UE Turut Kecam Serangan Rusia di Suriah
Senin, 12 Oktober 2015 - 19:41 WIB
UE Turut Kecam Serangan Rusia di Suriah
A
A
A
LUXEMBOURG - Uni Eropa (UE) ikut-ikutan mengecam keras serangan yang dilancarakan Rusia di wilayah Suriah. Kecaman tersebut tertuang dalam rancangan pernyataan yang akan dikeluarkan UE, paska diadakannya pertemuan antar Menteri Luar Negeri anggota UE.
Dalam rancangan pernyataan itu disebutkan, bahwa serangan udara yang dilancarakan Rusia, yang turut menargetkan pemberontak Suriah hanya akan memperburuk situasi di wilayah tersebut. Menurut rancangan pernyataan itu, serangan Rusia berpotensi memperpanjang konflik di Suriah.
"Serangan militer Rusia baru-baru ini yang menargetkan Daesh (ISIS) dan kelompok yang masuk daftar teroris PBB, serta pada oposisi moderat, menjadi perhatian yang mendalam, dan harus segera dihentikan," bunyi rancangan pernyataan tersebut.
"Eskalasi militer ini berisiko memperpanjang konflik, merusak proses politik, memperparah situasi kemanusiaan dan meningkatkan radikalisasi," sambungnya, seperti dilansir Reuters pada Senin (12/10).
Sementara itu, dalam rancangan itu juga dikabarkan terdapat poin dimana UE juga mendesak Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk mundur dari jabatannya saat ini. Alasannya klise, yakni konflik di Suriah hanya bisa diselesaikan melalui transisi politik, yakni penyerahan kekuasan dari Assad ke pemimpin baru Suriah kelak.
Dalam rancangan pernyataan itu disebutkan, bahwa serangan udara yang dilancarakan Rusia, yang turut menargetkan pemberontak Suriah hanya akan memperburuk situasi di wilayah tersebut. Menurut rancangan pernyataan itu, serangan Rusia berpotensi memperpanjang konflik di Suriah.
"Serangan militer Rusia baru-baru ini yang menargetkan Daesh (ISIS) dan kelompok yang masuk daftar teroris PBB, serta pada oposisi moderat, menjadi perhatian yang mendalam, dan harus segera dihentikan," bunyi rancangan pernyataan tersebut.
"Eskalasi militer ini berisiko memperpanjang konflik, merusak proses politik, memperparah situasi kemanusiaan dan meningkatkan radikalisasi," sambungnya, seperti dilansir Reuters pada Senin (12/10).
Sementara itu, dalam rancangan itu juga dikabarkan terdapat poin dimana UE juga mendesak Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk mundur dari jabatannya saat ini. Alasannya klise, yakni konflik di Suriah hanya bisa diselesaikan melalui transisi politik, yakni penyerahan kekuasan dari Assad ke pemimpin baru Suriah kelak.
(esn)