Jika Perjanjian Damai Gagal, Ukraina Ingin Barat Suplai Senjata
Rabu, 16 September 2015 - 14:28 WIB
Jika Perjanjian Damai Gagal, Ukraina Ingin Barat Suplai Senjata
A
A
A
KIEV - Pejabat Ukraina untuk NATO, Yehor Bozhok mengatakan, perbandingan kekuatan militer antara Ukarina dengan Rusia tak ubahnya dua jenis planet yang berbeda. Dan, negaranya membutuhkan bantuan militer untuk mengatasi perbedaan ini.
Karenanya, ia mendesak negara-negara Barat untuk membangun kembali kontrol atas perbatasan negara itu dengan Rusia di bagian timur. Ia juga meminta Barat untuk memberikan persenjataan defensif yang mematikan jika nantinya perjanjian damai Minsk dengan Rusia gagal.
Bozhok menyatakan, menyediakan senjata mematikan untuk Ukraina adalah salah satu hal yang paling sensitif bagi pemerintah barat. Pasalnya, Rusia telah memperingatkan, jika hal ini dilakukan maka akan menimbulkan eskalisi konflik yang serius dan menimbulkan ancaman bagi keamanan. Meski begitu, tidak ada alternatif lain untuk menghadapi Rusia.
"Jika senjata berat ditarik ke perbatasan timur di bawah kesepakatan Minsk, maka akan baik-baik saja. Tetapi, jika situasi meningkat, maka kami akan mengangkat isu persenjataan defensif canggih kembali bersama mitra Barat kami," kata Bozhok seperti dilansir Reuters, Rabu (16/9/2015).
"Kami tidak menyerang siapa pun, tetapi kami ingin melindungi diri kami sendiri," tambahnya. Bozhok menyatakan, Ukraina saat ini membutuhkan senjata anti arliteri, anti mortir, dan senjata anti tank dan daftar tersebut telah ada di atas mejanya.
Karenanya, ia mendesak negara-negara Barat untuk membangun kembali kontrol atas perbatasan negara itu dengan Rusia di bagian timur. Ia juga meminta Barat untuk memberikan persenjataan defensif yang mematikan jika nantinya perjanjian damai Minsk dengan Rusia gagal.
Bozhok menyatakan, menyediakan senjata mematikan untuk Ukraina adalah salah satu hal yang paling sensitif bagi pemerintah barat. Pasalnya, Rusia telah memperingatkan, jika hal ini dilakukan maka akan menimbulkan eskalisi konflik yang serius dan menimbulkan ancaman bagi keamanan. Meski begitu, tidak ada alternatif lain untuk menghadapi Rusia.
"Jika senjata berat ditarik ke perbatasan timur di bawah kesepakatan Minsk, maka akan baik-baik saja. Tetapi, jika situasi meningkat, maka kami akan mengangkat isu persenjataan defensif canggih kembali bersama mitra Barat kami," kata Bozhok seperti dilansir Reuters, Rabu (16/9/2015).
"Kami tidak menyerang siapa pun, tetapi kami ingin melindungi diri kami sendiri," tambahnya. Bozhok menyatakan, Ukraina saat ini membutuhkan senjata anti arliteri, anti mortir, dan senjata anti tank dan daftar tersebut telah ada di atas mejanya.
(esn)