Panel Republik Bidik Hillary dalam Kasus Benghazi

Minggu, 11 Oktober 2015 - 15:23 WIB
Panel Republik Bidik...
Panel Republik Bidik Hillary dalam Kasus Benghazi
A A A
WASHINGTON - Seorang mantan penyidik untuk Komite DPR Amerika Serikat (AS) menuduh panel yang dipimpin oleh Partai Republik menargetkan politisi Partai Demokrat, Hillary Clinton untuk menjegal mantan first lady itu maju dalam pilpres mendatang.

Mayor Bradley Podliska, seorang perwira intelijen di Angkatan Udara Cadangan yang aktif bertugas di Jerman, mengaku telah dipecat karena menolak untuk memfokuskan penyelidikan penyerangan terhadap kompleks diplomatik AS di Benghazai kepada peran Clinton. Menurutnya, pihak Republik berencana akan mengajukan tuntutan ke Pengadilan Federal pada bulan depan.

"Tuduhan ini sangat berbahaya," kata juru bicara kampanye Hillary, Brian Fallon dalam sebuah pernyataan. "Akun milik whistleblower dari dalam Komite Benghazi Partai Republik ini dapat memberi bukti yang paling definitif tanggal investigasi yang didanai oleh pembayar pajak ini ternyata penuh kepalsuan dari awal," tambahnya seperti dikutip dari laman Reuters, Minggu (11/10/2015).

Namun pengakuan ini dibantah oleh pihak Komite. "Bertentangan dengan pernyataan barunya, Podliska sebenarnya telah diberhentikan, dikarenakan dia sendiri menunjukkan keberpihakan dan itikad buruk dalam menjalankan pekerjaan invertigasinya. Komite dengan keras membantah semua tuduhan tersebut," begitu bunyi pernyataan yang dikeluarkan oleh Komite.

Hillary Clinton menjabat sebagai Menteri Luar Negeri saat serangan terhadap kompleks diplomatik AS di Benghazi, Libya, terjadi pada tahun 2012 silam. Ia pun sempat memberikan kesaksian atas peristiwa yang menewaskan Duta Besar AS Chris Stevens dan tiga warga Amerika di depan komite untuk pertama kalinya pada 22 Oktober.

Panitia penyidikan sendiri akan merilis hasil temua investigasinya pada tahun depan, tepat di tengah panasnya pemilihan presiden.
(ian)
Berita Terkait
Pilpres Bagi Diaspora...
Pilpres Bagi Diaspora Indonesia di Amerika Serikat
Pilpres Amerika Serikat...
Pilpres Amerika Serikat Diwarnai Kericuhan di Washington
Pilpres Amerika Serikat,...
Pilpres Amerika Serikat, Kemenangan Biden Makin Nyata
Amerika Serikat Akan...
Amerika Serikat Akan Kembali Menjadi Mercusuar Dunia
Pilpres Amerika Serikat,...
Pilpres Amerika Serikat, Antusiasme Masyarakat Berikan Suara Tinggi
Pilpres Amerika Serikat,...
Pilpres Amerika Serikat, Buku Jadi Senjata Politik AS
Berita Terkini
Perang Ukraina Masuk...
Perang Ukraina Masuk ke Babak Baru, Pasokan Senjata Rusia ke Iran Terganggu
53 menit yang lalu
Tak Ada Jalan Keluar,...
Tak Ada Jalan Keluar, 6 Pilihan Strategi Trump saat Perang Iran Makin Memburuk
1 jam yang lalu
Rudal Iran Makin Akurat...
Rudal Iran Makin Akurat Gempur Pangkalan AS, Benar Canggih atau Dibantu Rusia dan China?
2 jam yang lalu
Mata-matai Para Pemimpin...
Mata-matai Para Pemimpin Rusia, Swedia Dirikan Biro Intelijen seperti MI6
3 jam yang lalu
Menghilang 27 Tahun,...
'Menghilang' 27 Tahun, Kapal Perang Nuklir 28.000 Ton Rusia Bersiap untuk Tempur Lagi
3 jam yang lalu
Komandan CENTCOM Klaim...
Komandan CENTCOM Klaim Serangan AS di sekitar Hormuz Tidak Efektif, kecuali Perang Besar-besaran
4 jam yang lalu
Infografis
3 Kejanggalan Penanganan...
3 Kejanggalan Penanganan Kasus Febrie Adriansyah, KPK Diminta Bertindak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved