Putin Sebut Serangan Mali Bukti Terorisme Tak Kenal Batas
Sabtu, 21 November 2015 - 21:18 WIB
Putin Sebut Serangan Mali Bukti Terorisme Tak Kenal Batas
A
A
A
MOSKOW - Presiden Rusia Vladimir Putin menilai, serangan kelompok bersenjata di Mali adalah bukti bahwa terorisme tidak memiliki batas. Menurutnya, teroris dapat melakukan serangan kapan saja dan dimana saja, tanpa adanya peringatan terlebih dahulu.
Hal tersebut disampaikan Putin kala melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Presiden Mali, Ibrahim Boubacar Keita. Dalam pembicaraan itu, Putin menyerukan adanya aksi bersama untuk melawan terorisme.
"Presiden Putin menekankan, kejahatan tidak manusiawi yang dilakukan di ibukota Mali, menegaskan bahwa terorisme tidak mengenal batas dan merupakan bahaya nyata bagi seluruh dunia," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.
"Orang-orang dari berbagai bangsa dan agama yang berbeda turut menjadi korban, dan itu hanya mungkin untuk menghadapi ancaman ini dengan kerjasama internasional yang luas," sambungnya, seperti dikutp dari Al Arabiya pada Sabtu (21/11).
Pernyataan Putin ini datang bersamaan dengan munculnya kabar adanya warga Rusia yang turut menjadi korban dalam serangan yang terjadi kemarin itu. Kementerian Luar Negeri Rusia sendiri mengaku sedang mencari tahu ada berapa warga Rusia yang tewas dalam insiden itu.
Hal tersebut disampaikan Putin kala melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Presiden Mali, Ibrahim Boubacar Keita. Dalam pembicaraan itu, Putin menyerukan adanya aksi bersama untuk melawan terorisme.
"Presiden Putin menekankan, kejahatan tidak manusiawi yang dilakukan di ibukota Mali, menegaskan bahwa terorisme tidak mengenal batas dan merupakan bahaya nyata bagi seluruh dunia," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.
"Orang-orang dari berbagai bangsa dan agama yang berbeda turut menjadi korban, dan itu hanya mungkin untuk menghadapi ancaman ini dengan kerjasama internasional yang luas," sambungnya, seperti dikutp dari Al Arabiya pada Sabtu (21/11).
Pernyataan Putin ini datang bersamaan dengan munculnya kabar adanya warga Rusia yang turut menjadi korban dalam serangan yang terjadi kemarin itu. Kementerian Luar Negeri Rusia sendiri mengaku sedang mencari tahu ada berapa warga Rusia yang tewas dalam insiden itu.
(esn)