Abu Sayyaf Penggal Ridsdel, PM Kanada Tolak Tebus Sandera Lainnya

Rabu, 27 April 2016 - 08:20 WIB
Abu Sayyaf Penggal Ridsdel,...
Abu Sayyaf Penggal Ridsdel, PM Kanada Tolak Tebus Sandera Lainnya
A A A
OTTAWA - Perdana Menteri (PM) Kanada, Justin Trudeau, menolak untuk membayar uang tebusan bagi pembebasan sandera Kanada lainnya setelah kelompok Abu Sayyaf memenggal seorang warga Kanada, John Ridsdel.

Kanada tidak dan tidak akan membayar uang tebusan untuk teroris, langsung atau tidak langsung,” kata Trudeau. Dia bersumpah untuk memburu dan mengadili para penyandera.


PM Trudeau mengutuk pembayaran tebusan untuk kelompok Abu Sayyaf di Filipina. Sebab, membayar tebusan berarti membantu untuk mendukung kegiatan kriminal atau teroris. ”Dan membahayakan nyawa setiap satu dari jutaan warga Kanada yang tinggal, bekerja dan bepergian di seluruh dunia,” ujarnya.

Trudeau mengatakan bahwa dia dan PM Inggris David Cameron dalam percakapan telepon sepakat untuk menekan sekutu dalam masalah ini.


Kami sepakat bahwa itu adalah sesuatu yang kita akan memastikan bahwa kita membawa ini dengan teman-teman dan sekutu kami di seluruh dunia seperti bagaiamana kita datang untuk mengatasi tentang fakta bahwa dunia adalah tempat yang berbahaya,” katanya, seperti dilansir Reuters, Rabu (27/4/2016).

Kita perlu memastikan bahwa teroris memahami bahwa mereka tidak bisa terus mendanai kejahatan dan kekerasan mereka dengan menculik orang tak berdosa sebagai sandera,” ujarnya.

Ridsdel dieksekusi penggal pada hari Senin, di mana potongan kepalanya dibungkus plastik dan dibuang di pinggir jalan di Kota Jolo, Sulu, Filipina selatan. Dia dieksekusi setelah tenggat ultimatum untuk membayar tebusan 300 juta peso berakhir pada 25 April 2016.

Ridsdel merupakan satu dari empat sandera yang diculik bersama sekitar enam bulan lalu. Tiga orang lainnya yang masih disandera adalah Robert Hall (warga Kanada), Marites Flor (warga Filipina), dan Kjartan Sekkingstad (warga Norwegia).

Selain mereka ada juga 14 warga Indonesi yang juga diculik sebuah kelompok yang diduga dari faksi Abu Sayyaf di Filipina selatan. Ke-14 warga Indonesia hingga kini belum dibebaskan.
(mas)
Berita Terkait
6 Negara dengan Garis...
6 Negara dengan Garis Pantai Terpanjang di Dunia, Indonesia Termasuk
Negara Tetangga Indonesia...
Negara Tetangga Indonesia Ini Tandatangani Pakta Pertahanan dengan Kanada
Mobil Tabrak Kerumunan...
Mobil Tabrak Kerumunan Warga di Festival Hari Lapu Lapu di Vancouver
Dubes Indonesia dan...
Dubes Indonesia dan Kanada Siap Majukan Kerja Sama Bilateral
Pelaku Bom Filipina...
Pelaku Bom Filipina Disebut WNI, Menlu: Masih Diselidiki
3 Alasan Timnas Indonesia...
3 Alasan Timnas Indonesia Tidak Boleh Kalah di Pertandingan Filipina vs Indonesia
Berita Terkini
Eropa Memanas! Jet tempur...
Eropa Memanas! Jet tempur Prancis Tembak Jatuh Drone Rusia di Latvia
1 jam yang lalu
Gempa Guncang Filipina,...
Gempa Guncang Filipina, 15 Orang Tewas
1 jam yang lalu
Hubungan China dan Korut...
Hubungan China dan Korut Masuki Tahap Awal yang Baru
2 jam yang lalu
5 Negara yang Mampu...
5 Negara yang Mampu Membuat Jet Tempur Sendiri, Ada yang Produksinya Mencapai Ratusan Unit per Tahun
4 jam yang lalu
Rudal Iran Guncang Israel,...
Rudal Iran Guncang Israel, Trump: Netanyahu Tak Boleh Balas Dendam
4 jam yang lalu
IRGC Serang 3 Pangkalan...
IRGC Serang 3 Pangkalan Militer Zionis, Israel Gempur 5 Kota Iran
4 jam yang lalu
Infografis
Membangkang, Panglima...
Membangkang, Panglima Israel Tolak Perintah Serang Gaza Besar-besaran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved