Utusan PBB Umumkan Rencana Pembicaraan Damai Libya
Selasa, 22 September 2015 - 23:10 WIB
Utusan PBB Umumkan Rencana Pembicaraan Damai Libya
A
A
A
NEW YORK - Utusan khusus PBB untuk Libya, Bernardino Leon mengaku telah bertemu dengan Kongres Nasional Umum (GNC) untuk menentukan waktu perundingan damai di Maroko. Ia mengatakan, pekerjaan PBB telah dilaksanakan dan kini tinggal menjalankan tes akhir, yaitu terciptanya pembicaraan damai di Libya.
"Sekarang terserah kepada para peserta dalam dialog ini untuk memberikan tanggapan terhadap pernyataan ini," katanya, seperti dikutip dari laman Al Jazeera, Selasa (22/9/2015). Leon sendiri mendorong kesepakatan dapat dicapai pada 20 September mendatang di sebelum sidang Majelis Umum PBB.
Dia juga memberikan beberapa rincian tentang kesepakatan dan memuji upaya negosiasi. Pasca runtuhnya rezim Mouammar Gaddafi, Libya hidup dalam kekacauan dan memiliki dua pemerintahan yang saling bersaing.
Satu pemerintahan berpusat di Tripoli, ibukota Libya, yaitu GNC dan satu lagi pemerintahan yang diakui oleh dunia internasional yang berpusat di Tobruk.
Meningkatnya pengaruh ISIS di Libya dan munculnya negara itu sebagai pusat penyelundupan pengungsi yang nekat mempertaruhkan hidupnya dengan menyebrangi laut Mediterania yang ganas membuat PBB menilai begitu pentinnya pembicaraan damai di Libya.
"Sekarang terserah kepada para peserta dalam dialog ini untuk memberikan tanggapan terhadap pernyataan ini," katanya, seperti dikutip dari laman Al Jazeera, Selasa (22/9/2015). Leon sendiri mendorong kesepakatan dapat dicapai pada 20 September mendatang di sebelum sidang Majelis Umum PBB.
Dia juga memberikan beberapa rincian tentang kesepakatan dan memuji upaya negosiasi. Pasca runtuhnya rezim Mouammar Gaddafi, Libya hidup dalam kekacauan dan memiliki dua pemerintahan yang saling bersaing.
Satu pemerintahan berpusat di Tripoli, ibukota Libya, yaitu GNC dan satu lagi pemerintahan yang diakui oleh dunia internasional yang berpusat di Tobruk.
Meningkatnya pengaruh ISIS di Libya dan munculnya negara itu sebagai pusat penyelundupan pengungsi yang nekat mempertaruhkan hidupnya dengan menyebrangi laut Mediterania yang ganas membuat PBB menilai begitu pentinnya pembicaraan damai di Libya.
(esn)