Oposisi Tuding Pemerintah Suriah dan Rusia Langgar Gencatan Senjata
Senin, 29 Februari 2016 - 10:02 WIB
Oposisi Tuding Pemerintah Suriah dan Rusia Langgar Gencatan Senjata
A
A
A
DAMASKUS - Oposisi Suriah memperingatkan serangan oleh tentara Suriah, yang didukung oleh pesawat-pesawat tempur Rusia, mengancam kesepakatan AS-Rusia untuk penghentian permusuhan dan perundingan damai terancam punah di masa depan.
Pemberontak mengatakan serangan di Suriah pada hari Sabtu terjadi lebih intens, meski tidak seburuk sebelum penghentian permusuhan mulai berlaku.
"Kami sedang menunggu respon dari negara untuk pelanggaran ini, situasi di keseimbangan sekarang dan menahan diri tidak akan bertahan lama," kata Kolonel Fares al Bayoush seperti dilansir dari Reuters, Senin (29/2/2016).
Terkait hal ini, kelompok oposisi yang didukung oleh Riyadh pun telah mengirimkan surat kepada Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon. Meski tetap mendukung pelaksanaan gencatan senjata, mereka menilai tindakan Suriah dan Rusia bisa melemahkan upaya internasional untuk menjamin kelanjutan gencatan senjata dan menyebabkan runtuhnya proses politik yang diadopsi PBB.
"Keputusan untuk tetap tenang, tidak melakukan apa-apa, dan saya percaya mereka akan tetap melaksanakan gencatan senjata. Kemarin adalah hari pertama orang-orang bisa benar-benar pergi keluar dan berjalan di jalan-jalan," kata juru bicara oposisi Suriah Salim al-Muslat.
Namun, sebuah sumber militer Suriah membantah tentaranya telah melanggar perjanjian gencatan senjata. Sedangkan Kementerian pertahanan Rusia menolak berkomentar terkait tudingan itu.
Pemberontak mengatakan serangan di Suriah pada hari Sabtu terjadi lebih intens, meski tidak seburuk sebelum penghentian permusuhan mulai berlaku.
"Kami sedang menunggu respon dari negara untuk pelanggaran ini, situasi di keseimbangan sekarang dan menahan diri tidak akan bertahan lama," kata Kolonel Fares al Bayoush seperti dilansir dari Reuters, Senin (29/2/2016).
Terkait hal ini, kelompok oposisi yang didukung oleh Riyadh pun telah mengirimkan surat kepada Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon. Meski tetap mendukung pelaksanaan gencatan senjata, mereka menilai tindakan Suriah dan Rusia bisa melemahkan upaya internasional untuk menjamin kelanjutan gencatan senjata dan menyebabkan runtuhnya proses politik yang diadopsi PBB.
"Keputusan untuk tetap tenang, tidak melakukan apa-apa, dan saya percaya mereka akan tetap melaksanakan gencatan senjata. Kemarin adalah hari pertama orang-orang bisa benar-benar pergi keluar dan berjalan di jalan-jalan," kata juru bicara oposisi Suriah Salim al-Muslat.
Namun, sebuah sumber militer Suriah membantah tentaranya telah melanggar perjanjian gencatan senjata. Sedangkan Kementerian pertahanan Rusia menolak berkomentar terkait tudingan itu.
(ian)