Rusia: Masih Banyak yang Harus Dilakukan untuk Dukung Tentara Suriah
Minggu, 05 Juni 2016 - 16:26 WIB
Rusia: Masih Banyak yang Harus Dilakukan untuk Dukung Tentara Suriah
A
A
A
SINGAPURA - Wakil Menteri Pertahanan Rusia, Anatoly Antonov mengatakan, masih banyak yang harus dilakukan untuk membantu Angkatan Darat Suriah guna membebaskan negara itu dari teroris.
Antonov mengatakan, situasi di Suriah yang dilanda perang masih rumit dan pasukan pemerintah Suriah masih membutuhkan bantuan lebih lanjut. Hal itu dikatakannya dalam KTT Keamanan di Singapura.
"Pada saat yang sama kita sadar bahwa situasi di negera ini (Suriah) masih rumit. Masih banyak yang harus dilakukan untuk mendukung tentara Suriah, yang dengan bantuan Rusia, telah berhasil membebaskan lebih dari 500 kota, termasuk mutiara dari warisan budaya dunia, Palmyra," tuturnya seperti dikutip dari Sputnik, Minggu (5/6/2016).
Suriah terperosok dalam perang saudara sejak Maret 2011, dimana pasukan pemerintah yang setia kepada Presiden Bashar al-Assad harus berhadapan dengan berbagai faksi oposisi. Konflik semakin rumit dengan kemunculan ISIS dan Front al-Nusra, sayap kelompok teroris Al-Qaeda.
Meski begitu, untuk pertama kalinya dalam 5 tahun konflik, gencatan senjata berhasil diberlakukan di Suriah. Gencatan senjata tersebut digagas oleh Rusia dan Amerika Serikat (AS) dan mulai berlaku pada 27 Februari lalu. Gencatan senjata ini diberlakukan untuk memudahkan akses kemanusiaan ke semua wilayah yang terkepung.
Antonov mengatakan, situasi di Suriah yang dilanda perang masih rumit dan pasukan pemerintah Suriah masih membutuhkan bantuan lebih lanjut. Hal itu dikatakannya dalam KTT Keamanan di Singapura.
"Pada saat yang sama kita sadar bahwa situasi di negera ini (Suriah) masih rumit. Masih banyak yang harus dilakukan untuk mendukung tentara Suriah, yang dengan bantuan Rusia, telah berhasil membebaskan lebih dari 500 kota, termasuk mutiara dari warisan budaya dunia, Palmyra," tuturnya seperti dikutip dari Sputnik, Minggu (5/6/2016).
Suriah terperosok dalam perang saudara sejak Maret 2011, dimana pasukan pemerintah yang setia kepada Presiden Bashar al-Assad harus berhadapan dengan berbagai faksi oposisi. Konflik semakin rumit dengan kemunculan ISIS dan Front al-Nusra, sayap kelompok teroris Al-Qaeda.
Meski begitu, untuk pertama kalinya dalam 5 tahun konflik, gencatan senjata berhasil diberlakukan di Suriah. Gencatan senjata tersebut digagas oleh Rusia dan Amerika Serikat (AS) dan mulai berlaku pada 27 Februari lalu. Gencatan senjata ini diberlakukan untuk memudahkan akses kemanusiaan ke semua wilayah yang terkepung.
(ian)