeta Turki
A
A
A
ANKARA - Presiden Tayyip Erdogan memanfaatkan FaceTime sebuah fitur di Apple sebagai fasilitas efektif untuk menggerakkan massa untuk menggagalkan kudeta militer di Turki.
Erdogan sedang berlibur di Marmaris—pantai di Mediterania—ketika militer Turki berusaha merebut kekuasaan pada Jumat malam. Saat itu, personel militer Turki sudah menduduki lokasi strategis di seluruh Istanbul dan Ankara.
Pasukan Turki bersenjata berat juga memasuki gedung stasiun televisi TRT yang dikelola negara dan menuntut penyiar berita membacakan pengumuman kudeta.
Ketika upaya kudeta berlangsung, Erdogan menggunakan fitur FaceTime pada iPhone-nya untuk menghubungi penyiar berita CNN Turk, Nevsin Mengu. Melalui fitur FaceTime itulah, Erdogan meminta rakyat Turki turun ke jalan melawan kudeta militer.
Erdogan meminta penyiar berita tersebut untuk menayangkan pesan FaceTime-nya di televisi secara langsung sehingga semua rakyat Turki bisa melihatnya.
“Mari kita berkumpul sebagai bangsa di square. Saya percaya kami akan melenyapkan pendudukan ini dalam waktu singkat,” seru Erdogan kepada rakyatnya melalui FaceTime, seperti dikutip Daily Mail, Minggu (17/7/2016).
“Saya mengimbau rakyat kita sekarang untuk datang ke lapangan dan kami akan memberi mereka jawaban yang diperlukan,” lanjut Erdogan.
Pada saat itu, tank-tank tempur militer Turki sudah bermunculan di seluruh kota. Kurang dari 20 menit kemudian, Perdana Menteri Turki Binali Yildirim menulis pesan kemarahan di Twitter, di mana dia mencela para pemberontak.
Tak hanya tank-tank tempur, di langit Turki juga beterbangan jet tempur F-16 dengan suara nyaring. Manuver seperti ini dikenal sebagai doktrin militer untuk mengintimidasi orang-orang di darat tanpa melepaskan tembakan.
Meski demikian, ratusan orang tewas bentrokan dengan militer Turki yang berupaya melakukan kudeta.
Gareth Jenkins, seorang peneliti dan penulis di bidang militer di Istanbul mengatakan; ”Kudeta ini jelas direncanakan cukup baik, tetapi menggunakan pedoman dari tahun 1970-an,” katanya.
Pedoman yang dia maksud adalah acuan kudeta yang pernah digunakan di Chili pada tahun 1973. Acuan itu juga digunakan di Ankara pada tahun 1980. Belum jelas mengapa militer Turki tidak menggunakan cara berkomunikasi yang modern dalam upaya kudeta tersebut.
Erdogan sedang berlibur di Marmaris—pantai di Mediterania—ketika militer Turki berusaha merebut kekuasaan pada Jumat malam. Saat itu, personel militer Turki sudah menduduki lokasi strategis di seluruh Istanbul dan Ankara.
Pasukan Turki bersenjata berat juga memasuki gedung stasiun televisi TRT yang dikelola negara dan menuntut penyiar berita membacakan pengumuman kudeta.
Ketika upaya kudeta berlangsung, Erdogan menggunakan fitur FaceTime pada iPhone-nya untuk menghubungi penyiar berita CNN Turk, Nevsin Mengu. Melalui fitur FaceTime itulah, Erdogan meminta rakyat Turki turun ke jalan melawan kudeta militer.
Erdogan meminta penyiar berita tersebut untuk menayangkan pesan FaceTime-nya di televisi secara langsung sehingga semua rakyat Turki bisa melihatnya.
“Mari kita berkumpul sebagai bangsa di square. Saya percaya kami akan melenyapkan pendudukan ini dalam waktu singkat,” seru Erdogan kepada rakyatnya melalui FaceTime, seperti dikutip Daily Mail, Minggu (17/7/2016).
“Saya mengimbau rakyat kita sekarang untuk datang ke lapangan dan kami akan memberi mereka jawaban yang diperlukan,” lanjut Erdogan.
Pada saat itu, tank-tank tempur militer Turki sudah bermunculan di seluruh kota. Kurang dari 20 menit kemudian, Perdana Menteri Turki Binali Yildirim menulis pesan kemarahan di Twitter, di mana dia mencela para pemberontak.
Tak hanya tank-tank tempur, di langit Turki juga beterbangan jet tempur F-16 dengan suara nyaring. Manuver seperti ini dikenal sebagai doktrin militer untuk mengintimidasi orang-orang di darat tanpa melepaskan tembakan.
Meski demikian, ratusan orang tewas bentrokan dengan militer Turki yang berupaya melakukan kudeta.
Gareth Jenkins, seorang peneliti dan penulis di bidang militer di Istanbul mengatakan; ”Kudeta ini jelas direncanakan cukup baik, tetapi menggunakan pedoman dari tahun 1970-an,” katanya.
Pedoman yang dia maksud adalah acuan kudeta yang pernah digunakan di Chili pada tahun 1973. Acuan itu juga digunakan di Ankara pada tahun 1980. Belum jelas mengapa militer Turki tidak menggunakan cara berkomunikasi yang modern dalam upaya kudeta tersebut.
(mas)