Iran Kecam Langkah Saudi Undang Tokoh Oposisi Suriah
Kamis, 03 Desember 2015 - 20:12 WIB
Iran Kecam Langkah Saudi Undang Tokoh Oposisi Suriah
A
A
A
TEHERAN - Iran mengkritik langkah Arab Saudi mengundang sejumlah tokoh oposisi Suriah ke Riyadh. Teheran menilai langkah itu dapat menggagalkan pembicaraan damai yang digagas oleh sejumlah negara Barat dan Timur Tengah.
Sebelumnya, Arab Saudi mengundang 65 tokoh oposisi Suriah untuk berkumpul di Riyadh. Arab Saudi beralasan pertemuan itu bertujuan untuk menyatukan kelompok-kelompok yang saling bersaing menjelang putaran berikutnya pembicaraan damai Suriah di Wina, Austria.
Pasalnya, perpecahan di tubuh oposisi telah menimbulkan permasalahan baru dalam mencari solusi damai untuk Suriah.
"Pertemuan di Riyadh akan menyebabkan kegagalan pembicaraan damai Suriah di Wina dan itu bukan bagian dari kesepakatan Wina," kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amirabdollahian, seperti dikutip Reuters dari Fars, Kamis (3/12/2015).
Dalam dua pertemuan sebelumnya, para peserta menyepakati proses politik yang mengarah kepada pemilu di Suriah dalam jangka waktu dua tahun. Perbedaan pendapat terjadi terkait nasib Presiden Bashar al-Assad.
Barat menginginkan agar Assad tidak berada di dalam lingkaran kekuasaan. Sedangkan Rusia dan Iran menyatakan bahwa negara lain tidak bisa memaksakan kehendak mereka kepada Suriah.
"Hanya orang-orang Suriah sendiri yang harus memutuskan tentang nasib negara mereka," tambah Amirabdollahian
Sebelumnya, Arab Saudi mengundang 65 tokoh oposisi Suriah untuk berkumpul di Riyadh. Arab Saudi beralasan pertemuan itu bertujuan untuk menyatukan kelompok-kelompok yang saling bersaing menjelang putaran berikutnya pembicaraan damai Suriah di Wina, Austria.
Pasalnya, perpecahan di tubuh oposisi telah menimbulkan permasalahan baru dalam mencari solusi damai untuk Suriah.
"Pertemuan di Riyadh akan menyebabkan kegagalan pembicaraan damai Suriah di Wina dan itu bukan bagian dari kesepakatan Wina," kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amirabdollahian, seperti dikutip Reuters dari Fars, Kamis (3/12/2015).
Dalam dua pertemuan sebelumnya, para peserta menyepakati proses politik yang mengarah kepada pemilu di Suriah dalam jangka waktu dua tahun. Perbedaan pendapat terjadi terkait nasib Presiden Bashar al-Assad.
Barat menginginkan agar Assad tidak berada di dalam lingkaran kekuasaan. Sedangkan Rusia dan Iran menyatakan bahwa negara lain tidak bisa memaksakan kehendak mereka kepada Suriah.
"Hanya orang-orang Suriah sendiri yang harus memutuskan tentang nasib negara mereka," tambah Amirabdollahian
(ian)