alexametrics

Pakar Sebut Ambisi Erdogan agar Turki Punya Bom Nuklir Serius

loading...
Pakar Sebut Ambisi Erdogan agar Turki Punya Bom Nuklir Serius
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Foto/REUTERS
A+ A-
WASHINGTON - Pakar non-proliferasi John Spacapan mengatakan Presiden Recep Tayyip Erdogan serius mengejar ambisinya agar Turki memiliki senjata atau bom nuklir sendiri.

Spacapan yang merupakan fellow di Non-proliferation Policy Education Center di Washington DC menulis dalam sebuah artikel yang diterbitkan di Bulletin of the Atomic Scientists bahwa meskipun Turki menjadi pihak dalam Perjanjian tentang Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT), ada tiga tanda peringatan yang menunjukkan bahwa Ankara berupaya memperoleh senjata nuklir.

Pertama, Erdogan secara eksplisit mengatakan tidak dapat diterima bahwa Turki tidak dapat memiliki senjata nuklir sendiri. Pada September 2019, ia memberi tahu anggota partainya, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP); "Beberapa negara memiliki rudal dengan hulu ledak nuklir, bukan satu atau dua. Tapi (mereka memberi tahu kami), kami tidak bisa memilikinya. Ini, saya tidak bisa menerima."

"Kedua, Erdogan sering bombastis, tetapi pada energi nuklir dia mengambil tindakan. Di sepanjang garis pantai Mediterania Turki, Rusia membangun empat reaktor pembangkit nuklir besar di Fasilitas Nuklir Akkuyu," kata Spacapan.



Ankara mengatakan bahwa tujuan dari reaktor itu adalah untuk mengurangi ketergantungan Turki pada impor gas guna memenuhi permintaan listrik. Namun, Spacapan mengatakan bahwa itu tidak benar bagi Turki.

“Fasilitas Akkuyu tidak membuat Turki kurang bergantung pada kekuatan asing. Rusia akan memiliki dan mengoperasikan fasilitas itu, dan sudah pasti bahwa Moskow menggunakan semua aset energinya—bukan hanya bahan bakar fosil—untuk paksaan," katanya. (Baca: Erdogan Tak Terima Turki Dilarang untuk Memiliki Senjata Nuklir)



"Fasilitas nuklir adalah investasi buruk karena Rusia hanya akan membiayai reaktor pertama di fasilitas dan pemerintah Turki harus mengamankan pembiayaan untuk tiga reaktor lainnya," ujarnya.

Spacapan juga menambahkan bahwa dari sudut pandang pasar, gas alam dan energi terbarukan mengalahkan nuklir, dan membawa kesepakatan pengeboran gas alam yang disepakati Turki dengan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya tahun lalu.

“Yang mengkhawatirkan adalah Turki dapat mengeksploitasi pembangkit nuklir sebagai kedok untuk mendapatkan teknologi dan perangkat keras yang terkait dengan bom. Transfer teknologi sudah terjadi. Sejak proyek Akkuyu dimulai, mahasiswa teknik Turki telah menjadi kelompok nasional terbesar kedua yang mempelajari ilmu nuklir di Rusia, tempat ratusan ilmuwan Iran dan Korea Utara datang sebelum mereka," paparnya, seperti dikutip Al Arabiya, Sabtu (11/7/2020).

Ketiga, lanjut Spacapan, Ankara berkolaborasi secara militer dengan Pakistan, sebuah negara yang memiliki senjata nuklir yang tidak jauh dari perbatasan Turki. Spacapan mencatat bahwa untuk sementara hubungan Turki-Pakistan hangat tapi dangkal. Menurutnya, Erdogan mempererat ikatan sejak 2018 dan memasok militer Pakistan dengan senjata canggih.

"Kekuatan Erdogan saat ini di Islamabad melebihi kekuatan Korea Utara, Iran, dan Libya, yang semuanya menerima bantuan bom nuklir dari Pakistan," katanya.

"Karena pembangkit nuklir menyediakan banyak teknologi untuk pembuatan bom, dan dalam kasus Turki tidak masuk akal secara ekonomi, Amerika Serikat harus berusaha menjauhkan Turki dari energi nuklir," imbuh pakar non-proliferasi tersebut.
(min)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak