Xi Jinping: Asia Tidak Boleh Jadi Arena Kontes Kekuatan Besar

Jum'at, 18 November 2022 - 05:55 WIB
loading...
Xi Jinping: Asia Tidak...
Xi Jinping: Asia Tidak Boleh Jadi Arena Kontes Kekuatan Besar. FOTO/Reuters
A A A
BANGKOK - Asia-Pasifik bukanlah halaman belakang siapa pun dan tidak boleh menjadi arena persaingan kekuatan besar. Hal itu diungkapkan Presiden China Xi Jinping , Kamis (17/11/2022). Ia juga memperingatkan terhadap ketegangan Perang Dingin di kawasan yang merupakan titik nyala persaingan antara Beijing dan Washington.

Pernyataan Xi menjelang KTT Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Bangkok adalah referensi nyata untuk upaya Amerika Serikat dengan sekutu dan mitra regional untuk menumpulkan apa yang mereka lihat sebagai pengaruh ekonomi dan militer China yang semakin memaksa.

Baca: Bocorkan Isi Pembicaraan, Xi Jinping Semprot PM Kanada

"Tidak ada upaya untuk mengobarkan perang dingin baru yang akan diizinkan oleh orang-orang atau oleh zaman kita," kata Xi dalam sambutan tertulis yang disiapkan untuk acara bisnis yang terkait dengan KTT tersebut, seperti dikutip dari Reuters.

"Kita harus mengikuti jalan keterbukaan dan inklusivitas," katanya dalam pidato yang diberikan oleh penyelenggara. Ia juga menambahkan bahwa kawasan itu tidak boleh berubah menjadi "arena kontes kekuatan besar".

“Unilateralisme dan proteksionisme harus ditolak oleh semua; segala upaya untuk mempolitisasi dan mempersenjatai hubungan ekonomi dan perdagangan juga harus ditolak oleh semua,” lanjut Xi.

Baca: Presiden Jokowi dan Xi Jinping Gelar Pertemuan Bilateral, Bahas Kerja Sama Strategis

Hubungan antara dua ekonomi terbesar dunia telah menjadi tegang dalam beberapa tahun terakhir karena masalah-masalah seperti tarif, Taiwan, kekayaan intelektual, penghapusan otonomi Hong Kong dan perselisihan atas Laut Cina Selatan, antara lain.

Dalam sebuah langkah yang dapat dilihat oleh Beijing sebagai teguran, seorang pejabat senior pemerintah mengatakan Wakil Presiden AS Kamala Harris pada Selasa akan mengunjungi pulau-pulau Palawan di Filipina di tepi Laut China Selatan yang disengketakan.

Perjalanan itu akan membuat Harris menjadi pejabat tertinggi AS yang mengunjungi rantai pulau yang berdekatan dengan Kepulauan Spratly. China telah mengeruk dasar laut untuk membangun pelabuhan dan landasan udara di Spratly, yang sebagiannya juga diklaim oleh Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam.

Baca: Usai Bertemu Xi Jinping, Biden Tegaskan Tak Ada Invasi China ke Taiwan

Xi mengatakan kepada mitranya dari Filipina Ferdinand Marcos Jr pada pertemuan di Bangkok bahwa kekuatan hubungan bilateral bergantung pada hubungan yang stabil di laut, kata penyiar CCTV negara China, mengacu pada perselisihan atas wilayah Laut China Selatan.

Harris akan mengunjungi Palawan setelah menghadiri pertemuan APEC, yang mengikuti serangkaian KTT regional yang sejauh ini didominasi oleh ketegangan geopolitik atas perang di Ukraina.

Pada pertemuan G20 di Bali, negara-negara dengan suara bulat mengadopsi deklarasi yang mengatakan sebagian besar anggota mengutuk perang Ukraina, tetapi juga mengakui beberapa negara melihat konflik secara berbeda. Tuan rumah Indonesia mengatakan perang adalah masalah yang paling diperdebatkan.

(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Viral, Robot China Ini...
Viral, Robot China Ini Mengemis di Jalan untuk Bayar Listrik
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Menkeu Purbaya Raih...
Menkeu Purbaya Raih Gelar Profesor Kehormatan Bidang Ekonomi dari Nankai University
Suami Divonis 4 Tahun...
Suami Divonis 4 Tahun Penjara karena Paksa Istri Berhubungan Seks dengan 120 Pria
50 Senator AS Dukung...
50 Senator AS Dukung Resolusi Anti-Perang Iran, Trump Kehilangan Dukungan
Rekomendasi
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Jaga Masa Depan, Pureco...
Jaga Masa Depan, Pureco dan LindungiHutan Tanam 300 Mangrove di Wonorejo
Francesco Bagnaia Tinggalkan...
Francesco Bagnaia Tinggalkan Ducati di Akhir MotoGP 2026
Berita Terkini
Rusia Klaim Senjata...
Rusia Klaim Senjata Nuklir Jadi Satu-satunya Jaminan pada Perang Global, Ini 3 Alasannya
Bill Gates Ngaku Jadi...
Bill Gates Ngaku Jadi Korban Epstein, tapi Fakta Berbicara Lain
10 Tahun Brexit, Mayoritas...
10 Tahun Brexit, Mayoritas Rakyat Inggris Menyesal!
Israel Intervensi Pilpres...
Israel Intervensi Pilpres Kolombia, Ini 4 Faktanya
Kandidat Kuat PM Inggris...
Kandidat Kuat PM Inggris Andy Burnham Dinilai Tidak Berpihak ke Palestina
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
Infografis
Mahkamah Konstitusi:...
Mahkamah Konstitusi: Foto Kampanye Tidak Boleh Dipoles Pakai AI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved