Ahli Virus China Melarikan diri ke AS, Klaim Beijing Menutup-nutupi Corona

Minggu, 12 Juli 2020 - 20:03 WIB
loading...
A A A
Yan mengatakan kepada Fox News bahwa dia memohon suaminya untuk pergi bersamanya, dan mengatakan pasangannya, seorang ilmuwan terkemuka, pada awalnya mendukung penelitiannya, tiba-tiba dia berubah pikiran.

"Dia benar-benar kesal," katanya. "Dia menyalahkan saya, mencoba menghancurkan kepercayaan diri saya...Dia bilang 'mereka akan membunuh kita semua'," ujar Yan.

Terkejut dan sakit hati, Yan membuat keputusan untuk pergi tanpa sang suami.

Dia mendapatkan tiketnya ke AS pada 27 April. Dia akan terbang keesokan harinya.

Ketika dia mendarat di Bandara Internasional Los Angeles setelah 13 jam perjalanannya, dia dihentikan oleh petugas bea cukai.

Ketakutan mencengkeramnya dan Yan tidak tahu apakah dia akan berakhir di penjara atau dikirim kembali ke China.

"Saya harus mengatakan yang sebenarnya kepada mereka," katanya. "Saya melakukan hal yang benar. Jadi saya mengatakan kepada mereka bahwa 'jangan biarkan saya kembali ke China. Sayalah yang datang untuk mengatakan kebenaran di sini dari Covid-19...Dan tolong lindungi saya. Jika tidak, pemerintah China akan membunuh saya. "

FBI diduga dipanggil untuk menyelidiki klaim Yan. Yan mengklaim bahwa para agen FBI mewawancarainya berjam-jam, mengambil ponselnya sebagai bukti dan membiarkannya melanjutkan ke tujuannya.

FBI mengatakan kepada Fox News bahwa mereka tidak dapat mengonfirmasi atau menyangkal klaim Yan. Namun, Fox News ditunjukkan bukti penerimaan yang muncul untuk mengonfirmasi interaksi.

Ketika Yan berusaha menemukan pijakannya di Amerika, dia mengatakan teman-teman dan keluarganya di rumah sedang dimasukkan melalui wringer.

Yan mengklaim pemerintah "mengeroyok" kampung halamannya di Qingdao dan para agen merobek apartemen kecilnya dan menanyai orangtuanya. Ketika dia menghubungi ibu dan ayahnya, mereka memohon padanya untuk pulang, mengatakan kepadanya bahwa dia tidak tahu apa yang dia bicarakan dan memintanya untuk menyerah.

Universitas Hong Kong men-take down halaman datanya dan tampaknya mencabut akses ke portal dan email online-nya, terlepas dari kenyataan bahwa dia mengatakan sedang cuti tahunan yang disetujui. Dalam sebuah pernyataan kepada Fox News, seorang juru bicara universitas mengatakan Yan saat ini bukan seorang karyawan.

"Dr Li-Meng Yan tidak lagi menjadi anggota staf universitas," bunyi pernyataan itu. "Karena menghormati karyawan kami yang sekarang dan mantan, kami tidak mengungkapkan informasi pribadi tentang dia. Pemahaman Anda sangat diapresiasi."

Kedutaan Besar China di Amerika Serikat mengatakan kepada Fox News bahwa mereka tidak tahu siapa Yan dan menegaskan China telah menangani pandemi secara heroik.

"Kami belum pernah mendengar tentang orang ini," bunyi pernyataan yang di-email tersebut. "Pemerintah China telah merespons Covid-19 dengan cepat dan efektif sejak wabahnya. Semua upayanya telah didokumentasikan dengan jelas dalam buku putih 'Fighting COVID-19: China in Action' dengan transparansi penuh. Fakta menunjukkan semuanya."

WHO juga terus membantah melakukan kesalahan selama hari-hari awal virus. Lengan medis Perserikatan Bangsa-Bangsa ini telah "diambil" untuk tugas baru-baru ini oleh para ilmuwan yang menantang pandangan resminya tentang bagaimana virus menyebar. WHO juga telah mengubah timeline virus corona di situs webnya, yang sekarang mengatakan mereka mendapat informasi tentang virus dari para ilmuwan WHO dan bukan pihak berwenang Beijing—seperti yang telah diklaim selama lebih dari enam bulan.

Kementerian Luar Negeri China dan para ilmuwan yang dituduh Yan telah dihubungi Fox News untuk dimintai komentar. Namun, sejauh ini belum merespons.

Yan mengatakan dia akan terus berbicara—tetapi tahu ada target di punggungnya.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menteri Perang AS Kecam...
Menteri Perang AS Kecam Negara-negara NATO: Menumpang Gratis, tapi Tolak Bantu Melawan Iran!
AS atau Iran yang Menang...
AS atau Iran yang Menang Perang? Ini Jawaban Mengejutkan 10 Pakar Militer
Senator Amerika Geram...
Senator Amerika Geram dengan Kesepakatan AS dan Iran: 'Juju Saja, Kita Menyerah'
Militer AS Telah Cabut...
Militer AS Telah Cabut Blokade Iran atas Perintah Trump
Mojtaba Khamenei: Iran...
Mojtaba Khamenei: Iran dan AS Capai Kesepakatan karena Trump Putus Asa
AS dan Iran Berdamai,...
AS dan Iran Berdamai, Wapres Amerika Berbalik Kecam Israel
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
CDC: Wabah Ebola di...
CDC: Wabah Ebola di RD Kongo Bisa Menjadi yang Terburuk dalam Sejarah
Ini Alasan Trump Ingin...
Ini Alasan Trump Ingin Buru-Buru Teken Perjanjian Damai dengan Iran
Rekomendasi
Rupiah Keok Meski BI...
Rupiah Keok Meski BI Rate Naik Lagi, Dolar AS Tembus Rp17.848
7.000 Massa Gelar Unjuk...
7.000 Massa Gelar Unjuk Rasa Dukung Pemerintahan Prabowo di Silang Monas
Richard Lee Buka Suara...
Richard Lee Buka Suara usai Jadi Tersangka, Siap Bongkar Fakta di Persidangan
Berita Terkini
Ungkap Kekerasan Obstetri...
Ungkap Kekerasan Obstetri di RS, Dokter Wanita Ini Ditangkap atas Tuduhan Sebar Hoaks
Menteri Perang AS Kecam...
Menteri Perang AS Kecam Negara-negara NATO: Menumpang Gratis, tapi Tolak Bantu Melawan Iran!
AS atau Iran yang Menang...
AS atau Iran yang Menang Perang? Ini Jawaban Mengejutkan 10 Pakar Militer
Senator Amerika Geram...
Senator Amerika Geram dengan Kesepakatan AS dan Iran: 'Juju Saja, Kita Menyerah'
Militer AS Telah Cabut...
Militer AS Telah Cabut Blokade Iran atas Perintah Trump
Serangan Drone Terbesar...
Serangan Drone Terbesar Ukraina Membakar Kilang Minyak Moskow, Rusia Janji Balas Dendam
Infografis
J-36 China Diklaim Bisa...
J-36 China Diklaim Bisa Pecundangi Pesawat Pengebom B-21 AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved