Der Spiegel Ungkap Jerman Tidak Mempercayai Zelensky

Senin, 06 Juni 2022 - 18:38 WIB
loading...
Der Spiegel Ungkap Jerman...
Kanselir Jerman Olaf Scholz dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pergi setelah konferensi pers di Kiev, Ukraina, 14 Februari 2022. Foto/REUTERS/Valentyn Ogirenko
A A A
BERLIN - Jerman ragu-ragu dalam mengirim tank ke Ukraina untuk melawan pasukan Rusia karena “alasan historis.” Pernyataan itu diungkapkan sumber pemerintah Jerman kepada majalah Der Spiegel.

Menurut pejabat yang tidak disebutkan namanya, ada kekhawatiran dalam pemerintahan Kanselir Jerman Olaf Scholz bahwa Kiev bisa menjadi terlalu percaya diri jika mencapai serangkaian kemenangan, dan mungkin meluncurkan serangan ke wilayah Rusia.

“Perkembangan seperti itu akan berarti bahwa tank-tank Jerman akan sekali lagi berada di dalam Rusia,” tulis Der Spiegel pada Jumat, dalam referensi yang jelas tentang invasi Nazi Jerman ke Uni Soviet pada tahun 1941.

Baca juga: Ini Alasan Kendaraan Lapis Baja Disebut Tank, Sebab...

Ketakutan bahwa persenjataan Jerman dapat dikirim ke Rusia itu menyoroti ketidakpercayaan tertentu di Berlin terhadap Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Baca juga: Serangan Udara Rusia Hancurkan Tank-tank yang Dipasok Asing di Kiev

“Dan itu juga merupakan alasan mengapa industri pertahanan di Jerman belum diizinkan untuk mengirimkan tank tempur,” klaim laporan itu, dilansir RT.com pada Senin (6/6/2022).

Baca juga: Intel Jerman Yakin Rusia Segera Rebut Seluruh Donbass dalam 5 Pekan

Sejauh ini, tank hanya dipasok ke pemerintah Kiev oleh Polandia dan Republik Ceko, bukan eksportir senjata utama seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Prancis.

“Meskipun embargo tank tidak pernah dibahas di tingkat NATO, kesepakatan tidak resmi tentang masalah ini telah dicapai antara Washington, London dan Paris, dan Jerman tidak akan pernah menjadi negara pertama yang mengirimkan tank ke Ukraina karena alasan historis,” papar sumber tersebut.

Laporan Der Spiegel mengutip para politisi dan analis yang menuduh Scholz terlalu lambat membantu Ukraina dengan senjata untuk melawan Rusia.

Penulis laporan juga mengutip desas-desus bahwa kanselir Jerman telah dipaksa ke dalam setiap konsesi yang dia buat sejauh ini atas bantuan militer, tetapi kemudian masih menunda pengiriman.

Sejak akhir Februari, ketika serangan militer Rusia di Ukraina dimulai, Berlin hanya memasok senjata ringan ke Kiev, dan jumlah pengiriman telah berkurang seiring waktu.

Welt am Sonntag melaporkan hanya dua pengiriman Jerman yang tiba di Ukraina antara 30 Maret dan 26 Mei.

Pengiriman senjata berat, termasuk 30 kendaraan antipesawat Gepard, tujuh howitzer self-propelled Panzerhaubitze 2000 dan empat sistem roket multi-peluncur MARS II, telah diumumkan Berlin, tetapi belum terwujud.

Scholz mengklaim pekan lalu bahwa Jerman juga akan mengirim salah satu senjata paling modernnya yakni sistem pertahanan udara IRIS-T kepada pemerintah Kiev.

Namun, Kementerian Pertahanan Jerman mengatakan tidak memiliki stok perangkat keras yang disebutkan , dan pertanyaan itu harus ditujukan kepada produsen.

Menurut laporan media, Ukraina hanya bisa berharap mendapatkan sistem itu pada November.

“Itu mungkin sudah terlambat, karena penilaian yang bocor oleh intelijen Jerman menunjukkan pasukan Rusia dapat menguasai semua wilayah Donbas pada bulan Agustus,” ungkap Der Spiegel.

Rusia menyerang negara Ukraina pada akhir Februari, menyusul kegagalan Kiev mengimplementasikan persyaratan perjanjian Minsk, yang pertama kali ditandatangani pada 2014, dan pengakuan akhirnya Moskow atas republik Donbass, Donetsk dan Lugansk.

Protokol yang diperantarai Jerman dan Prancis dirancang untuk memberikan status khusus kepada daerah-daerah yang memisahkan diri di dalam negara Ukraina.

Kremlin sejak itu menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer NATO yang dipimpin AS.

Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan membantah klaim bahwa pihaknya berencana merebut kembali kedua republik dengan paksa.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Inggris Cegat dan Rebut...
Inggris Cegat dan Rebut Kapal Tanker Armada Bayangan Rusia, Ini Respons Kremlin
Misteri Freya, Model...
Misteri Freya, Model Erotis Ukraina yang Diduga Ledakkan Pipa Nord Stream Rusia
Perseteruan Memanas,...
Perseteruan Memanas, Jet Tempur Swedia Cegat Pesawat Militer Rusia
Jenderal Jerman Duga...
Jenderal Jerman Duga Rusia Bakal Kerahkan Senjata Nuklir ke Luar Angkasa, Bisa Picu Kiamat Satelit
Swedia: Konflik Rusia-NATO...
Swedia: Konflik Rusia-NATO Bisa Pecah dalam Waktu Dekat
2 Pemain Sepak Bola...
2 Pemain Sepak Bola Brasil Masuk Daftar Pembunuhan oleh Situs Ukraina
Prabowo Sebut Indonesia-Jerman...
Prabowo Sebut Indonesia-Jerman Sepakat Konflik Harus Diselesaikan lewat Perundingan
China Tangkap Warga...
China Tangkap Warga Negara AS Atas Tuduhan Spionase
Detik-Detik 2 Helikopter...
Detik-Detik 2 Helikopter Tabrakan dan Tewaskan Penyanyi Oliver Tree, Menegangkan!
Rekomendasi
Aksi Demo di Gedung...
Aksi Demo di Gedung DPR, Puluhan Mahasiswa Terlibat Aksi Dorong dengan Polisi
Aksi Bersih dan Penghijauan...
Aksi Bersih dan Penghijauan dalam Memperingati HLH 2026, NHM Ajak Masyarakat Jaga Lingkungan Bersama
Kena PHK Dapat Uang...
Kena PHK Dapat Uang Tunai 60% dari Gaji selama 6 Bulan, Ini Syaratnya
Berita Terkini
Serang Lebanon, Israel:...
Serang Lebanon, Israel: Kami Tak Terikat dalam Perjanjian Damai Iran dan AS
Analis Israel: Kesepakatan...
Analis Israel: Kesepakatan AS-Iran Adalah Kemenangan Besar bagi Teheran
14 Poin Perdamaian Iran...
14 Poin Perdamaian Iran dan AS, Ada Dana Rekonstruksi Senilai Rp5.316 Triliun yang Dibayar Negara-negara Arab
4 Respons Cepat Akibat...
4 Respons Cepat Akibat Perang Iran dan AS Berakhir, Pasar Saham Bergairah dan Harga Minyak Turun
Trump Marahi Netanyahu:...
Trump Marahi Netanyahu: 'Mengapa Harus Lakukan Serangan Sialan Itu?'
Inggris Cegat dan Rebut...
Inggris Cegat dan Rebut Kapal Tanker Armada Bayangan Rusia, Ini Respons Kremlin
Infografis
Keterbatasan Strategis...
Keterbatasan Strategis USS Abraham Lincoln: Si ’Benteng Terapung’ yang Tidak Kebal
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved