Pelaku Penusukan Polisi Prancis Punya Daftar Target
Selasa, 14 Juni 2016 - 22:46 WIB
Pelaku Penusukan Polisi Prancis Punya Daftar Target
A
A
A
PARIS - Jaksa Prancis, Francois Molins mengatakan, pelaku pembunuhan polisi di Prancis, Larossi Abballa, memiliki daftar target yang berisi nama-nama polisi, politisi, jurnalis, rapper, dan tokoh masyarakat lainnya.
Daftar itu ditemukan setelah pengepungan di Magnanville, sekitar 55 km sebelah barat dari Paris. Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai hal ini. Polisi juga menemukan tiga telepon, tiga pisau dan pisau yang berlumuran darah tergeletak di atas meja.
Mollins juga mengatakan, Abballa telah bersumpah setia kepada pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi. Ia juga telah mengancam akan membunuh warga non muslim dan keluarga mereka dimana pun mereka berada, seperti dikutip dari Sky News, Selasa (14/6/2016).
Dalam kesempatan itu, Mollins juga menyatakan, pihak berwenang Prancis telah menahan tiga orang dan saat ini sedang dalam penyelidikan. Meski begitu, Mollins tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Sebelumnya, ISIS mengklaim sebagai dalang dalam aksi penyerangan tersebut. Terkait hal ini, pihak kepolsian Prancis mengaku tidak mempunyai alasan untuk meragukan klaim tersebut
Daftar itu ditemukan setelah pengepungan di Magnanville, sekitar 55 km sebelah barat dari Paris. Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai hal ini. Polisi juga menemukan tiga telepon, tiga pisau dan pisau yang berlumuran darah tergeletak di atas meja.
Mollins juga mengatakan, Abballa telah bersumpah setia kepada pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi. Ia juga telah mengancam akan membunuh warga non muslim dan keluarga mereka dimana pun mereka berada, seperti dikutip dari Sky News, Selasa (14/6/2016).
Dalam kesempatan itu, Mollins juga menyatakan, pihak berwenang Prancis telah menahan tiga orang dan saat ini sedang dalam penyelidikan. Meski begitu, Mollins tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Sebelumnya, ISIS mengklaim sebagai dalang dalam aksi penyerangan tersebut. Terkait hal ini, pihak kepolsian Prancis mengaku tidak mempunyai alasan untuk meragukan klaim tersebut
(ian)